Badan Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara India (AAIB) telah menyelesaikan transkripsi rekam suara kokpit serta melakukan penilaian psikologis terhadap awak pesawat terkait tragedi jatuhnya Boeing 787 Air India tahun lalu. Pengungkapan tersebut tertuang dalam dokumen pengadilan yang menandai penyelidikan memasuki fase analisis akhir menjelang penyusunan laporan final.
Kecelakaan yang menewaskan 260 orang tersebut terjadi sesaat setelah pesawat lepas landas dari Ahmedabad, India. Fase investigasi kini berfokus pada pengumpulan kesimpulan lintas bidang, mulai dari operasional, teknis, hingga faktor organisasi dan manusia. AAIB menegaskan bahwa proses tersebut masih berjalan ketat meski berhadapan dengan sejumlah kendala eksternal.
Dokumen tertanggal Selasa (14/7) itu tidak merinci identitas pihak yang menjalani otopsi psikologis maupun temuan awal terkait penyebab kecelakaan. Namun, AAIB mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memeriksa data dari unit pemantauan mesin yang diambil akhir Mei lalu, meskipun analisis mendalam atas data tersebut belum tuntas. Penilaian terhadap faktor organisasi maskapai juga masih berlangsung tanpa detail lebih lanjut.
Selama proses penyelidikan, tim AAIB telah mewawancarai pilot Air India 787, kru yang pernah terbang bersama awak pesawat nahas tersebut, serta personel teknis yang menyiapkan jet. Petugas pengendali lalu lintas udara, pejabat cuaca, dan spesialis faktor manusia turut dimintai keterangan. Keluarga awak penerbangan juga didekati di kediaman masing-masing pada tahap awal investigasi.
Salah satu kunjungan ke rumah kapten pesawat memicu kontroversi. Pushkar Raj Sabharwal, ayah sang kapten, merasa resah karena menurutnya pejabat menyiratkan bahwa putranya sengaja memutus aliran bahan bakar ke mesin setelah lepas landas. Tindakan tersebut berujung pada gugatan hukum yang memaksa AAIB membuka sebagian dokumen penyelidikan ke pengadilan.
AAIB mencatat bahwa spekulasi media serta narasi yang langsung menyalahkan pilot membuat sejumlah saksi menjadi tertutup dan enggan merespons. Hal ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana liputan yang tidak terukur dapat menghambat proses pencarian kebenaran teknis di balik kecelakaan penerbangan. Transparansi harus dijaga tanpa menjatuhkan vonis dini kepada individu.
Bagi industri penerbangan Indonesia, tragedi dan proses investigasi ini relevan dengan upaya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam menangani insiden serupa. Teknologi cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) menjadi tulang punggung setiap investigasi, termasuk dalam kasus Lion Air JT610 beberapa tahun lalu. Ketergantungan pada data objektif dari perangkat ini membuktikan bahwa asumsi manusiawi harus selalu dibayar dengan bukti telemetri.
Penggunaan unit pemantauan mesin (engine monitoring unit) yang sempat tertunda analisisnya di India juga lazim diterapkan oleh maskapai besar di Tanah Air, seperti Garuda Indonesia dan Batik Air. Sistem ini berfungsi mendeteksi anomali performa mesin secara real-time, sehingga potensi kegagalan teknis dapat dicegah jauh sebelum pesawat mengudara. Integrasi data EMU ke dalam protokol investigasi menunjukkan arah teknologi aviasi yang semakin presisi.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya batasan etis dalam investigasi. Ayah kapten pesawat secara tegas menolak narasi yang menjerat putranya. Di sisi lain, AAIB sempat menyatakan terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti, kendati penilaian awal pejabat Amerika Serikat melalui Reuters mendukung pandangan bahwa kaptenlah yang memotong aliran bahan bakar mesin.
Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) termasuk pihak yang akan menerima draf laporan tersebut. Hal ini wajar mengingat Boeing sebagai produsen pesawat dan sejumlah komponen kritis berasal dari yurisdiksi Amerika. Kerja sama lintas negara dalam investigasi kecelakaan udara sudah menjadi standar protokol internasional untuk memastikan tidak ada kepentingan lokal yang menutupi cacat desain global.
AAIB memproyeksikan sisa kegiatan investigasi akan rampung dalam kurun enam pekan, tentu dengan catatan bergantung pada dependensi eksternal yang belum disebutkan. Laporan draf final direncanakan beredar pada Oktober mendatang. Setelah itu, dokumen akan disirkulasikan ke negara peserta untuk mendapatkan tanggapan sebelum publikasi resmi dilakukan.
Penyelesaian investigasi Boeing 787 ini diharapkan memberi jawaban pasti bagi keluarga korban dan industri aviasi global. Teknologi perekaman kokpit serta analisis faktor manusia akan terus berevolusi untuk mencegah terulangnya tragedi serupa. Bagi Indonesia, ketangguhan regulasi keselamatan dan independensi KNKT menjadi kunci agar setiap investigasi berujung pada perbaikan sistem, bukan sekadar pencarian kambing hitam.