Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung melalui akun resmi di platform X pada Senin (17/8) mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas bencana gempa bumi dahsyat yang menghantam wilayah timur Indonesia. Dalam kicuannya, Lee menyatakan belasungkawa dan simpati atas nama Pemerintah Republik Korea kepada para korban serta keluarga yang kehilangan orang tercinta dan tempat tinggal mereka.
Kepala negara Korea Selatan itu juga menyampaikan harapan agar upaya pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung dapat menemukan lebih banyak korban dalam keadaan selamat. Pesan Lee tiba dua hari setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8) lalu, menewaskan puluhan jiwa dan merusak ribuan unit rumah serta fasilitas umum.
Sebelum Lee, Presiden China Xi Jinping telah menyampaikan pesan belasungkawa langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Melalui kantor berita Xinhua, Xi menyatakan telah mengetahui gempa kuat di NTT mengakibatkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang serius. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas nama pemerintah dan rakyat China, serta keyakinan bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia akan mampu bangkit dan membangun kembali wilayah terdampak.
Presiden Iran Massoud Pezeshkian pun ikut melayangkan pesan dukungan melalui kantor berita IRNA. Berbeda dengan kedua pendahulunya, Pezeshkian menawarkan bantuan kemanusiaan dan medis secara konkret bagi korban bencana di NTT. Ia menyatakan kesiapan mengirimkan kebutuhan medis dan bantuan kemanusiaan jika diperlukan oleh pemerintah Indonesia.
Tiga pesan belasungkawa dari pemimpin negara besar ini mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam diplomasi global. Korea Selatan, China, dan Iran masing-masing memiliki hubungan bilateral yang beragam dengan Jakarta — mulai dari kerja sama ekonomi, perdagangan, hingga kerjasama pertahanan dan energi.
Korea Selatan saat ini menjadi salah satu investor asing terbesar di Indonesia, dengan nilai investasi mencapai miliaran dolar AS per tahun lalu. Perusahaan-perusahaan Korsel seperti Hyundai, LG, dan Samsung memiliki kehadiran signifikan di sektor manufaktur, elektronik, hingga infrastruktur. Belasungkawa dari Lee Jae-myung memperkuat narasi kemitraan strategis yang telah dijajakan sejak era pemerintahan sebelumnya.
China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia tentu memiliki kepentingan vital pada stabilitas archipelago. Ribuan proyek Belt and Road Initiative (BRI) tersebar di seluruh Nusantara, termasuk di wilayah timur Indonesia. Pesan Xi yang menegaskan keyakinan pada kepemimpinan Prabowo dibaca sebagai sinyal dukungan politik kepada administrasi baru di Jakarta.
Iran, meskipun jarak geografisnya jauh, telah mempererat hubungan dengan Indonesia di bidang energi dan perdagangan non-migas. Penawaran bantuan medis dari Pezeshkian menunjukkan kapasitas Tehran dalam diplomasi kemanusiaan, meskipun keterlambatan logistik dari Timur Tengah ke NTT menjadi tantangan teknis tersendiri.
Di tengah aliran belasungkawa internasional, fokus utama tetap pada penanganan bencana di lapangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Senin pagi, korban jiwa telah mencapai 42 orang dengan ratusan luka-luka dan ribuan pengungsi tersebar di sejumlah titik pengungsian darurat di Kabupaten Ngada dan sekitarnya.
Kementerian Sosial (Kemensos) bersama TNI dan Polri terus mengkoordinirkan distribusi bantuan logistik, tenda, serta layanan kesehatan. Akses jalan yang terputus akibat longsoran menjadi kendala utama pengiriman bantuan ke desa-desa terpencil di pegunungan Flores.
Masuknya tawaran bantuan dari Iran menambah opsi bagi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan medis darurat. Namun, mekanisme penerimaan bantuan asing harus mengikuti protokol yang ketat melalui BNPB dan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan kesesuaian kebutuhan dan efisiensi distribusi.
Gempa NTT ini menjadi uji nyata bagi administrasi Prabowo dalam manajemen bencana skala besar. Respons cepat dari mitra diplomatik seperti Korea Selatan, China, dan Iran menunjukkan goodwill internasional, namun keberhasilan rehabilitasi pasca-bencana akan ditentukan oleh kapasitas domestik dan koordinasi antar lembaga di lapangan.