Kementerian Perdagangan mencatat produk pangan olahan dan komoditas pertanian Indonesia membukukan potensi transaksi ekspor senilai 1,92 juta dolar AS atau sekitar Rp34,58 miliar dalam ajang Korea Import Expo (KIE) 2026 di Coex Exhibition Hall, Seoul. Capaian tersebut diraih melalui partisipasi 15 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang dikurasi langsung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional.
Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul dan Kemendag melalui Atase Perdagangan RI Seoul. Penyelenggaraan pameran berlangsung dengan dukungan penjajakan bisnis yang dilakukan secara intensif, baik sebelum maupun sesudah kegiatan utama di Korea Selatan.
Korea Selatan bukanlah pasar baru bagi produk agrikultur Indonesia, namun negara tersebut terus menunjukkan daya serap tinggi terhadap komoditas bernilai tambah. Hal ini mendorong pemerintah untuk tidak sekadar mengirim barang mentah, melainkan meningkatkan promosi produk olahan yang memenuhi standar internasional. Partisipasi di KIE 2026 menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat posisi tersebut.
Latar belakang strategis ini berkaitan erat dengan upaya Indonesia menyeimbangkan neraca perdagangan dengan Seoul. Pada Januari–Mei 2026, total perdagangan kedua negara mencapai 7,61 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia sebesar 4,05 miliar dolar AS dan impor 3,56 miliar dolar AS. Angka itu menunjukkan surplus bagi Indonesia di periode tersebut.
Secara tahunan, pada 2025 total perdagangan Indonesia–Korea Selatan mencapai 18,04 miliar dolar AS. Ekspor Indonesia tercatat 10,14 miliar dolar AS, sedangkan impor dari Korea 7,90 miliar dolar AS. Tren surplus ini ingin dijaga sekaligus diperluas ke sektor pangan melalui produk UMKM yang memiliki margin lebih tinggi.
Dampak dari pencapaian di KIE 2026 dirasakan langsung oleh pelaku usaha domestik, terutama UMKM kurasi Kemendag. Mereka mendapat akses ke importir Korea yang selama ini sulit dijangkau tanpa fasilitasi diplomatik. Kehadiran produk seperti kopi specialty, kakao, dan keripik kentang olahan membuka jalur distribusi baru yang lebih stabil.
Bagi industri dalam negeri, minat pembeli Korea terhadap komoditas berkualitas tinggi menjadi sinyal bahwa standar pengolahan lokal sudah kompetitif di Asia Timur. Hal ini juga mendorong produsen di Tanah Air untuk membenahi sertifikasi dan kemasan agar lebih ramah pasar ekspor. Persaingan di dalam negeri pun berpotensi membaik seiring naiknya kualitas produksi.
Dari sisi konsumsi global, kopi specialty dan kakao Indonesia mulai dikenal sebagai alternatif dari pasokan Amerika Latin. Korea Selatan dengan budaya kopi yang kuat menjadikan pasar ideal untuk penetrasi merek-merek lokal. Ke depan, hal ini bisa menaikkan harga jual komoditas petani di tingkat hulu.
Wakil Duta Besar RI untuk Korea Selatan Ali Andika Wardhana menyatakan keikutsertaan Indonesia merupakan langkah strategis memperkuat promosi produk bernilai tambah. “Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan nasional, tetapi juga membuka peluang kerja sama dagang yang lebih luas dengan para importir Korea Selatan,” ujarnya. Ia menambahkan partisipasi tersebut diharapkan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Korea.
Atase Perdagangan RI Seoul Roesfitawati menuturkan pihaknya memfasilitasi 35 sesi penjajakan bisnis selama pameran. Komoditas paling diminati meliputi kopi specialty, kakao, dan keripik kentang olahan. “Hasil business matching menunjukkan tingginya minat pembeli setempat terhadap produk-produk Indonesia yang berkualitas dan mampu memenuhi standar pasar internasional,” kata Roesfitawati.
Indonesia juga memanfaatkan momentum KIE 2026 untuk mengumumkan rencana pendirian Indonesia House of Beans (IHoB) pertama di Korea Selatan. Pusat promosi kopi specialty tersebut berlokasi di Seoul dan ditargetkan beroperasi akhir 2026. Keberadaannya akan menjadi wadah konkret bagi eksportir untuk membangun jejaring dengan pemilik kedai kopi dan pelaku industri kopi Korea.
Proyeksi ke depan menunjukkan ekspor pangan olahan ke Korea akan tumbuh seiring operasional IHoB dan konsistensi program business matching. Pemerintah diproyeksikan menambah jumlah UMKM kurasi pada pameran serupa tahun depan. Tren ini sejalan dengan upaya diversifikasi pasar ekspor nonmigas Indonesia di kawasan Asia Timur.
Penguatan diplomasi ekonomi seperti ini tidak hanya berdampak pada angka ekspor, tetapi juga pada transformasi UMKM lokal menjadi pemain global. Dengan dukungan atase perdagangan dan kedutaan, produk seperti teh buah, tepung mocaf, hingga biskuit bebas gluten memiliki peluang masuk rak ritel Korea. Langkah strategis tersebut menjadi fondasi bagi ketahanan ekonomi berbasis komoditas pertanian dalam negeri.