Pemerintah Prancis melalui penyedia energi utama, EDF, secara resmi menghentikan operasional dua reaktor nuklir pada Kamis (25/6/2026). Langkah drastis ini diambil sebagai tindakan pencegahan lingkungan di tengah gelombang panas yang memecahkan rekor suhu di seluruh Eropa. Penutupan sementara ini dilakukan untuk menghindari pembuangan air panas ke sungai-sungai yang saat ini sudah mengalami peningkatan suhu signifikan.
Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir sangat bergantung pada air sungai untuk mendinginkan reaktor mereka. Air yang diserap dari sungai kemudian dikembalikan lagi ke aliran sungai setelah digunakan sebagai pendingin. Proses ini menyebabkan suhu air yang dibuang menjadi lebih hangat dibandingkan suhu alami sungai, yang berpotensi membahayakan ekosistem akuatik jika dilakukan saat suhu air sungai sudah berada di titik kritis akibat cuaca panas.
Dua reaktor yang terdampak secara langsung berada di pembangkit listrik Nogent-sur-Seine yang terletak di Sungai Seine, Prancis Utara, serta di fasilitas Bugey yang berlokasi di Sungai Rhone, dekat kota Lyon. Sebelumnya, pihak pengelola juga telah menurunkan kapasitas produksi di reaktor lain di Nogent-sur-Seine untuk membatasi kenaikan suhu air limbah demi menjaga kelangsungan hidup flora dan fauna di sekitar aliran sungai tersebut.
Selain dua lokasi tersebut, EDF juga telah mengambil langkah serupa di pembangkit listrik Golfech yang terletak di barat daya Prancis, di tepi Sungai Garonne. Sejak hari Senin, satu reaktor di sana telah dihentikan operasionalnya, sementara beberapa situs pembangkit lainnya terpaksa melakukan pengurangan output produksi. Langkah ini merupakan bagian dari kewajiban lingkungan yang ketat bagi 57 reaktor nuklir di seluruh Prancis.
Fenomena gelombang panas mematikan yang melanda Eropa memaksa perusahaan energi untuk menyeimbangkan antara kebutuhan listrik nasional dan standar perlindungan lingkungan. Mengingat tenaga nuklir menyumbang hampir 70 persen dari total pasokan listrik Prancis, pengurangan kapasitas produksi menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas energi nasional selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
Meskipun terdapat pengurangan kapasitas produksi, operator jaringan listrik Prancis, RTE, menegaskan bahwa pasokan listrik nasional tetap aman. Mereka menyatakan bahwa Prancis masih memiliki kapasitas pembangkitan yang cukup untuk memenuhi permintaan listrik domestik, bahkan dalam kondisi adanya pemadaman di beberapa fasilitas produksi tertentu. Pemerintah terus memantau situasi cuaca untuk menentukan langkah operasional selanjutnya bagi fasilitas energi strategis tersebut.