Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menyoroti keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik di Ukraina. Dalam sebuah tayangan televisi, Putin mendengarkan pemaparan dari Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, Valery Gerasimov, yang menuding bahwa rezim Kyiv tengah berupaya meyakinkan sponsor Barat mereka bahwa Ukraina telah mengambil inisiatif dan mencatatkan kemajuan signifikan di medan perang.
Menanggapi laporan tersebut, Putin menginstruksikan jajarannya untuk terus menganalisis keterlibatan setiap negara Barat dalam perang yang hingga kini belum berjalan sesuai rencana awal Moskow. Sejak invasi dimulai pada tahun 2022 dengan dalih demiliterisasi, Rusia kini tampaknya mengubah narasi konflik menjadi pertempuran langsung melawan NATO untuk membenarkan kebuntuan militer yang dialami pasukannya.
Namun, para analis menilai percakapan antara Putin dan Gerasimov tersebut terkesan diatur dan didasarkan pada klaim yang tidak akurat. Putin, misalnya, mengklaim pasukannya telah sepenuhnya membebaskan kota Kostiantynivka, meskipun kenyataannya pasukan Ukraina masih menguasai sebagian wilayah tersebut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan menantang Putin untuk datang langsung ke lokasi guna mencari solusi diplomatik.
Data dari Institute for the Study of War (ISW) menunjukkan adanya kesenjangan besar antara narasi Kremlin dan realitas lapangan. Meskipun Putin mengklaim telah menguasai lebih dari 3.000 kilometer persegi wilayah, data geolokasi terverifikasi mencatat bahwa perolehan wilayah Rusia antara Januari hingga Juli hanya mencapai 97 kilometer persegi akibat pergeseran garis depan dan serangan balik Ukraina.
Para pengamat menilai bahwa Putin sengaja membangun realitas buatan untuk menolak perkembangan taktis dan operasional yang merugikan Rusia. Kemampuan Kremlin dalam mengendalikan ruang informasi menjadi kunci utama untuk mempertahankan narasi keberhasilan militer di mata publik domestik, meskipun di lapangan, pasukan Rusia sering kali mengalami kerugian besar hanya untuk mencapai target simbolis.
Seorang perwira militer Ukraina mengungkapkan bahwa taktik Rusia sering kali melibatkan pengiriman tentara ke titik tertentu hanya untuk mengibarkan bendera demi kepentingan propaganda. Seringkali, unit yang dikirim untuk misi ini tidak pernah kembali, namun klaim keberhasilan tersebut tetap dipublikasikan sebagai upaya untuk menjustifikasi perang kepada audiens Rusia dan menyalahkan dukungan NATO sebagai alasan kegagalan blitzkrieg Moskow.