FOXBOROUGH, Massachusetts – Mantan pemain timnas Jerman dan pemenang Piala Dunia, Bastian Schweinsteiger, secara tegas menepis tuduhan rasisme yang ditujukan kepadanya menyusul komentar mengenai gaya bermain sepak bola negara-negara Afrika. Schweinsteiger, yang saat ini bertugas sebagai komentator untuk stasiun televisi Jerman, ARD, menyatakan bahwa pernyataannya murni merupakan analisis teknis sepak bola dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.
Kontroversi ini bermula ketika pelatih tim nasional Pantai Gading, Emerse Fae, mengungkapkan kekecewaannya atas pernyataan Schweinsteiger. Dalam sebuah siaran, Schweinsteiger menyebut sepak bola Afrika sebagai sesuatu yang "liar" dan "tidak ortodoks" saat membahas persiapan tim Jerman melawan Pantai Gading di turnamen tersebut. Fae menilai penggunaan diksi tersebut tidak pantas dan menjurus pada sentimen rasial.
Menanggapi hal tersebut, Schweinsteiger memberikan klarifikasi melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh ARD. Ia menegaskan bahwa pembicaraannya fokus pada aspek taktis dan gaya permainan di lapangan, bukan ditujukan kepada individu atau kelompok masyarakat tertentu. Menurutnya, analisis tersebut merupakan bagian dari tugasnya sebagai analis sepak bola untuk memberikan gambaran mengenai pola permainan yang mungkin dihadapi oleh tim Jerman.
Dukungan penuh diberikan oleh ARD terhadap sang pundit. Koordinator Olahraga ARD, Axel Balkausky, menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan unsur rasisme dalam pemilihan kata yang digunakan Schweinsteiger. Balkausky menegaskan bahwa diskusi tersebut sepenuhnya merupakan penilaian profesional mengenai teknis sepak bola dan menyarankan agar Fae berdialog langsung dengan Schweinsteiger untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut.
Di sisi lain, Emerse Fae tetap bersikukuh dengan pandangannya. Ia mengkritik bahwa seorang tokoh dengan latar belakang pemain kelas dunia seperti Schweinsteiger seharusnya memahami implikasi dari ucapannya. Fae menyatakan bahwa sepak bola Afrika telah berkembang dan memiliki sisi teknis serta taktis yang kuat, bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik atau gaya bermain yang tidak teratur seperti yang digambarkan.
Fae menambahkan bahwa ia memilih untuk tidak membuang energi dalam menanggapi komentar tersebut dan lebih memilih untuk membuktikan kualitas timnya di lapangan. Ia berharap bahwa performa Pantai Gading di turnamen ini dapat mematahkan stigma mengenai gaya permainan sepak bola Afrika yang selama ini masih sering disalahartikan oleh berbagai kalangan di dunia sepak bola internasional.