Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Jumat sore. Mata uang Garuda ditutup naik 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.963 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp17.995 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa apresiasi rupiah kali ini dipicu oleh adanya sinyal positif dari proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Investor di pasar global saat ini tengah mencermati dinamika diplomasi antara Washington dan Teheran, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemajuan dalam diskusi kedua negara tersebut.
Kendati demikian, situasi geopolitik masih diliputi oleh ketidakpastian. Laporan Wall Street Journal mengungkap bahwa pihak Teheran sempat menolak proposal AS terkait pelepasan klaim atas Selat Hormuz. Proposal tersebut sebelumnya menawarkan insentif finansial berupa akses ke aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas jaminan keamanan jalur distribusi minyak di kawasan strategis tersebut.
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS). Data menunjukkan penambahan lapangan kerja AS pada bulan Juni hanya mencapai 57 ribu, angka yang jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110 ribu. Revisi data bulan Mei yang lebih rendah dari laporan awal turut memperkuat narasi pelemahan ekonomi di sektor tenaga kerja.
Data Non-Farm Payroll (NFP) yang lemah ini memberikan efek domino terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada September mendatang menurun signifikan menjadi 51 persen dari sebelumnya 63 persen. Penurunan ekspektasi kebijakan ketat ini memberikan ruang napas bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, Bank Indonesia melalui kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat pergerakan rupiah pada level Rp17.960 per dolar AS. Pelaku pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut mengenai negosiasi AS-Iran serta tanda-tanda pemulihan permintaan minyak mentah pasca libur panjang di Amerika Serikat sebagai arah baru bagi harga komoditas energi dan stabilitas mata uang.