Robot humanoid buatan China, Tiangong Ultra, meraih prestasi sejarah dengan menyelesaikan lari 100 meter dalam waktu 8,86 detik pada semifinal World Humanoid Robot Games 2026 di Beijing, Selasa (25/8). Pencapaian ini tidak hanya menghapus rekor robot sebelumnya 9,39 detik yang baru ditorehkan tiga hari lebih awal, tetapi juga melampaui rekor dunia manusia yang dipegang Usain Bolt sejak 2009 sebesar 9,58 detik.
Perlombaan berlangsung di National Speed Skating Oval, venue warisan Olimpiade Musim Dingin 2022, yang kini difungsikan sebagai arena uji coba teknologi robotika paling canggih. Tiangong Ultra melintas garis finish dengan kecepatan luar biasa, meskipun kemudian terjatuh setelah menabrak barrier pembatas yang dilapisi bantalan, memercikkan percikan api dari bagian pinggangnya. Insiden itu justru membuka diskusi teknis yang lebih dalam di kalangan para ahli.
Kejuaraan ini merupakan edisi kedua World Humanoid Robot Games, sebuah ajang berskala Olimpik yang dirancang khusus untuk robot berbentuk manusia. Lebih dari 2.000 robot bersaing dalam 1.300 perlombaan yang mencakup 51 cabang, mulai dari lari cepat, lompat jauh, tenis meja, hingga dansa ballroom. Berbeda dengan Olimpiade konvensional, robot juga diuji dalam skenario nyata seperti tugas rumah tangga, layanan hotel, dan respons darurat.
Profesor Dennis Hong dari University of California, Los Angeles (UCLA), menilai pencapaian ini sebagai milestone signifikan. Menurutnya, bukan sekadar soal kecepatan mentah, melainkan kompleksitas rekayasa untuk membuat robot bipedia berlari pada kecepatan itu. "Seiring bertambahnya kecepatan, keseimbangan, kontrol, dampak tabrakan, performa aktuator, dan ketahanan mekanis semuanya menjadi jauh lebih menantang," ujar Hong kepada media internasional.
Jatuhnya robot setelah finish menurut Hong justru mengajukan pertanyaan krusial: apakah robot mampu berhenti dengan aman, mengenali rintangan tak terduga, pulih dari kesalahan, dan melanjutkan tugas. Kemampuan itulah yang menentukan kegunaan nyata robot di dunia nyata, jauh melampaui sekadar memecahkan rekor kecepatan di lintasan terbuka.
Perlombaan ini berlangsung di tengah eskalasi rivalitas teknologi antara China dan Amerika Serikat. Peking memposisikan robotika sebagai salah satu pilar strategis dalam visi "Manufaktur Berkualitas Tinggi" untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan barat. Surat kabar resmi People's Daily menegaskan bahwa robot "pembantu rumah tangga" dan "penjaga lansia" masih dalam tahap pilot dan validasi, namun tantangan itulah yang jadi fokus pengembangan.
Bagi Indonesia, kemajuan ini menimbulkan dua sisi pertimbangan. Di satu sisi, percepatan otomatisasi perawatan lansia dan layanan domestik relevan dengan demografi Indonesia yang mulai memasuki fase penuaan pada 2030-an. Di sisi lain, ketergantungan pada impor teknologi inti — aktuator presisi, sensor taktil, dan algoritma kontrol gerak dinamis — tetap menjadi hambatan bagi industri robotika dalam negeri yang masih berkonsentrasi pada integrasi sistem, bukan komponen fundamental.
Saat ini, beberapa startup robotika Indonesia seperti Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Universitas Indonesia telah mengembangkan prototipe humanoid untuk riset dan pendidikan, namun skala dan kecepatan iterasi masih jauh di balik ekosistem China yang didukung kebijakan nasional dan modal ventura masif. Kolaborasi penelitian bilateral dan transfer teknologi melalui skema joint venture bisa menjadi jalur masuk bagi ekosistem lokal.
Secara global, rekor 8,86 detik menandai titik balik: robot humanoid mulai memasuki ranah performa fisik yang selama ini menjadi eksklusif manusia. Namun, seperti yang ditekankan Hong, lari cepat hanyalah benchmark. Uji nyata ada di lingkungan tidak terstruktur — rumah tangga penuh rintangan, rumah sakit yang membutuhkan empati, atau zona bencana yang tak terduga.
Masa depan robotika humanoid tidak ditentukan siapa paling cepat di lintasan, melainkan siapa paling andal di ruang tamu, rumah sakit, dan pabrik. World Humanoid Robot Games 2026 membuktikan China serius mengejar posisi pemimpin di balapan itu. Bagi Indonesia, momen ini seharusnya memicu percepatan roadmap nasional robotika agar tidak hanya jadi pasar, tapi juga pemain di rantai nilai global.