Internasional

Ribuan penerbangan dibatalkan akibat badai Bavi di Tiongkok timur

Badai Bavi mendarat di Tiongkok timur pada Sabtu malam, menjadi badai besar kedua yang melanda negara itu dalam seminggu terakhir. Hujan lebat dan angin kencang menyebabkan ribuan penerbangan dan kereta api dibatalkan, sementara lebih dari 2,4 juta orang dievakuasi dari wilayah yang dilalui badai.

Menurut laporan badan berita Xinhua, sekitar 2.800 penerbangan kemungkinan besar dibatalkan oleh maskapai penerbangan Tiongkok pada pukul 20.00 Sabtu. Otoritas bandara setempat menyatakan Bandara Pudong dan Hongqiao di Shanghai harus membatalkan lebih dari 650 penerbangan, sekitar 30 persen dari kapasitas normal mereka. Bandara Xiaoshan di Hangzhou juga membatalkan 296 penerbangan pada hari Minggu, tetapi berencana untuk melanjutkan operasi setelah siang hari ketika pengaruh Bavi mulai melemah.

Dua dari empat stasiun utama di Shanghai, yaitu stasiun selatan dan barat, membatalkan semua kereta api untuk hari itu, sementara layanan lainnya juga ditangguhkan. Hal ini menyebabkan gangguan signifikan pada perjalanan darat dan meningkatkan tekanan pada sistem transportasi umum yang sudah sibuk.

Badai tersebut pertama kali menyentuh daratan di kota pesisir Taizhou, Zhejiang, pada pukul 23.12, kemudian melanda kota Wenzhou sekitar tengah malam, dengan kecepatan angin maksimum berkelanjutan sekitar 108–117 km/jam (67–72 mph). Luasnya yang mencapai 1.000 km pada titik terlebar—sekitar ukuran daratan Prancis—membuat badai ini meluas ke wilayah yang padat penduduk dan pusat logistik penting.

Gangguan ini berdampak pada rantai pasokan regional dan ekonomi, dengan banyak perusahaan logistik dan manufaktur terpaksa menghentikan operasi. Kehilangan pendapatan harian diperkirakan mencapai jutaan dolar AS, terutama di sektor penerbangan dan perhotelan. Kejadian ini juga mengingatkan kembali bahwa pola cuaca ekstrem seperti ini semakin sering terjadi di kawasan Asia Timur, kemungkinan terkait dengan perubahan iklim.

Di bidang teknologi, layanan meteorologi Tiongkok menggunakan data satelit dan sistem peringatan dini canggih untuk memprediksi lintasan badai. Indonesia dapat belajar dari integrasi teknologi ini, terutama dalam mengembangkan platform analitik cuaca berbasis AI dan sistem komunikasi darurat terpadu yang dapat mempercepat evakuasi dan pemberitahuan kepada publik.

Bagi Indonesia, yang juga rentan terhadap badai musiman dan perubahan iklim, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kesiapsiagaan bandara, sistem informasi penumpang yang real-time, dan koordinasi antarlembaga. Kerja sama regional dalam berbagi data cuaca dan teknologi dapat mengurangi dampak serupa di masa depan.

Meskipun badai Bavi mulai melemah, para ahli memperingatkan bahwa intensitas badai tropis di wilayah ini mungkin akan semakin meningkat seiring pemanasan global. Pemantauan yang berkelanjutan dan investasi pada infrastruktur tahan cuaca tetap menjadi prioritas utama bagi negara-negara di Asia Tenggara dan Timur.

Mengapa Ini Penting

Kejadian ini menunjukkan betapa rentannya jaringan penerbangan dan transportasi regional terhadap cuaca ekstrem, yang berdampak langsung pada ekonomi dan mobilitas jutaan orang. Bagi Indonesia, yang juga menghadapi ancaman badai musiman, hal ini menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dan infrastruktur yang tahan cuaca untuk mengurangi kerugian. Sektor teknologi memiliki peluang untuk berkontribusi melalui pengembangan solusi analitik cuaca berbasis AI dan platform komunikasi darurat yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan respons dengan cepat.

Sumber Asli
South China Morning Post
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit