PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) mencatat realisasi produksi 3,44 juta ton pada semester pertama 2026, mencapai 52,32 persen dari target tahunan. Capaian tersebut terdiri dari 1,85 juta ton urea, 165 ribu ton NPK, serta 1,42 juta ton amonia, menurut keterangan resmi Direksi Utama Rafli Yandra, Jumat (1/7/2026).
Angka ini merefleksikan konsistensi kinerja operasional anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) tersebut. Dengan kapasitas terpasang 3,43 juta ton urea, 300 ribu ton NPK, dan 2,74 juta ton amonia per tahun, manajemen optimistis target penuh 2026 dapat tercapai. Keyakinan itu didasarkan pada rekor 2025 lalu, di mana perseroan memproduksi 6,67 juta ton — melampaui target tahunan.
Di balik stabilitas produksi tersebut berdiri strategi Operational Excellence yang diterapkan merata di seluruh lini bisnis. Pupuk Kaltim mengadopsi konsep Smart Production berbasis inovasi teknologi, disertai peningkatan kompetensi SDM dan penguatan budaya keselamatan kerja. Tiga pilar itu bersinergi menaikkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas produk secara berkelanjutan.
Kinerja 2025 yang melebihi target menjadi bukti nyata strategi tersebut berjalan. Rafli menegaskan bahwa pencapaian produksi bukan sekadar angka, melainkan komitmen memastikan pupuk tersedia tepat waktu dan jumlah bagi petani. Ketersediaan pupuk yang stabil berkorelasi langsung dengan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Namun, perseroan tidak berhenti pada volume produksi. Komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) ditempatkan sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Peningkatan output harus sejalan dengan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan penguatan tata kelola. Prinsip itu terealisasi konkret melalui proyek strategis Revamping Ammonia Pabrik-2 yang rampung awal 2026.
Proyek revitalisasi industri pupuk nasional itu berhasil menurunkan konsumsi gas 4 MMBTU per ton amonia, efisiensi lebih dari 10 persen dibanding kondisi sebelumnya. Dampak lingkungannya signifikan: emisi karbon terpotong hingga 110.000 ton CO2 per tahun. Angka ini setara dengan penyerapan karbon oleh sekitar 4,8 juta pohon dewasa dalam satu tahun.
Inovasi berkelanjutan ditambah dengan pembangunan pabrik soda ash pertama di Indonesia. Fasilitas ini memanfaatkan emisi CO2 sebagai bahan baku, mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular. Saat beroperasi penuh, pabrik diproyeksikan menyerap 174.000 ton CO2 per tahun — melebihi pengurangan dari proyek revamping.
Soda ash sendiri merupakan bahan baku strategis untuk industri kaca, deterjen, kimia, hingga metalurgi. Hingga kini Indonesia mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kehadiran pabrik ini tidak hanya menurunkan jejak karbon, tapi juga mengurangi ketergantungan impor dan menciptakan nilai tambah dari gas buang yang dulunya dibuang begitu saja.
Di sisi lain, Pupuk Kaltim mulai mengeksplorasi potensi clean ammonia sebagai langkah transisi menuju industri pupuk rendah karbon. Amonia bersih diproduksi dengan teknologi carbon capture atau berbasis hidrogen hijau, membuka peluang ekspor ke pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan ketat.
Rafli menegaskan penerapan ESG bukan sekadar kepatuhan regulasi, melainkan cara membangun bisnis tahan lama. Pertumbuhan perusahaan harus selaras dengan kelestarian lingkungan dan upaya mendukung ketahanan pangan. Narasi ini menempatkan Pupuk Kaltim sebagai pelopor transformasi hijau di sektor pupuk nasional.
Ke depan, perseroan akan terus memperkuat kinerja produksi dan keberlanjutan secara simultan. Fokus ganda itu diperlukan mengingat peran pupuk sebagai input kritis swasembada pangan, sementara tekanan perubahan iklim mendesak industri berat bertransformasi. Pupuk Kaltim berusaha membuktikan bahwa produktivitas dan keberlanjutan bukan nol-jumlah, tapi saling memperkuat.