Sebanyak 735 anak pekerja migran Indonesia (PMI) yang bermukim di Malaysia kini mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di tanah air. Mereka merupakan lulusan dari Community Learning Center (CLC) yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak, sebuah layanan pendidikan yang diinisiasi oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia sejak tahun 2011.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah Maria Agreda, remaja berusia 14 tahun yang selama ini tinggal di kawasan Kundasang, dekat kaki Gunung Kinabalu. Meskipun lahir dan besar di perantauan tanpa dokumen keimigrasian yang lengkap, semangat Maria untuk menuntut ilmu tidak pernah padam. Kini, ia terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang memungkinkannya mengejar cita-cita sebagai ilmuwan di Yogyakarta.
Program CLC sendiri awalnya dirancang khusus bagi anak-anak pekerja di sektor perkebunan sawit. Namun, seiring berjalannya waktu, jangkauan layanan ini diperluas untuk memfasilitasi anak-anak PMI yang orang tuanya bekerja di berbagai sektor lainnya. Di bawah koordinasi Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), CLC telah menjadi wadah bagi sekitar 22 ribu siswa untuk mendapatkan akses pendidikan dasar yang layak di luar negeri.
Kendala utama yang dihadapi para siswa ini adalah ketiadaan dokumen kependudukan resmi yang menutup peluang mereka untuk mengakses sekolah formal di Malaysia. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI melalui Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan meluncurkan program beasiswa ADEM. Program ini memungkinkan para lulusan SMP terbaik untuk dipulangkan ke Indonesia dan menempuh pendidikan di 134 SMA yang tersebar di 12 provinsi.
Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu, Noorman Effendi, menjelaskan bahwa para siswa dipulangkan menggunakan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Dokumen ini berfungsi sebagai tiket sekali jalan bagi anak-anak tersebut untuk kembali ke tanah air dan melanjutkan masa depan mereka dengan status kependudukan yang lebih terjamin dan akses pendidikan yang lebih luas.
Bagi para orang tua, melepas anak untuk kembali ke Indonesia adalah keputusan berat namun penuh harapan. Program ini tidak hanya membantu meringankan beban ekonomi keluarga migran di perantauan, tetapi juga memberikan kepastian bahwa generasi penerus mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi dan membangun masa depan yang lebih baik di tanah kelahiran orang tua mereka.