Sabtu dini hari, Prancis dan Inggris akan bertanding dalam laga perebutan medali perunggu Piala Dunia 2026. Kedua kesebelasan datang dengan kelelahan fisik dan mental setelah tersingkir di semifinal—Prancis dihancurkan Spanyol 2‑0, sementara Inggris kalah tipis dari Argentina 2‑1. Bagi sebagian besar pemain, pertandingan ini terasa seperti beban tambahan setelah gagal mencapai final yang mereka impikan.
Pertandingan di Miami sekaligus menjadi panggung perpisahan Didier Deschamps dari tim nasional. Dalam 14 tahun kepemimpinannya, pelatih berusia 57 tahun itu telah mengantarkan Prancis meraih gelar juara dunia 2018, runner‑up 2022, serta tiga kali lolos hingga semifinal. Para pemain menyatakan keinginan mereka untuk menutup karier Deschamps dengan kemenangan, meskipun mereka juga mengakui bahwa laga ini bukanlah target utama mereka.
Motivasi terbesar Prancis mungkin datang dari Kylian Mbappé. Penyerang 27 tahun itu telah mengoleksi delapan gol pada turnamen ini dan 20 gol secara keseluruhan, menempatkan dirinya bersaing untuk meraih Golden Boot. Lionel Messi masih memimpin klasemen dengan raihan delapan gol dan empat assist, yang menjadi faktor penentu jika jumlah gol sama. Mbappé juga berambisi memecahkan rekor gol sepanjang masa Messi yang kini mencapai 21 gol.
Selain prestise, ada imbalan materi yang tidak bisa diabaikan. Tim yang finis ketiga menerima hadiah uang sebesar $29 juta, sementara juara keempat mendapat $27 juta. Selisih $2 juta ini bisa menjadi pendorong ekstra bagi pemain yang ingin memastikan masa depan finansial mereka, terutama bagi pemain yang kurang mendapat perhatian dari klub.
Tuchel mengungkapkan bahwa sebagian besar pemainnya merasa kecewa harus bermain lagi. “Tidak ada pemain Prancis, tidak ada yang ingin memainkan pertandingan ini. Mereka ingin bermain di final. Kami sudah memberikan segalanya untuk mencapai final,” kata pelatih Inggris tersebut. Meski demikian, ia mungkin akan memanfaatkan laga ini untuk memberikan menit bermain kepada pemain cadangan yang jarang tampil selama babak gugur.
Situasi serupa juga dialami Inggris. Setelah hampir mencapai final untuk pertama kalinya dalam empat dekade, skuad Inggris merasa sakit hati. Pelatih Thomas Tuchel bisa menggunakan pertandingan ini sebagai kesempatan untuk menguji kedalaman skuad, terutama pemain-pemain yang kurang mendapat menit bermain karena cedera atau pilihan taktik.
Prancis diperkirakan akan melakukan beberapa pergantian pemain, memberi kesempatan kepada pemain yang kurang mendapat sorotan. Sementara itu, Mbappé kemungkinan besar akan menjadi starter, mengingat pentingnya gol bagi ambisi pribadinya. Pemain-pemain seperti Hugo Lloris, Raphaël Varane, dan Adrien Rabiot juga berpeluang turun setelah jarang bermain di dua pertandingan sebelumnya.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, pertandingan perebutan medali perunggu ini mengingatkan pada persaingan ketat di Liga 1 Indonesia musim lalu, di mana tim-tim bertarung untuk meraih posisi tiga besar demi hadiah uang yang lebih besar. Budaya sepak bola Indonesia masih mengutamakan persaingan di tingkat klub, namun laga seperti ini menunjukkan bahwa bahkan pertandingan “harapan terakhir” bisa memiliki dampak finansial dan prestise yang signifikan.
Lebih dari sekadar olahraga, kompetisi ini mencerminkan tren yang muncul di kancah e‑sports di Indonesia, di mana turnamen Mobile Legends dan PUBG juga menawarkan hadiah uang yang meningkat untuk posisi ketiga. Sama seperti pesepakbola, pemain e‑sports dari tim yang finis ketiga tetap mendapat pengakuan dan insentif ekonomi, meskipun mereka tidak mencapai grand final.
Deschamps, dalam wawancara singkat sebelum pertandingan, menegaskan bahwa ia ingin para pemainnya meninggalkan lapangan dengan kebanggaan. “Kami akan berusaha memberikan performa terbaik untuk menghormati waktu yang telah kami habiskan bersama,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi motivasi tambahan bagi skuad Prancis untuk memberikan pertunjukan terbaik di pertandingan terakhir sang pelatih.
Laga ini menjadi titik akhir yang unik bagi karier banyak pemain, namun juga menjadi batu loncatan bagi yang lain. Bagi Mbappé, ini bisa menjadi momen untuk mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa. Bagi pemain belakang seperti Varane, ini adalah kesempatan terakhir untuk meraih trofi di tingkat internasional sebelum usia mereka berkurang. Ke depannya, perkembangan format turnamen—seperti perluasan peserta menjadi 48 negara—akan terus membentuk dinamika pertandingan perebutan medali perunggu, membuat setiap pertandingan tetap relevan.