Internasional

Scaloni Menangis Usai Kalah di Final, Masa Depan di Argentina Menggantung

Ringkasan

  • Scaloni menangis usai Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 Minggu dan belum pasti lanjut melatih.

Lionel Scaloni meneteskan air mata dalam konferensi pers pasca-final Piala Dunia 2026 setelah Argentina takluk 0-1 dari Spanyol, dan menyatakan belum memutuskan apakah akan lanjut melatih timnas. Kekalahan di final yang berlangsung Minggu tersebut mengakhiri ambisi La Albiceleste menjadi juara bertahan pertama sejak Brasil pada 1958 dan 1962.

Pelatih berusia 48 tahun itu mengakui sulit membayangkan bisa meracik skuad sekuat era terakhir jika harus kembali memimpin. Argentina tampil dengan 10 pemain dan gagal menyamai rekor back-to-back yang sudah tertunda enam dekade. Spanyol unggul lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106, meski Scaloni menilai timnya pantas kalah karena lawan lebih mendominasi penguasaan bola dan peluang.

Scaloni ditunjuk menangani Argentina usai kegagalan di babak 16 besar Piala Dunia 2018, saat publik meragukan kapasitasnya karena minim pengalaman sebagai pelatih kepala dan hanya sebentar jadi asisten. Keraguan itu sirna ketika ia langsung membawa Copa America 2021, juara dunia 2022, lalu Copa America 2024. Kontrakannya akan habis Desember mendatang.

Jika benar-benar mundur, ia tercatat sebagai pelatih tersukses dalam sejarah federasi dengan tiga trofi mayor. Pencapaian itu melampaui Carlos Bilardo yang hanya punya gelar 1986 dan final 1990 tanpa titel Copa America. Scaloni juga jadi pelatih Argentina kedua yang dua kali beruntun ke final Piala Dunia setelah Bilardo.

Di Indonesia, kabar ini menarik karena menyentuh dilema transisi generasi yang juga dihadapi pelatih timnas. Shin Tae-yong sempat membangun skuad dengan mayoritas pemain muda, namun belum ada kepastian skema lanjutan usai siklus Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia. Kegamangan Scaloni mencerminkan betapa sulitnya menjaga konsistensi usai satu generasi emas habis.

Penggemar lokal kerap membandingkan loyalitas pelatih dengan prestasi instan. Scaloni menunjukkan bahwa stabilitas teknik dan manajemen manusia bisa menghasilkan tiga trofi dalam enam tahun. Namun, ia juga menunjukkan batasnya: kelelahan emosional dan kebutuhan reset total saat bintang utama menuju akhir karier.

Lionel Messi, yang sudah 39 tahun, masih tampil luar biasa dengan delapan gol dan empat assist di turnamen ini. Partisipasinya di Piala Dunia 2030 hampir mustahil. Delapan pemain yang starter di final 2022 juga main di 2026, dan pergantian besar bakal terjadi. Situasi itu mirip dengan timnas Indonesia yang kehilangan pemain senior secara bertahap tanpa pengganti setara.

"Saya akan berbicara dengan presiden federasi. Saya punya gambaran soal yang ingin dilakukan, tapi perlu waktu untuk memikirkannya," ujar Scaloni melalui penerjemah. Ia menegaskan tidak akan buru-buru memutuskan dan ingin menuntaskan kontrak sambil merefleksi diri.

Ia menambahkan rasa syukur atas kesempatan melatih tim impian masa kecilnya. "Kami mencoba sampai menit terakhir. Staf dan pemain sudah maksimal. Saya butuh waktu untuk diri sendiri," katanya sebelum meninggalkan ruangan ditepuk tangan awak media.

Proyeksi ke depan cukup jelas: Argentina akan masuk era tanpa Messi dan mungkin tanpa Scaloni. Federasi harus mencari pelatih yang bisa merombak skuad sembari mempertahankan budaya menang. Bagi Indonesia, ini pelajaran soal pentingnya rencana suksesi pelatih dan pemain sebelum siklus emas berakhir.

Turnamen 2026 menjadi penanda bahwa dominasi satu negara tidak abadi. Spanyol menang dengan marjin tipis, namun cukup untuk mengubah arah sejarah. Scaloni mungkin pergi, namun sistem yang ia bangun akan diuji oleh siapa pun penggantinya nanti.

Mengapa Ini Penting

Kegamangan Scaloni memperlihatkan bahwa suksesi pelatih dan regenerasi pemain adalah krisis tersembunyi yang sering diabaikan saat tim sedang juara. Penggemar Indonesia bisa menarik pelajaran dari gagalnya sistem mempertahankan dominasi tanpa bintang utama. PSSI perlu menyusun peta jalan pelatih dan pemain sebelum siklus emas berlalu agar tidak terjebak kekosongan prestasi. Berita ini juga menguatkan argumen bahwa stabilitas teknik butuh waktu, bukan sekadar ganti pelatih tiap gagal.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit