Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (5/8) secara resmi menunjuk Jenderal Mayor Denis Lyamin sebagai komandan pertama Pasukan Sistem Tak Berawak Rusia, cabang militer baru yang sepenuhnya didedikasikan untuk peperangan drone. Penunjukan ini diumumkan Kremlin sebagai bagian dari "penyempurnaan" struktur kekuatan bersenjata Rusia yang telah berperang di Ukraina selama hampir lima tahun.
Lyamin, yang sebelumnya menjabat Kepala Staf Kelompok Pasukan "Pusat" di Ukraina, dinilai Putin sebagai "salah satu spesialis paling berkualitas" untuk memimpin formasi baru ini. Tugas pertamanya: menyelesaikan pembentukan pasukan dan mengambil alih komando operasional dalam waktu dekat. Latar belakangnya sebagai lulusan sekolah komando tank dan veterang angkatan darat memberikan fondasi taktis yang kuat untuk mengintegrasikan drone ke doktrin perang gabungan.
Pembentukan cabang militer terpisah untuk drone bukan langkah administratif semata. Sejak awal invasi penuh pada Februari 2022, pesawat nirawak telah berevolusi dari alat pengintai menjadi senjata serangan utama di kedua sisi. Rusia dan Ukraina kini menembakkan ratusan drone per malam — menembak target di lini depan, basis udara, rafineri minyak, hingga ibu kota masing-masing. Dominasi drone telah mengubah wajah medan tempur: bunker dan tank yang dulunya aman kini rentan terhadap serangan presisi murah dari udara.
Konteks militer di lapangan memperkuat urgensi langkah ini. Hanya sehari sebelum pelantikan Lyamin, serbuan gabungan rudal dan drone Rusia menewaskan 17 warga sipil di Kyiv dan wilayah sekitarnya. Angkatan Udara Ukraina mengklaim menembak jatuh 98 dari 115 drone Shahed yang dilancarkan, namun mengakui tidak satupun rudal balistik yang berhasil ditangkal. Kegagalan sistem pertahanan udara ini mengundang kritik keras dari Presiden Volodymyr Zelensky, yang mengungkapkan stok sistem pertahanan udara Ukraina saat ini hanya tinggal sepertiga dari kapasitas tahun lalu.
"Pesawat pencegat balistik adalah apa yang bisa menyelamatkan nyawa mereka yang tewas hari ini," kata Zelensky dalam keterangan resmi. Pernyataan itu membuka tabir keterbatasan Ukraina dalam menghadapi doktrin "serbuan terbentang" Rusia yang menggabungkan drone murah sebagai umpan dan rudal mahal sebagai penembak mati. Dengan pasukan drone terpusat di bawah Lyamin, Rusia berpotensi mempercepat siklus produksi-deploy-iterasi — mengurangi hambatan birokrasi yang selama ini memperlambat adaptasi teknologi di medan tempur.
Perombakan ini juga mencerminkan pergantian generasi di pimpinan militer Rusia. Valery Solodchuk, komandan Kelompok "Pusat" yang dipimpin Lyamin, dipindahkan ke jabatan logistik militer secara keseluruhan — posisi strategis tapi jarang terpapar media. Penggantinya, Andrei Ivanayev, datang dari Kelompok "Timur". Rotasi ini menunjukkan upaya Putin mencegah stagnasi komando dan memasukkan pemimpin yang sudah terbukti di medan tempur ke posisi kunci baru.
Dari perspektif teknologi pertahanan, langkah Rusia meniru tren global: AS, China, Turki, dan Israel telah lama memisahkan kekuatan drone dari cabang angkatan tradisional. Keunggulan Rusia terletak pada skala produksi domestik dan integrasi cepat umpan balik medan tempur ke pabrik. Drone Lancet, Shahed (produksi lisensi Iran), dan FPV modifikasi kini diproduksi puluhan ribu per tahun — volume yang sulit dicapai negara Barat tanpa rantai pasok yang rumit.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menegaskan urgensi modernisasi pertahanan udara berbasis layered defense. TNI AU saat ini mengandalkan sistem Soviet/Rusia lama (S-125, S-75) dan sejumlah radar baru, namun belum memiliki sistem anti-drone terintegrasi yang teruji pertempuran. Program pengadaan radar Thales Ground Master 400 dan sistem VL-MICA dari Prancis adalah langkah maju, tapi kecepatan adaptasi doktrin — bukan sekadar beli alat — yang menentukan efektivitas. Pengalaman Ukraina membuktikan: stok rudal interceptor habis dalam berminggu-minggu jika tidak didukung produksi dalam negeri dan doktrin engagement yang fleksibel.
Di sisi industri, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan anak-usaha PT Pindad telah mengembangkan drone taktis seperti Elang Hitam dan Punokawan. Namun, skala produksi dan doktrin swarm (gerombolan) masih jauh di belakang Rusia. Kolaborasi dengan Turki (Bayraktar) dan Korea Selatan (KAI) melalui program KF-21/IF-X membuka jalur transfer teknologi, tapi ketergantungan pada sensor dan mesin impor tetap menjadi talang achilles. Rusia memproduksi mesin drone sendiri — keuntungan strategis yang Indonesia belum miliki.
Ke depan, mata dunia akan menatap apakah Lyamin mampu mentransformasikan Pasukan Sistem Tak Berawak dari konsep kertas menjadi kekuatan yang mengubah keseimbangan di Donbas. Jika berhasil, model Rusia — cabang militer drone mandiri dengan otoritas produksi dan doktrin sendiri — akan ditiru negara lain. Bagi Indonesia, pelajarannya jelas: jangan tunggu perang baru untuk mulai membangun kekuatan drone yang sovereign, terintegrasi, dan siap tempur.