Presiden Donald Trump meresmikan program Trump Accounts di Auditorium Andrew W Mellon, Washington, akhir Januari 2026. Sekitar 500.000 anak menerima alokasi dana pemerintah sebesar US$1.000 per orang, yang ditanamkan ke dalam tracker indeks S&P 500 yang dikelola State Street Global Advisors. Program ini terbatas bagi warga negara AS yang lahir antara 1 Januari 2025 hingga akhir 2028, tepat selama masa jabatan kedua Trump.
Di balik branding yang kontroversial, substansi kebijakan ini menarik perhatian pakar keuangan global. Senator Republik Ted Cruz, arsitektur legislatif program ini, menegaskan tujuannya adalah "membuat setiap anak dan warga AS menjadi kapitalis". Larry Fink, CEO BlackRock — salah satu mitra manajemen aset dalam skema ini — menambahkan bahwa setiap bayi baru lahir kini memiliki "taruhan pada masa depan negara". Framing ideologis ini sengaja dipilih untuk membangun narasi kepemilikan aset sejak dini.
Mekanisme bunga majemuk menjadi tulang punggung daya tarik program ini. Berdasarkan performa historis S&P 500, dana awal US$1.000 bisa tumbuh menjadi US$6.000 saat anak berusia 18 tahun — tanpa tambahan setoran. Jika orang tua atau pihak ketiga memaksimalkan kontribusi tahunan hingga US$5.000, proyeksi pemerintah AS menunjukkan nilai rekening bisa menyentuh US$271.000 pada usia yang sama. Angka-angka ini bukan sekadar proyeksi teoritis, melainkan demonstrasi nyata kekuatan waktu dalam berinvestasi.
Patrick Jenkins, komentator Financial Times yang memimpin yayasan pendidikan keuangan FLIC, menilai pemahaman bunga majemuk sebagai keterampilan literasi keuangan paling krusial. "Baik Anda investor maupun peminjam, memahami konsep ini mungkin keterampilan literasi keuangan paling penting," tulisnya. Di AS, di mana sistem pensiun bergeser dari defined benefit ke defined contribution, tabungan pribadi jangka panjang menjadi semakin vital seiring penuaan populasi.
Kritik pun tidak sedikit. Sekitar 40 persen keluarga AS tidak memiliki investasi pasar saham sama sekali. Bagi mereka, paparan risiko volatilitas harga saham tanpa jaring pengaman lain — seperti asuransi kesehatan atau tabungan darurat — terasa seperti mewajibkan taruhan berisiko tinggi. Kompleksitas aturan juga mengancam efektivitas; pengalaman Child Trust Fund di Inggris, yang dibubarkan 2011, meninggalkan lebih dari £1 miliar dana tak diklaim karena orang tua tidak sadar atau bingung mengelolanya.
Keterbatasan pilihan instrumen menjadi kelemahan teknis lain. Saat ini hanya tersedia tracker S&P 500 dengan bias pasar AS yang ekstrim. Konsentrasi pada "Magnificent 7" saham teknologi besar membuat portofolio rentan terhadap koreksi sektor tunggal. Diversifikasi global — standar manajemen risiko modern — tidak tersedia, setidaknya untuk fase awal.
Politisasi eligibility menjadi cacat desain fundamental. Membatasi hak hanya bagi anak lahir di masa jabatan Trump menciptakan ketidakadilan generasional dan membatasi skala dampak. Sebagian celah ditutupi inisiatif filantropis Michael dan Susan Dell, yang mengkomitkan US$6,25 miliar untuk tambahan US$250 per anak usia 10 tahun ke bawah. Namun filantropi tidak bisa menggantikan kebijakan universal yang berkelanjutan.
Di Indonesia, pelajaran ini sangat relevan. Program TabunganKu dan SimPel OJK telah hadir, namun fokus pada tabungan konvensional dengan bunga rendah, bukan investasi pasar modal. Indeks IHSG historis memberikan return real yang kompetitif jangka panjang, tapi partisipasi ritel tetap minim — hanya sekitar 1,5 persen populasi. Literasi soal bunga majemuk dan risiko pasar saham belum masif disosialisasikan di kurikulum sekolah.
Beberapa platform fintech lokal seperti Bibit, Ajaib, dan Stockbit telah mempermudah akses investasi saham dan reksa dana dengan nominal kecil. Namun tidak ada insentif pemerintah berupa dana awal (matching fund) atau insentif pajak khusus untuk rekening investasi anak, seperti yang ditawarkan Trump Accounts atau Junior ISA di Inggris.
Kebijakan yang bisa diadopsi: insentif pajak untuk rekening investasi jangka panjang atas nama anak, matching fund pemerintah untuk keluarga berpenghasilan rendah, dan integrasi literasi keuangan ke kurikulum Merdeka Belajar. OJK dan Kemenkeu bisa merancang skema "Rekening Masa Depan" yang netral secara politik, universal, dan terintegrasi dengan sistem identitas anak (NIK) sejak lahir.
Tantangan implementasi di Indonesia lebih kompleks: penetrasi rekening bankak masih terbatas di daerah 3T, literasi digital orang tua bervariasi besar, dan volatilitas rupiah menambah lapisan risiko valutasi untuk aset liburan. Namun demografis bonus Indonesia — 70 juta anak di bawah 15 tahun — membuat biaya ketidakberdayaan jauh lebih mahal dari biaya intervensi dini.
Dunia tidak perlu meniru branding Trump, tapi substansi kebijakan ini layak diseriusi. Memberi anak-anak "saham" pada masa depan negara — secara literal maupun metaforis — adalah investasi infrastruktur manusia yang return-nya terukur dalam desain. Indonesia, dengan bonus demografis yang menipis, tidak punya waktu lama untuk menunggu.