Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai revitalisasi pasar tradisional tidak lagi sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan strategi struktural untuk mempertahankan daya beli rakyat di tengah tekanan ekonomi. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta, Jumat lalu, sebagai respons terhadap pergeseran perilaku konsumen yang semakin mengandalkan pasar tradisional.
Melemahnya daya beli mendorong masyarakat beralih ke pasar tradisional karena harga kebutuhan pokok lebih terjangkau dibandingkan ritel modern atau pedagang keliling di permukiman. Fenomena ini dibarengi dengan tren masyarakat yang lebih sering memasak di rumah untuk menekan pengeluaran, sehingga permintaan bahan pangan murah justru melonjak.
Kondisi ini menciptakan paradoks: pasar tradisional justru mengalami lonjakan kunjungan saat ekonomi lesu. Namun, Faisal memperingatkan bahwa tanpa revitalisasi menyeluruh, pasar tradisional tidak akan mampu menampung permintaan yang membesar dengan standar layanan yang layak. Ia menegaskan bahwa revitalisasi harus mencakup peningkatan kualitas layanan, kebersihan, kenyamanan, ketertiban, serta rasa aman bagi pembeli.
Data lapangan menunjukkan banyak pasar tradisional masih menghadapi masalah klasik: kebersihan minim, fasilitas usang, tata ruang kacau, hingga penggunaan timbangan yang tidak standar. Faktor-faktor ini menjadi pemicu konsumen ragu untuk berbelanja rutin di pasar, meski harga lebih murah. Jika dibiarkan, kelemahan ini akan mendorong konsumen kembali ke ritel modern yang menawarkan kenyamanan, walau dengan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, peran pasar tradisional telah meluas dari sekadar pusat jual beli komoditas pangan. Kini pasar menjadi ekosistem ritel lengkap yang mencakup makanan olahan, minuman, pakaian, kosmetik, hingga kebutuhan rumah tangga. Transformasi ini menempatkan pasar tradisional sebagai tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat menengah ke bawah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada jaringan distribusi ritel modern.
Faisal menilai langkah ini strategis untuk menjaga kompetitivitas pasar tradisional di tengah ekspansi agresif ritel modern dan platform e-commerce. Tanpa revitalisasi, pedagang kecil di pasar tradisional berisiko terpinggirkan, padahal mereka merupakan penyangga ekonomi jutaan rumah tangga. Keberlangsungan usaha mereka berkorelasi langsung dengan ketahanan ekonomi kelas menengah ke bawah.
Pakar ekonomi lainnya, yang tidak ingin disebut namanya, menambahkan bahwa revitalisasi berbasis teknologi — seperti sistem pembayaran digital, manajemen sampah terintegrasi, dan aplikasi informasi harga real-time — dapat mempercepat modernisasi tanpa menghilangkan identitas pasar tradisional. Pendekatan ini sudah dicoba di beberapa pasar pilot dan menunjukkan peningkatan kunjungan hingga 30 persen.
Pemerintah daerah pun diminta tidak hanya mengandalkan anggaran pusat melalui program Pasar Modern, melainkan menggalang swadaya masyarakat dan kerja sama dengan swasta. Model pengelolaan profesional dengan melibatkan koperasi pedagang terbukti lebih berkelanjutan dibandingkan pengelolaan birokratik murni.
Masyarakat menengah ke bawah, yang proporsi belanjanya untuk pangan mencapai 60 hingga 70 persen dari total pengeluaran, adalah kelompok paling rentan terhadap fluktuasi harga. Memastikan akses mereka ke pasar yang bersih, nyaman, dan harga adil bukan sekadar isu kesejahteraan, tapi juga stabilitas sosial. Ketika pasar tradisional berfungsi optimal, tekanan inflasi pada komoditas pokok bisa ditekan secara alami.
Ke depan, CORE mendorong pembuatan indeks kesehatan pasar tradisional nasional yang mengukur kebersihan, kenyamanan, keamanan, dan keterjangkauan harga. Indeks ini diharapkan menjadi acuan prioritas revitalisasi berbasis bukti, bukan sekadar keputusan politik. Dengan pendekatan terukur, revitalisasi pasar bisa jadi instrumen kebijakan makro yang presisi sasaran.