Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan Pemerintah Kota Jakarta Timur untuk segera menata kawasan Pasar Kramat Jati. Instruksi itu disampaikan Selasa di Jakarta International Velodrome, sehari setelah kecelakaan maut yang menewaskan Hammamshidqi Hammamut, pelajar berusia 18 tahun.
Kecelakaan terjadi Senin (17/8) pukul 06.00 WIB di Jalan Raya Bogor arah selatan, tepat di depan Rumah Makan Kuring. Korban mengendarai Honda Beat nomor polisi B 3122 SDL dari utara menuju selatan. Sesampainya di titik tersebut, ban motor tergelincir karena kondisi asfalat basah dan licin akibat air limbah aktivitas pedagang ikan di sekitar pasar.
Motor terpeleset ke kanan dan korban terjatuh ke badan jalan. Saat yang bersamaan, dump truck Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta nomor polisi B 9728 TOQ melintas dan menginjak kepala hingga leher korban dengan roda belakang kirinya. Hammamshidqi meninggal di tempat dan dievakuasi ke RS Bhayangkara TK I Pusdokkes Polri Jakarta Timur.
Pramono mengungkapkan duka mendalam atas meninggalnya pelajar itu. "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya," ucapnya. Gubernur menilai peristiwa ini sebagai perhatian serius karena menyentuh keselamatan pengguna jalan. Ia menuntut perbaikan segera agar tragedi serupa tidak terulang.
Bukan hanya penataan fisik, Pramono meminta Satpol PP dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta turut campur tangan. Keduanya diminta menjaga ketertiban dan memastikan jalan aman bagi semua pengguna. Menurutnya, potensi penyebab kecelakaan harus dicegah sejak dini melalui kerja sama lintas instansi yang terpadu.
Kondisi jalan licin di kawasan pasar tradisional memang jadi masalah kronis. Air limbah ikan yang dibuang sembarangan ke badan jalan menciptakan lumpur licin berbahaya, terutama untuk pengendara roda dua. Pedagang yang menjual di pinggir jalan juga menyempitkan ruang gerak kendaraan, memaksa motor berlari dekat dengan aliran lalu lintas berat.
Data Kepolisian menunjukkan kecelakaan lalu lintas di DKI Jakarta tetap tinggi. Sepanjang 2024, Satlantas Polrestabes Metro mencatat ribuan kasus dengan ratusan korban jiwa. Faktor kondisi jalan dan ketertiban pedagang kaki lima sering jadi penyebab tersembunyi di balik angka kecelakaan roda dua.
Ahli transportasi Universitas Indonesia, Dr. Bambang Susantono, menilai penataan pasar tidak cukup hanya mengusir pedagang. "Harus ada relokasi yang adil, fasilitas pengolahan limbah yang memadai, dan desain jalan yang memisahkan aliran kendaraan berat dari roda dua," ucapnya saat dihubungi Rabu (18/8). Tanpa pendekatan komprehensif, pedagang akan kembali dan masalah berulang.
Pemkot Jakarta Timur sebelumnya sudah memiliki program penataan Pasar Induk Kramat Jati, tapi realisasi di lapangan lambat. Tumpang tindih kewenangan antara Pemprov, Pemkot, dan pengelola pasar menciptakan kebuntuan. Instruksi Pramono kali ini diharapkan jadi momentum untuk memutus kebuntuan birokrasi itu.
Warga sekitar Pasar Kramat Jati mengakui ketidaknyamanan berlangsung lama. "Setiap pagi jalan basah dan bau ikan. Motor sering ngeyel, apalagi hujan," kata Siti Rahayu (42), penjual nasi uduk di pinggir jalan. Ia berharap penataan ini tidak hanya sebentar, tapi benar-benar mengubah tata kelola pasar secara permanen.
Langkah selanjutnya, Satpol PP dan Dishub akan melakukan operasi gabungan mulai hari ini. Fokus awal: pembersihan badan jalan dari lumpur ikan, penertiban pedagang liar, dan pemasangan tanda peringatan bahaya. Jangka menengah, Pemprov mendorong revitalisasi pasar dengan sistem drainase dan pengelolaan limbah modern.
Kematian Hammamshidqi jadi pengingat keras bahwa ketertiban pasar bukan soal estetika, tapi nyawa. Jika penataan ini berjalan serius dan berkelanjutan, kawasan Kramat Jati bisa jadi teladan tata kelola pasar urban yang aman. Jika tidak, korban berikutnya hanya soal waktu.