Saham ritel fast-fashion online Shein mengalami penurunan lebih dari 10 persen dalam perdagangan pasar abu-abu di Hong Kong, satu hari sebelum rencana pendanaan perusahaan di perdagangkan secara resmi. Penurunan ini terjadi hanya hitungan menit setelah perdagangan dimulai, dengan kutipan dari sejumlah perantara Hong Kong seperti Futu Securities, Bright Smart, dan Phillip Securities.
Perusahaan yang didirikan di China ini berhasil mengumpulkan dana sebesar $1,7 miliar dengan harga saham Rp48,56 atau sekitar Rp315.000 per lembar saham. Dengan nilai ini, valuasi perusahaan mencapai sekitar $26,5 miliar, jauh di bawah puncak valuasi pasar swasta sebelumnya yang mencapai hampir $100 miliar pada tahun 2022.
Penurunan valuasi ini dipengaruhi oleh perubahan tarif dan pajak impor di Amerika Serikat dan Eropa, dua pasar utama bagi bisnis Shein. Perubahan kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian bagi model bisnis cepat yang mengandalkan rantai pasok global yang fleksibel dan murah.
Analis senior Futu Securities, Bevis Ho, menyatakan bahwa penurunan ini mencerminkan rasa hati-hati yang cukup kuat di kalangan investor, baik institusional maupun ritel. Menurutnya, saat ini pasar lebih tertarik pada tema seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika dibandingkan dengan sektor fast fashion.
Shein telah lama menjadi sorotan karena praktiknya dalam mengikuti tren cepat dengan biaya produksi rendah. Namun, ketergantungan pada pasar ekspor dan ketergantungan pada logistik internasional membuatnya rentan terhadap fluktuasi kebijakan pemerintah asing.
Di sisi lain, model bisnis Shein yang mengandalkan algoritma untuk memprediksi tren dan mengoptimalkan stok merupakan contoh nyata integrasi teknologi dalam industri ritel. Meskipun demikian, teknologi semata tidak cukup untuk menstabilkan valuasi jika faktor eksternal seperti regulasi dan geopolitik ikut mempengaruhi.
Untuk pembaca di Indonesia, berita ini menjadi pelajaran penting tentang risiko yang ditimbulkan ketergantungan pada pasar global yang tidak stabil. Meskipi memiliki basis konsumen yang besar, Indonesia masih harus waspada terhadap ketergantungan yang berlebihan pada model bisnis asing yang rentan perubahan.
Sejumlah platform e-commerce lokal seperti Tokopedia dan Shopee juga mengembangkan model bisnis serupa dengan Shein, namun dengan pendekatan yang lebih berfokus pada pasar domestik. Hal ini memberi mereka keuntungan dalam hal stabilitas regulasi dan logistik.
Namun, sejumlah startup moda cepat lokal seperti Pomelo dan Zalora juga mengalami tekanan serupa akibat perubahan dinamika pasar global. Mereka terpaksa menyesuaikan strategi harga dan model pengadaan barang untuk tetap kompetitif.
Dari sudut pandang pasar modal, penurunan ini menjadi sinyal bahwa investor semakin selektif terhadap sektor ritel yang tidak memiliki landasan teknologi yang kuat. Ini dapat memengaruhi keputusan pendanaan bagi startup sejenis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Sementara itu, rencana penawaran umum saham (IPO) Shein yang dijadwalkan untuk Senin (1 September) tetap akan dilanjutkan, meskipun dengan ekspektasi yang lebih rendah dari sebelumnya. Pasar akan menunggu angka-angka keuangan resmi dan proyeksi pertumbuhan yang lebih rinci.
Looking ahead, Shein perlu menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan regulasi yang berubah-ubah, sekaligus memperkuat fondasi teknologi dan logistiknya agar tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal yang di luar kendalinya.
Bagi industri ritel global, lesson ini jelas: valuasi yang tinggi harus didukung oleh profitabilitas nyata dan kepatuhan regulasi yang konsisten. Teknologi saja tidak cukup — keberlanjutan jangka panjang juga harus menjadi prioritas.