Serangan rudal balistik Rusia menghantam Ibu Kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu (1/8) pagi waktu setempat. Sedikitnya sembilan orang tewas dan 27 lainnya mengalami luka-luka, termasuk empat anak-anak.
Otoritas setempat melaporkan, serangan tersebut menyasar lima distrik di Kyiv. Di distrik Darnytsky, tujuh orang ditemukan tewas dan 14 lainnya dilarikan ke rumah sakit. Sementara itu, di distrik Solomiansky, dua orang tewas serta delapan orang luka-luka. Sebuah bangunan hunian lima lantai ikut rusak parah akibat terdampak serangan.
Ledakan demi ledakan terdengar nyaring. Berdasarkan pantauan di lokasi, lebih dari sepuluh ledakan beruntun memicu alarm mobil di sejumlah jalanan. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, sudah mengingatkan warganya sebelum serangan terjadi. "Ledakan di kota. Kyiv sedang diserang rudal balistik. Tetap di tempat perlindungan," tulis Klitschko di Telegram.
Layanan darurat Ukraina masih melakukan operasi penyelamatan. Foto-foto yang beredar memperlihatkan petugas pemadam kebakaran menjinakkan api di sebuah bangunan yang menjadi sasaran serangan. Tim penyelamat juga menyisir puing-puing dengan bantuan senter untuk mencari korban selamat. Jumlah korban disebut masih bisa bertambah.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi perang yang terus berlanjut antara Rusia dan Ukraina. Dalam beberapa bulan terakhir, Rusia meningkatkan serangan jarak jauh ke kota-kota Ukraina. Sebaliknya, Ukraina gencar melancarkan serangan balasan ke wilayah Rusia dengan harapan menekan Moskow untuk bersedia duduk di meja perundingan.
Hampir empat setengah tahun perang berlangsung, Rusia belum menunjukkan tanda-tanda menghentikan operasi militernya. Ukraina pun terus memperkuat pertahanan, termasuk meminta dukungan sistem pertahanan udara dari negara-negara Barat. Eskalasi ini menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik ke kawasan lain.
Pada saat yang sama, perusahaan ritel daring Rusia, Wildberries, melaporkan fasilitas logistiknya di Volgograd terbakar setelah serangan pada Jumat malam. Ini menjadi serangan terbaru yang menyasar fasilitas milik perusahaan tersebut. Tidak ada keterangan resmi mengenai pelaku serangan, namun insiden itu menegaskan bahwa gejolak perang kini menjalar hingga ke infrastruktur di dalam Rusia.
Di tengah pertempuran yang memanas, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan ini. Zelensky mengatakan, Trump menyetujui lisensi produksi rudal Patriot untuk Ukraina. Namun, Trump kemudian menekankan bahwa Washington harus "sangat hati-hati" dalam memberikan izin tersebut. Pernyataan itu mencerminkan dinamika dukungan Barat kepada Ukraina yang masih penuh kehati-hatian.
Bagi Indonesia, perang Rusia-Ukraina bukan sekadar konflik jauh di Eropa Timur. Perang yang berlarut-larut telah memicu kenaikan harga pangan dan energi dunia. Indonesia, yang masih mengimpor gandum dan sebagian kebutuhan energinya, merasakan dampaknya melalui inflasi dan tekanan rantai pasok. Karena itu, pemerintah Indonesia konsisten menyerukan dialog dan solusi damai.
Sikap non-blok yang dipegang Indonesia diuji oleh situasi ini. Di satu sisi, Indonesia menjalin hubungan ekonomi dengan Rusia dan Ukraina. Di sisi lain, tidak ada negara berkembang yang ingin melihat konflik berkepanjangan mengganggu stabilitas global. Jalan tengah yang ditempuh Jakarta adalah mendorong gencatan senjata tanpa memihak salah satu kubu.
Ke depan, perang bisa semakin sengit jika Ukraina memperoleh lisensi produksi rudal Patriot. Namun, keputusan AS yang berhati-hati menandakan bahwa dukungan militer tidak akan diberikan tanpa pertimbangan politik yang matang. Sementara itu, Kyiv bersiap menghadapi kemungkinan serangan susulan. Warga kota kembali diingatkan untuk waspada terhadap ancaman rudal balistik yang bisa datang sewaktu-waktu.
Yang jelas, gencatan senjata masih menjadi harapan yang jauh dari kenyataan. Setiap serangan baru hanya memperdalam krisis kemanusiaan dan memperpanjang penderitaan warga sipil. Dunia, termasuk Indonesia, hanya bisa menunggu dan berharap para pemimpin yang bertikai memilih jalan damai sebelum korban jiwa terus berjatuhan.