Internasional

PSG Favorit Juara Ligue 1 Musim Keenam, Ligue Lens Jadi Ancaman Nyata

Ringkasan

  • Paris Saint-Germain memasuki musim baru Ligue 1 sebagai favorit utama meraih gelar keenam berturut-turut, meski kekalahan di Trophée des Champions membuka peluang bagi Racing Lens dan kontender lain.

Paris Saint-Germain (PSG) kembali memasuki musim Ligue 1 2024-2025 dengan status favorit mutlak untuk mengamankan gelar juara keenam berturut-turut dan ke-15 dalam sejarah klub. Keunggulan sumber daya yang didanai Qatar memungkinkan Les Parisiens merekrut bakat-batang muda berbobot internasional, memperkuat skuad yang sudah kaya akan pemain berbakat.

Peluang PSG semakin terbuka lebar setelah rekrutan musim panas yang mencakup Ferran Torres, pencetak gol tunggal di final Piala Dunia bulan lalu, Maghnes Akliouche dan Lucas Digne yang keduanya pernah memperkuat timnas Prancis di Piala Dunia, serta Mika Godts yang direkrut dari Ajax Amsterdam pekan ini. Pelatih Luis Enrique menilai Torres "cocok sempurna" dengan sistem permainan yang diinginkan, menyoroti kemampuan bermain di mana saja di lini depan dan mentalitas juara.

Kendati demikian, jalan menuju gelar tidak akan mulus. Kekalahan langka di Trophée des Champions akhir pekan lalu di tangan Racing Lens menjadi percikan awal bahwa dominasi PSG bisa digoyangkan. Lens yang musim lalu finis runner-up dengan tertinggal enam poin dari PSG dan berhasil meraih Piala Prancis, kini dipimpin oleh pelatih Jerman Dino Toppmöller yang mencatat kemenangan perdana di pembukaan musim.

Kehilangan Pierre Sage yang hijrah ke Crystal Palace justru tidak melemahkan Lens. Toppmöller, yang sebelumnya mengasuh Eintracht Frankfurt, membawa pengalaman Eropa dan pendekatan taktis yang segar. Kemenangan atas PSG di super cup bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti struktur tim yang kokoh meski kehilangan beberapa pemain kunci.

Di sisi lain, Lille yang finis ketiga musim lalu dan lolos langsung ke fase grup Liga Champions, mempercayakan tim pada Davide Ancelotti, putra pelatih legendaris Carlo Ancelotti. Usia 36 tahun, Ancelotti muda mendapat kesempatan emas membuktikan kualitas manajerialnya di klub yang memiliki tradisi pengembangan pemain muda yang solid.

Monaco yang mengecewakan dengan posisi ketujuh musim lalu melakukan revolusi besar. Mantan bek kiri Brasil Filipe Luis, yang baru menggantung sepatu, ditunjuk sebagai pelatih kepala. Keputusan melepas Paul Pogba yang musiman lalu minim kontribusi akibat cedera berulang menjadi langkah tegas untuk membersihkan ruang gaji dan membangun kimia tim baru.

Olympique de Marseille, dua kali runner-up PSG dalam lima musim terakhir, memasuki fase pembangunan ulang di bawah Bruno Genesio yang datang dari Lille. Genesio dikenal sebagai arsitek tim yang tertata rapi, namun Marseille memerlukan waktu lebih dari satu musim untuk kembali menjadi kontender sejati. Gelar juara terakhir mereka masih tertanggal 2010 — keringan panjang yang membebani proyek baru ini.

Masalah lapangan Parque des Princes menambah komplikasi awal musim PSG. Kondisi pitch yang buruk memaksa klub memindahkan laga pembukaan melawan Stade Rennais ke Roazhon Park, kandang lawan. Keputusan ini menghilangkan keuntungan kandang sendiri di laga pertama, meski PSG sudah terbiasa bermain di atmosfer lawan.

Di bagian bawah klasemen, Troyes dan Le Mans naik kasta menggantikan Nantes dan Metz yang degradasi. Sementara Nice berhasil mempertahankan status Ligue 1 setelah menaklukkan Saint-Étienne dalam play-off promosi-degradasi dua babak akhir Mei lalu. Dinamika bagian bawah klasemen akan menambah ketegangan di akhir musim.

Analisis terhadap lanskap Ligue 1 menunjukkan kesenjangan finansial yang semakin melebar. PSG dengan backing Qatar Sports Investments memiliki fleksibilitas transfer yang tak dimiliki klub lain. Namun, model kepemilikan multi-club seperti yang dilakukan Red Bull (meski tidak di Prancis) atau strategi rekrutmen cerdas ala Lens dan Lille terbukti bisa menyaingi proyek berbasis uang.

Musim ini juga menjadi uji nyata bagi Luis Enrique. Pelatih Spanyol yang membawa PSG ke double domestik musim lalu kini harus membuktikan kemampuannya mengelola skuad yang lebih dalam dan menghadapi tekanan Liga Champions. Kegagalan di arena Eropa tetap menjadi luka terbuka yang harus diobati.

Proyeksi ke depan menunjuk pada perlombaan tiga kuda: PSG sebagai favorit utama, Lens sebagai penantang paling realistis, dan Lille atau Monaco sebagai dark horse. Marseille butuh waktu, sedangkan klub-klub menengah akan berjuang untuk posisi Eropa atau survival. Sepak bola Prancis memasuki era di mana dominasi PSG ditegakkan di lapangan, bukan hanya di buku cek.

Mengapa Ini Penting

Dominasi PSG yang berkelanjutan mencerminkan ketidakseimbangan finansial sepak bola Eropa yang semakin mengkhawatirkan. Bagi penggemar Indonesia yang mengikuti Liga Champions, performa domestik PSG langsung memengaruhi kesegaran skuad mereka di panggung Eropa. Kebangkitan Lens sebagai model klub menengah yang sukses menyaingi raksasa keuangan memberikan narasi inspiratif — bukti bahwa manajemen cerdas dan kohesi tim bisa mengalahkan budget tak terbatas. Pergantian pelatih di Monaco (Filipe Luis) dan Lille (Davide Ancelotti) juga menandai generasi baru mantan pemain top yang transisi ke manajemen, tren yang relevan dengan perkembangan sepak bola Indonesia.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
20 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit