Bisnis & Startup

Sekda Jateng Panggil Sinergi Penuh untuk Kebangkitan Koperasi, Targetkan Ekonomi Kerakyatan Tangguh

Ringkasan

  • Sekda Jateng Sumarno mengajak sinergi multi-pihak untuk kebangkitan koperasi lewat semangat 'nyengkuyung' pada peringatan Hari Koperasi ke-79.
  • Kegiatan Runwalk UMKM di Surakarta diikuti 2.000 peserta dari 35 kabupaten/kota, didukung 6.271 Koperasi Merah Putih beroperasi.

Semarang – Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno, menggelar seruan kuat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk "nyengkuyung"—istilah Jawa yang bermakna saling menopang dan membantu—dalam menggerakkan roda kebangkitan koperasi di wilayahnya. Pernyataan ini disampaikannya usai melepas pelarian santai (Runwalk) UMKM sebagai penutup rangkaian peringatan Hari Koperasi ke-79 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kawasan Stadion Manahan, Kota Surakarta, Minggu lalu. Di hadapan ribuan peserta, Sumarno menegaskan bahwa upaya pemerintah menghidupkan kembali sektor koperasi, termasuk melalui program unggulan Koperasi Merah Putih, tidak akan berhasil tanpa dukungan aktif dari dunia usaha, akademisi, hingga akar rumput masyarakat. "Koperasi tidak bisa berkembang sendirian. Mari kita sengkuyung bareng-bareng," ujarnya dengan nada yang mengajak kolaborasi nyata.

Kegiatan pelarian santai itu sendiri mencatat kehadiran sekitar 2.000 peserta yang berasal dari 35 kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Komposisi pesertanya mencerminkan ekosistem koperasi yang lengkap: mulai dari perangkat Dinas Koperasi dan UKM daerah, pengurus koperasi swasta, hingga pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang saat ini menjadi fokus utama pembangunan ekonomi desa. Mereka menempuh rute sejauh 2,7 kilometer mengelilingi stadion, bukan sekadar olahraga, melainkan demonstrasi semangat kolektif untuk memperkuat gerakan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang dikonstitusikan dalam UUD 1945 Pasal 33.

Wali Kota Surakarta, Respati Ardianto, yang mendampingi Sekda saat pelepasan, turut menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung transformasi koperasi. Kehadiran pemimpin daerah setingkat kota menandakan bahwa gerakan ini bukan sekadar jargon tingkat provinsi, tetapi diturunkan ke tingkat implementasi teknis di daerah. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Desi Arijani, menyoroti bahwa Runwalk UMKM menjadi penutup rangkaian kegiatan yang cukup padat selama sebulan penuh. Sebelumnya, peringatan Hari Koperasi diisi dengan pameran produk unggulan koperasi dan UMKM, sarasehan kebijakan, tirakatan silaturahmi antar penggerak koperasi, serta gelar budaya yang menampilkan keberagaman budaya lokal dari berbagai daerah.

Data yang dikutip dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan Jawa Tengah saat ini mencatat 6.271 unit Koperasi Merah Putih yang sudah beroperasi, menjadikan provinsi ini sebagai pelopor implementasi program prioritas nasional tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kapasitas organisasi desa yang mulai dibangun secara sistematis. Menkop Budi Arie Setiadi pernah menyebut Jawa Tengah sebagai pelopor insersi kurikulum koperasi ke dalam sistem pendidikan, menandakan upaya regenerasi kader koperasi dimulai dari bangku sekolah. Transformasi struktural ini krusial mengingat sejarah koperasi di Indonesia yang pernah mengalami stagnasi dan citra negatif akibat praktika pengelolaan tidak profesional di masa lalu.

Dalam konteks makro, seruan "nyengkuyung" ini selaras dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan Koperasi Desa (Kopdes) mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan potensi dana yang diklaim dapat mencapai Rp223 triliun. Angka fantastis ini hanya terwujud jika tata kelola koperasi benar-benar profesional, transparan, dan adaptif terhadap dinamika pasar digital. Kementerian Koperasi pun telah menyiapkan langkah konkret dengan berencana meresmikan pengelolaan minyak sawit dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh KDKMP pada Agustus 2026. Inisiatif ini menandakan pergeseran peran koperasi dari sekadar unit simpan pinjam sederhana ke entitas usaha berbasis aset strategis dan energi terbarukan.

Namun, tantangan nyata tetap menghadang. Banyak koperasi desa masih terjebak dalam keterbatasan modal, SDM yang minim kompetensi manajemen modern, serta akses pasar yang sempit. Kolaborasi dengan akademisi yang disebutkan Sekda Sumarno menjadi kunci untuk mengisi gap keilmuan, misalnya melalui pendampingan sistem akuntansi berbasis cloud, digitalisasi administrasi anggota, hingga pengembangan produk bernilai tambah. Dunia usaha (BUMN dan swasta) diharapkan masuk sebagai mitra off-taker atau penyedia teknologi, menciptakan rantai nilai yang adil. Tanpa sinergi multi-pihak yang konkret, semangat "nyengkuyung" berisiko terjebak pada nivel retorika semata.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa momentum Hari Koperasi ke-79 ini harus dijadikan titik balik (turning point) evaluasi kinerja. Data 6.271 Koperasi Merah Putih yang beroperasi perlu dibedakan antara yang benar-benar aktif secara bisnis (generating revenue) versus yang hanya aktif secara administrasi (terdaftar saja). Indikator keberhasilan tidak boleh hanya jumlah unit, melainkan rasio kepatuhan anggota, margin keuntungan yang dibagikan (SHU), dan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga anggota. Pemerintah daerah perlu menetapkan dashboard monitoring real-time yang terbuka untuk publik guna memastikan akuntabilitas.

Di era ekonomi digital, koperasi juga dituntut untuk bertransformasi menjadi platform berbasis teknologi. Adopsi e-commerce, sistem pembayaran digital, dan manajemen rantai pasok terintegrasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan untuk bertahan. Program insersi kurikulum koperasi di Jawa Tengah harus diperluas mencakup literasi digital dan kewirausahaan berbasis teknologi bagi generasi muda.只有这样, visi "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya" yang diklaim Desi Arijani dapat terealisasi sebagai realita ekonomi inklusif dan berkelanjutan, bukan sekadar slogan ceremonial.

Mengapa Ini Penting

Kebangkitan koperasi di Jawa Tengah menjadi barometer implementasi program strategis nasional Koperasi Merah Putih. Sukses gagalnya sinergi 'nyengkuyung' ini akan menentukan apakah 6.271 unit koperasi desa benar-benar bertransformasi menjadi engine pertumbuhan ekonomi inklusif atau tetap terjebak administrasi. Bagi industri teknologi, ini membuka peluang besar penyedia solusi digitalisasi akuntansi, e-commerce, dan manajemen rantai pasok untuk masuk ke pasar massal basis desa. Jika koperasi mampu adoptasi teknologi dan tata kelola profesional, potensi dana Rp223 triliun yang diklaim Presiden bisa terealisasi, menciptakan ekosistem ekonomi digital dari bawah yang tangguh.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit