Internasional

Presiden Argentina Tolak Nonton Final Piala Dunia di Stadion Gegara Takhayul

Ringkasan

  • Presiden Argentina Javier Milei memilih menonton dari rumah karena percaya takhayul, mengenakan baju YPF sebagai jimat, sementara Raja Spanyol Felipe VI hadir langsung di stadion.

Presiden Argentina Javier Milei memutuskan tidak hadir di Stadion MetLife untuk menyaksikan laga final Piala Dunia antara Argentina dan Spanyol pada Minggu (19/7) malam waktu New York. Dia lebih memilih menonton dari kediamannya di Olivos.

Milei mengaku tetap mempertahankan ritual yang dia percayai bisa membawa keberuntungan bagi tim nasional. Dalam sebuah wawancara dengan radio El Observador, dia menegaskan, "dalam keadaan apa pun" dia takkan meninggalkan kebiasaan menonton pertandingan dari kediaman presiden.

Dia menjelaskan, pakaian yang dikenakan saat menonton juga menjadi bagian dari ritual keberuntungan. Milei mengenakan overall milik perusahaan energi negara YPF sebagai jimat. "Pada hari pertandingan melawan Swiss, saya merasa kepanasan. Setelah saya melepas overall itu, Swiss justru mencetak gol. Saya memakainya kembali dan tidak melepasnya sejak saat itu," ujarnya.

Pernyataan Milei menunjukkan bahwa kepercayaan takhayul tidak hanya terbatas pada lokasi menonton. Dia juga menambahkan bahwa dia telah menawarkan penggunaan Istana Casa Rosada kepada tim nasional seandainya Argentina menang, tetapi dia sendiri tidak akan hadir untuk menghindari kesan politik.

Di sisi lain, Raja Spanyol Felipe VI akan hadir langsung di stadion bersama Ratu Letizia dan kedua putri mereka, Putri Leonor dan Infanta Sofía. Kehadiran raja Spanyol ini menjadi kontras dengan keputusan presiden Argentina yang memilih tinggal di rumah.

Keputusan Milei ini memunculkan pertanyaan tentang peran takhayul dalam pengambilan keputusan pemimpin negara. Di Amerika Latin, banyak tokoh publik yang mengandalkan simbol-simbol keberuntungan, meskipun hal ini sering kali dianggap sepele oleh masyarakat internasional.

Di Indonesia, fenomena serupa juga muncul di kalangan penggemar sepak bola. Banyak suporter yang memiliki ritual sebelum pertandingan, seperti mengenakan pakaian tertentu atau mengunjungi tempat favorit. Meskipun tidak melibatkan kepala negara, kepercayaan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh takhayul dalam olahraga.

Stadion modern seperti Gelora Bung Karno di Jakarta kini dilengkapi teknologi canggih, mulai dari sistem pencahayaan hingga fasilitas pendukung yang mutakhir. Namun, di balik kecanggihan teknologi, unsur manusia seperti kepercayaan pribadi tetap memainkan peran penting.

Analis politik dari Universitas Buenos Aires, Dr. Gabriela Ruiz, menilai bahwa sikap Milei bisa menjadi strategi untuk menghindari tekanan politik dalam negeri. "Dengan tidak hadir di stadion, dia bisa menjaga jarak dari hasil pertandingan yang mungkin mengecewakan rakyat," kata Ruiz.

Jika Argentina akhirnya menjuarai turnamen ini, Milei telah menyiapkan hadiah istimewa: izin penggunaan Casa Rosada bagi tim nasional. Namun, dia menegaskan bahwa hal ini tidak berkaitan dengan kepentingan politik.

Perilaku presiden yang mengandalkan takhayul bisa menjadi cerminan budaya yang lebih luas di Amerika Latin, di mana keberuntungan sering kali dianggap sebagai faktor penentu kesuksesan. Di tengah kemajuan zaman, kepercayaan seperti ini tetap bertahan, bahkan di kalangan pemimpin.

Bagi masyarakat Indonesia, cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa di balik gemerlapnya panggung olahraga, ada aspek manusiawi yang penuh dengan keyakinan dan harapan. Meskipun takhayul berbeda di setiap negara, dampaknya terhadap semangat dan dukungan terhadap tim nasional seringkali sama kuatnya.

Mengapa Ini Penting

Keputusan Presiden Milei untuk tidak hadir di final Piala Dunia karena alasan takhayul mencerminkan betapa kuatnya pengaruh kepercayaan rakyat Amerika Latin dalam pengambilan keputusan pemimpin. Hal ini memicu perdebatan tentang profesionalisme versus personal belief di tingkat tertinggi pemerintahan. Di Indonesia, di mana suporter sepak bola juga memiliki ritual keberuntungan masing-masing, cerita ini menjadi cerminan bahwa takhayul dalam olahraga bukanlah hal baru, meskipun diungkapkan oleh seorang kepala negara. Fenomena ini juga membuka diskusi tentang bagaimana simbol-simbol keberuntungan bisa menjadi alat diplomasi atau pengalih perhatian dari isu politik dalam negeri.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit