Mayoritas pasar saham global melemah pada Kamis (16/7/2026) seiring aksi jual di sektor teknologi, sementara harga minyak berfluktuasi setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan baru. Penurunan dipicu oleh kejatuhan saham semikonduktor serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang menekan sentimen investor di Wall Street dan Eropa.
Pelemahan di bursa Asia mendahului pergerakan negatif di pasar Eropa dan Amerika. Indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi memimpin koreksi dengan penurunan 1,5 persen. Di Seoul, indeks Kospi ambruk lebih dari 6 persen karena dua raksasa chip, SK hynix dan Samsung, terjun bebas di tengah kecemasan bahwa reli kecerdasan buatan (AI) yang mendongkrak nilai kedua perusahaan ke rekor tertinggi tahun ini telah berakhir.
Investor mulai mempertanyakan apakah dana raksasa yang digelontorkan ke sektor AI dalam beberapa tahun terakhir akan membuahkan hasil yang sepadan dengan valuasi fantastis sejumlah perusahaan. Keraguan ini muncul justru ketika produsen chip melaporkan kinerja gemilang. TSMC mencatat lonjakan laba bersih lebih dari 77 persen ke rekor tertinggi pada kuartal II-2026 berkat permintaan hardware AI, dan berencana menambah investasi 100 miliar dolar AS di Arizona. Namun sahamnya di New York tetap tertekan.
Hal serupa terjadi pada ASML asal Belanda, pembuat mesin litografi yang menopang industri semikonduktor. Saham perusahaan itu turun setelah merilis pendapatan luar biasa pada Rabu (15/7/2026). Dan Coatsworth, kepala pasar di AJ Bell, menilai sentimen rapuh membuat investor menarik diri dari saham memori setelah lari harga yang sulit dijelaskan secara fundamental.
Penjualan ritel AS naik tipis 0,2 persen bulan ke bulan, sesuai ekspektasi, tetapi lebih lambat dari lompatan 1,0 persen pada Mei. Analis menyebut angka itu menunjukkan permintaan konsumen masih solid seiring turunnya harga bensin. Data ekonomi yang menenangkan itu tidak cukup menahan volatilitas saham pekan ini.
Tekanan tambahan datang dari memburuknya ketegangan AS-Iran yang sejak awal pekan mendongkrak harga minyak. Pada Kamis, AS menyerang Iran dan Teheran membalas ke sekutu AS di Teluk. Harga minyak sedikit turun hari itu, tetapi ketidakpastian tetap tinggi. Jose Torres, ekonom senior Interactive Brokers, mengingatkan minyak mahal mulai menguji konsensus bahwa tekanan biaya puncak sudah lewat.
Bagi Indonesia, gejolak ini relevan karena negeri masih mengimpor mayoritas kebutuhan energi. Kenaikan harga minyak mentah berisiko menambah beban subsidi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Di sisi lain, jatuhnya saham teknologi global berimbas ke perusahaan domestik yang berada di rantai pasok elektronik serta reksa dana saham luar negeri milik investor lokal.
Koreksi di SK hynix dan Samsung juga menyentuh konsumen Indonesia. Kedua vendor menguasai pasar memory dan komponen ponsel serta laptop di Tanah Air. Jika valuasi AI benar-benar masuk fase penyesuaian, harga komponen bisa berubah, meski efeknya baru terasa beberapa kuartal ke depan.
David Morrison, analis pasar Trade Nation, menyatakan publik kini menunggu apa yang bisa ditawarkan korporasi teknologi AS untuk membangkitkan minyak lagi antusiasme investor. Ia menekankan pentingnya periode laporan laba yang akan memanas dalam dua pekan ke depan. Jorge Leon, wakil presiden senior Rystad Energy, menambahkan peluang tidak adanya kesepakatan substansial AS-Iran kini di angka 55 persen.
Leon menjelaskan kedua negara punya insentif ekonomi kuat untuk menghindari putusnya hubungan, namun sengketa program nuklir dan Selat Hormuz belum tuntas. Ia memproyeksikan setelah 16 Agustus, pasar pelayaran harus beradaptasi dengan ancaman berkelanjutan而非 sekadar berharap diplomasi menyelesaikan krisis.
Dua pekan ke depan menjadi penentu arah pasar. Musim laporan keuangan perusahaan besar akan menguji apakah dana AI memang produktif. Sementara itu, perkembangan militer di Timur Tengah akan terus menggoyang harga energi dan inflasi global, termasuk di Indonesia.
Investor domestik disarankan memantau rebalancing portofolio dan tidak panik mengikuti sentimen eksternal. Volatilitas semikonduktor mungkin membuka celah valuasi menarik, tetapi risiko geopolitik menuntut kehati-hatian.