Antrean panjang di depan toko teh legendaris Horii Shichimeien di Uji, Kyoto, menjadi bukti nyata bagaimana matcha Jepang kini menjadi komoditas global yang sangat dicari. Harga matcha premium di toko berusia ratusan tahun itu telah melonjak tiga hingga lima kali lipat dibanding lima tahun lalu, mencapai hampir 170 dolar AS per kaleng. Presiden toko, Chotaro Horii, mengakui bahwa boom pasar luar negeri justru menyelamatkan industri teh Jepang yang pernah mengalami penurunan drastis.
Namun, keberhasilan itu hadir dengan tantangan baru: pasokan tidak mampu mengejar permintaan. Proses produksi matcha Jepang bersifat lambat dan teliti. Daun tencha — bahan baku matcha — ditanam di bawah naungan selama 20 hingga 40 hari sebelum panen musiman pertama. Setelah dipetik, daun disegera distir untuk mencegah oksidasi, dikeringkan, dibuang tangkainya, lalu digiling perlahan menggunakan batu giling tradisional. Masing-masing batu giling hanya menghasilkan 40 gram bubuk per jam. Di pabrik Horii Shichimeien, 80 unit batu giling dibagikan oleh delapan petani teh Uji, dan hanya 10 di antaranya diperuntukkan untuk kualitas tertinggi.
Data Kementerian Pertanian Jepang menunjukkan ekspor teh hijau — termasuk matcha — mencatat rekor tinggi untuk keenam tahun berturut-turut. Pada 2024, volume ekspor melebihi 12.600 ton, naik 43 persen dari tahun sebelumnya. Produksi tencha domestik pun melonjak sekitar tiga kali lipat dalam satu dekade, menyentuh 6.200 ton. Angka-angka itu mengesankan, namun masih kalah jauh dari kapasitas produksi Cina.
Di sisi lain, di pegunungan Fanjing, Kota Tongren, Provinsi Guizhou, lanskap pertanian berubah drastis. Lahan yang dulang miskin dan sulit diakses kini ditanami teh matcha skala besar. Pemerintah daerah mendorong revitalisasi lahan dengan subsidi dan insentif, mengubah Guizhou — pernah menjadi provinsi termiskin di Cina — menjadi basis produksi matcha terbesar negara. Lebih dari 100.000 petani kini mengandalkan industri ini. Petani seperti Yang Xiuyuan, 71 tahun, mengaku pendapatan harian naik menjadi 100 yuan (sekitar 15 dolar AS) dari aktivitas pemangkasan, pemupukan, dan panen.
Tongren saja menyumbang sekitar seperlima produksi matcha nasional Cina. Menurut China Tea Marketing Association, Cina menguasai sekitar 70 persen pasokan matcha global tahun lalu dengan produksi lebih dari 12.000 ton. Perusahaan terbesar, Gui Tea Group, menjual lebih dari 2.500 ton, setengahnya diekspor ke lebih dari 50 negara — termasuk ke Jepang sendiri. Wakil Manajer Umum Gui Tea, Chen Xiaoming, menilai produksi Jepang tidak bisa mengejar kecepatan pertumbuhan permintaan global, menciptakan celah yang diisi produsen Cina.
Perbedaan fundamental terletak pada segmentasi pasar. Jepang mempertahankan citra matcha ceremonial grade — kualitas tertinggi untuk upacara teh dan konsumsi murni — yang menuntut ketelitian ekstrem. Cina fokus pada beverage-grade matcha untuk industri minuman seperti latte, es krim, dan roti. Segmen inilah yang mendominasi volume permintaan global. Keunggulan Cina ada pada lahan luas, tenaga kerja melimpah, dan kemampuan mempercepat skala produksi dengan teknologi modern.
Pemerintah Guizhou menargetkan nilai industri matcha capai 1,5 miliar dolar AS menjelang 2030 melalui peningkatan teknologi dan standar produksi. Investasi besar-besaran dialokasikan untuk memodernisasi pengolahan pasca panen dan pengendalian kualitas. Strategi ini bertujuan menggeser citra matcha Cina dari sekadar murah dan masif, menuju produk yang kompetitif secara kualitas di pasar menengah.
Bagi Uji, boom matcha tidak hanya menyelamatkan petani, tapi juga menggerakkan roda pariwisata. Tahun 2024, kota ini mencatat 6,2 juta kunjungan wisatawan — angka tertinggi dalam sejarah — banyak di antaranya datang mencari pengalaman matcha otentik. Kafe, toko oleh-oleh, dan bengkel teh meriah. Ekonomi lokal yang pernah tertekan oleh urbanisasi dan penurunan minat teh leaf-grade kini bangkit kembali, didorong oleh daya tarik budaya yang tak tergantikan.
Sejarah menutup lingkaran penuh: benih teh pertama kali dibawa dari Cina ke Uji sekitar 800 tahun lalu. Kini, Cina kembali menjadi pemain dominan di pasar global dengan model produksi yang berlawanan — industri skala besar versus kerajinan tradisional. Rivalitas ini bukan sekadar persaingan volume, tapi pertemuan dua falsafah: keaslian versus aksesibilitas.
Bagi industri makanan dan minuman Indonesia, dinamika ini berimplikasi langsung pada rantai pasok dan struktur biaya. Mayoritas matcha yang beredar di kafe dan restoran Indonesia bersumber dari Cina karena harga yang jauh lebih terjangkau — sering kali sepersepuluh harga matcha ceremonial Jepang. Ketersediaan stok yang stabil dari Cina memungkinkan bisnis F&B lokal menawarkan menu berbasis matcha dengan margin yang sehat. Namun, peningkatan kualitas matcha Cina di masa depan bisa menggeser preferensi pasar menengah global.
Di sisi lain, Indonesia sebagai produsen teh terbesar ke-7 dunia justru belum memiliki kehadiran signifikan di pasar matcha global. Iklim tropis dan varietas teh Assamika yang dominan di Indonesia kurang cocok untuk produksi tencha yang membutuhkan varietas Sinensis dan iklim subtropis dengan perbedaan suhu harian tajam. Peluang Indonesia lebih realistis berada di pengembangan produk turunan — seperti premix matcha lokal, ekstrak teh hijau fungsional, atau kolaborasi co-branding dengan produsen matcha asal Jepang maupun Cina untuk pasar Asia Tenggara.
Ke depannya, pasar akan terpolarisasi lebih jelas. Segmen premium akan tetap menjadi domain Jepang dengan narasi warisan budaya, sertifikasi geografis, dan kelangkaan terkontrol. Segmen mass market dan food service akan dikuasai Cina dengan efisiensi skala dan standar kualitas yang terus naik. Bagi pelaku bisnis di Indonesia, memahami perbedaan grade, rastreabilitas, dan volatilitas harga kedua sumber ini akan menjadi keuntungan kompetitif dalam merancang portofolio produk dan strategi harga.