Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi melantik jajaran pengurus Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) untuk masa jabatan 2026-2029. Prosesi pelantikan yang berlangsung di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat, 3 Juli 2026, ini menjadi momentum bagi pemerintah provinsi untuk mengakselerasi perbaikan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan efisien bagi seluruh warga ibu kota.
Dalam arahannya, Pramono menyoroti capaian konektivitas transportasi umum di Jakarta yang telah menyentuh angka 93 persen. Namun, ia mengakui bahwa tantangan utama terletak pada minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat penggunaan transportasi publik secara rutin baru mencapai kisaran 27 hingga 28 persen, sebuah angka yang masih perlu ditingkatkan secara signifikan melalui berbagai kebijakan strategis.
Meski demikian, Pramono tetap optimistis dengan posisi Jakarta di kancah global. Berdasarkan penilaian lembaga internasional yang kredibel, sistem transportasi Jakarta kini menempati peringkat kedua terbaik di Asia Tenggara, tepat di bawah Singapura. Secara regional Asia, Jakarta berada di urutan kedelapan, sementara di skala global, ibu kota Indonesia ini menempati posisi ketujuh belas, sebuah pencapaian yang membuktikan efektivitas pembangunan infrastruktur selama ini.
Permasalahan klasik kemacetan di Jakarta, menurut Pramono, dipicu oleh mobilitas tinggi dari sekitar 3,5 hingga 4 juta pekerja komuter yang masuk ke pusat kota pada pagi hari dan kembali ke daerah penyangga pada malam hari. Untuk mengatasi ketergantungan pada kendaraan pribadi, Pemprov DKI kini tengah menggalakkan program Trans Jabodetabek. Program ini menyediakan rute-rute strategis seperti Blok M menuju Alam Sutera, PIK 2, Ancol, hingga Bogor, serta koridor Cawang menuju Karawang dan Bekasi.
Lebih lanjut, Pramono memaparkan rencana ambisius pemerintah dalam waktu dekat, yakni peresmian LRT rute Velodrome hingga Manggarai pada Agustus mendatang. Jalur ini nantinya akan langsung tersambung hingga ke Dukuh Atas untuk mempermudah aksesibilitas masyarakat. Integrasi antar moda terus menjadi fokus utama guna menciptakan sistem transportasi yang seamless dan memudahkan mobilitas warga di tengah kesibukan kota metropolitan.
Sebagai pelengkap integrasi sistem, Pemerintah DKI Jakarta juga tengah membangun pedestrian deck di kawasan Dukuh Atas. Infrastruktur ini dirancang untuk menghubungkan enam moda transportasi utama, yakni LRT, MRT, Transjakarta, KRL, dan kereta bandara. Melalui penyediaan fasilitas integrasi yang mumpuni, Pramono berharap konektivitas transportasi di Jakarta akan semakin optimal dan mampu mengurai kepadatan lalu lintas secara berkelanjutan.