Penyanyi Korea Selatan Sandara Park, yang dikenal sebagai mantan personel grup legendaris 2NE1, melangkah baru dalam karir solonya dengan menandatangani kemitraan strategis bersama Power Entertainment, agensi berbasis Singapura yang dipimpin oleh pengusaha David Yong. Pengumuman resmi disampaikan melalui konferensi pers yang dihadiri CNA Lifestyle pada Kamis (16/7) di Singapura, menandai komitmen serius Park untuk memperluas jangkauan di pasar Asia Tenggara.
Dalam konferensi pers tersebut, Park yang berusia 41 tahun mengungkapkan bahwa ia telah berubah banyak sejak kunjungan terakhirnya ke Singapura. Memilih berbicara dalam bahasa Korea agar bisa mengekspresikan diri lebih dalam, ia berkata: "Dulu, saya lebih fokus pada cara mengekspresikan apa yang dibuat produser untuk saya di atas panggung. Tapi sekarang, saya melakukan lebih banyak hal seperti mengomposisi lagu dan memproduksi album sendiri." Tugas rumah terbesar yang ia fokuskan kini adalah bagaimana menyampaikan pesan yang ia inginkan kepada penggemar melalui musiknya.
Koneksi antara Park dan Yong bermula dari festival musik Waterbomb Singapura edisi pertama pada 2024, di mana Park tampil sebagai salah satu penyanyi dan Yong bertindak sebagai co-organizer. "Sejak saat itu, saya menantikan pertunjukan-pertunjukan hebat seperti itu," ujar Park. Power Entertainment akan berkolaborasi dengan agensi Park, Aradnas, untuk memperluas aktivitasnya di wilayah ini. Yong menegaskan bahwa fokus utamanya adalah memastikan Park memiliki lebih banyak kegiatan di Asia Tenggara.
Selain Power Entertainment, Park juga berencana bekerja sama dengan tiga mitra lain yang belum disebutkan namanya untuk mencakup wilayah lain. Visi Park jelas: ia ingin menciptakan pengalaman yang "melokalisasi" dan mendekatkan dirinya dengan penggemar lokal di setiap negara, bukan sekadar menampilkan konten atau konser yang sama di mana-mana. "Saya lahir di Korea, tapi besar di Filipina. Ada perbedaan [saat saya di masing-masing negara]," kata Park sambil beralih ke bahasa Inggris. "Di Korea, saya [formal], tapi di Filipina, saya seorang komedian. Budayanya berbeda."
Pengalaman hidup lintas budaya itulah yang menurut Park membuatnya mampu beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan orang yang beragam. "Karena pengalaman saya, karena saya memiliki cara mengekspresikan diri yang berbeda di budaya yang berbeda, saya merasa bisa beradaptasi. Itu menjadi siapa saya," tuturnya. Sebagai penyanyi solo, ia ingin menciptakan pengalaman yang lebih dekat dengan penggemar lokal di mana kedua belah pihak bisa merasa empati satu sama lain.
Sebagai langkah nyata pertama, Power Entertainment akan mengadakan sesi meet-and-greet di Orchard Central pada Jumat (17/7). Acara ini akan menampilkan sesi hi-bye dan kesempatan foto grup bagi pembeli terpilih. Di sisi musik, Park baru-baru ini merilis single terbarunya berjudul Reprism yang berisi dua trek, Festival (Reprism Ver) dan Nail, keduanya dikomposisi dan dilirikkan olehnya sendiri.
Park mengakui bahwa memproduksi album sendiri adalah tantangan besar, namun juga hal yang paling memuaskan secara kreatif. "Lagu-lagu [dulu] terasa seperti cerita orang lain... Tapi kali ini, saat mempersiapkan konser penggemar Korea saya [awal Juli], saya berpartisipasi secara aktif," ujarnya. "Jadi meski saya cukup lambat dibandingkan teman-teman sebaya, tapi karena itu, saya merasa ada begitu banyak cerita yang terumpuk selama 20 tahun."
Keberhasilan reuni tur 2NE1 baru-baru ini membuktikan bahwa Park tetap menjadi kekuatan yang dihitung dalam industri K-pop. Namun, definisi kesuksesan baginya telah berubah drastis. "Mungkin karena usia atau pengalaman bertahun-tahun. Saat debut pertama, peringkat [lagu saya] adalah poin kesuksesan yang sangat penting," jelas Park. Ia mengingat bagaimana sejak debut di Filipina hingga menjadi personel 2NE1, ia selalu mendapat posisi nomor satu di berbagai ranking.
"Tapi seiring hidup, Anda tidak akan selalu menjadi nomor satu. Setelah bekerja begitu lama, saya menyadari bahwa tetap aktif itu sendiri sangat berharga bagiku," lanjutnya. "Fakta bahwa saya bisa terus menantang [diri sendiri] dan rajin serta melakukan hal-hal yang saya cintai, itulah yang saya sadari sangat bernilai." Perspektif matang ini mencerminkan pergeseran dari orientasi eksternal ke motivasi intrinsik yang lebih berkelanjutan.
David Yong sendiri adalah figur yang menarik perhatian publik lewat penampilannya di reality show Netflix Super Rich In Korea. Ia menjabat CEO di Evergreen Group Holdings dan saat ini menghadapi gugatan hukum terkait perusahaan holding multinasional tersebut. Meskipun demikian, komitmen Power Entertainment untuk ekspansi regional tampaknya tidak terganggu, dengan Park sebagai bintang utama strategi mereka di pasar Asia Tenggara.
Bagi industri hiburan Indonesia, langkah ini menandakan semakin seriusnya agensi regional menargetkan pasar Asia Tenggara sebagai blok yang koheren, bukan sekadar ekstensi dari pasar Korea atau China. Indonesia dengan populasi besar dan basis penggemar K-pop yang fanatik menjadi pasar kunci yang pasti akan menjadi fokus dalam rencana "lokalisasi" yang digagas Park. Kolaborasi dengan mitra lokal yang memahami nuansa budaya dan preferensi penggemar Indonesia akan menentukan keberhasilan strategi ini.
Ke depan, pergerakan Park dan Power Entertainment patut diamati sebagai studi kasus bagaimana bintang K-pop generasi senior mentransisi ke peran seniman mandiri dengan kendali kreatif penuh, sambil memanfaatkan jaringan regional untuk membangun karir yang berkelanjutan di pasca-puncak popularitas grup. Model ini bisa menjadi referensi bagi artis-artis lain yang menghadapi fase serupa.