Ryan Fox mencatatkan putaran 62 pukulan atau delapan di bawah par pada Sabtu (18/7) di Royal Birkdale, Inggris, dan membagi puncak klasemen sementara British Open ke-154 bersama dua pegolf lain. Penampilan pegolf Selandia Baru berusia 39 tahun itu menyamai rekor putaran terendah dalam sejarah turnamen mayor pria yang lahir dua hari terakhir di lapangan yang relatif tenang.
Fox memulai hari di posisi par dan langsung tancap gas dengan sembilan birdie serta satu bogey. Di sembilan lubang pertama ia menuntaskan permainan dengan 29 pukulan, sebuah performa luar biasa yang membuatnya berpeluang mencetak 61 jika berhasil birdie di lubang 18. Upaya itu gagal setelah putt panjangnya meleset tipis usai pukulan kedua apik dari bunker.
Hasil 62 pukulan membawa Fox ke posisi delapan di bawah par secara akumulasi turnamen. Angka tersebut menyamai catatan Lucas Herbert dari Australia dan Sam Burns dari Amerika Serikat yang dibukukan Jumat lalu. Herbert nyaris menorehkan sejarah dengan 61 andai tak kelewat putt lima kaki di lubang terakhir.
Dua hari berturut-turut Royal Birkdale memproduksi skor 62 bukan kebetulan. Kondisi angin yang relatif tenang membuat lapangan yang biasanya menantang itu lebih ramah bagi pemain agresif. Sebelum edisi 2025, hanya ada lima putaran 62 dalam seluruh sejarah mayor pria, termasuk milik Branden Grace di Open 2017 di venue sama.
Rickie Fowler dan Xander Schauffele menyamai angka itu di US Open 2023, lalu Schauffele dan Shane Lowry mengulanginya di PGA Championship 2024. Lonjakan frekuensi skor rendah dalam tiga tahun terakhir menunjukkan evolusi perlengkapan dan kemampuan pegolf modern menghadapi lapangan tradisional.
Bagi pembaca Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada ketimpangan ekosistem golf nasional. Lapangan bergaya links seperti Royal Birkdale nyaris tak ada di Tanah Air karena keterbatasan geografis dan iklim tropis. Pegolf lokal seperti Naraajie Emerald Ramadhan Putra lebih sering berlaga di turnamen regional dengan standar lapangan berbeda.
Industri golf Indonesia sendiri masih bergerak lambat dalam hal pembinaan usia dini dibanding Selandia Baru yang melahirkan Fox dari tradisi olahraga kuat. Investasi pada akademi dan turnamen lokal menjadi kunci agar muncul nama yang bisa bersaing di mayor. Masyarakat luas dapat menonton turnamen lewat siaran berlangganan, namun akses lapangan tetap menjadi kendala sosial ekonomi.
Jackson Suber, Cameron Young, dan Ryan Gerard tertinggal dua pukulan dari Fox dan Herbert di posisi enam di bawah par. Sementara Bryson DeChambeau, yang Jumat lalu diganjar penalti dua pukulan oleh R&A karena dinilai tak sengaja memperbaiki area ayunan di lubang lima, memulai putaran ketiga dari posisi lima di bawah par.
Fox mengaku strategi agresif menjadi kunci hari itu. "Rencananya adalah bermain agresif. Saya memakai driver hampir di semua lubang kecuali satu dan sembilan. Strategi berubah sedikit karena angin di sini," ujarnya kepada Sky Sports. Ia juga menikmati bermain bersama Schauffele yang punya dua catatan 62 sendiri.
Schauffele, juara Open 2024 yang menjadi rekan satu grup Fox, mencatat 66 pukulan atau empat di bawah par dan berada di posisi empat di bawah par total. Scottie Scheffler, peringkat satu dunia yang berupaya mempertahankan Claret Jug seperti Padraig Harrington pada 2008, tertatih mulai putaran ketiga dengan jarak empat pukulan.
Putaran final akan menentukan apakah Fox bisa meraih mayor pertamanya setelah sembilan penampilan Open tanpa pernah masuk 20 besar. Tren skor rendah diprediksi berlanjut jika angin tetap tenang, namun cuaca Inggris kerap berbalik cepat. Bagi penggemar di Indonesia, pekan ini menjadi etalase betapa golf level tertinggi kini dikuasai konsistensi dan keberanian mengambil risiko.