Berita

Sekjen Golkar M. Sarmuji Dorong NU Fokus pada Politik Kebangsaan

Sekjen Golkar M. Sarmuji Dorong NU Fokus pada Politik Kebangsaan

Ringkasan

  • Sekjen Golkar M.
  • Sarmuji mengajak Nahdlatul Ulama (NU) mengurangi keterlibatan dalam politik praktis demi memperkuat peran politik kebangsaan.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, secara terbuka mengajak Nahdlatul Ulama (NU) untuk mulai membatasi keterlibatan dalam politik praktis dan beralih memperkuat perannya dalam politik kebangsaan. Ajakan ini disampaikan dalam diskusi bertajuk 'NU Masa Depan dan Masa Depan NU' yang diselenggarakan oleh Yayasan Talibuana Nusantara di Jakarta, Kamis (2/7).

Menurut Sarmuji, terdapat perbedaan fundamental antara politik kecil dan politik besar. Ia menyoroti bahwa keterlibatan NU dalam politik kecil kerap terlihat saat organisasi ini disibukkan dengan urusan teknis pemilu, seperti menjadi tim sukses atau memenangkan kandidat tertentu. Baginya, fenomena ini justru mendegradasi posisi NU yang seharusnya menjadi pengawal nilai-nilai kebangsaan.

Sarmuji menegaskan bahwa politik besar adalah politik kebangsaan, di mana NU memosisikan diri sebagai civil society yang berperan strategis dalam menasihati negara. Ia menilai saat ini Indonesia sedang mengalami kekosongan peran penyeimbang yang mampu memberikan masukan kepada pemerintah dengan cara yang santun, adem, dan penuh kelembutan, sesuai dengan tradisi khas NU.

Lebih lanjut, ia mencontohkan metode dakwah Nabi Muhammad SAW yang memberikan nasihat kepada pemimpin secara privat dan penuh etika. Pendekatan yang tidak konfrontatif ini dinilai sangat relevan diterapkan oleh NU agar kritik yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pemerintah tanpa menimbulkan gesekan politik yang tidak perlu.

Ia berargumen bahwa efektivitas organisasi masyarakat sebagai penyeimbang kekuasaan sangat ditentukan oleh cara penyampaian aspirasi. Jika NU mampu mempertahankan perannya sebagai penasihat negara yang bijak, maka posisi tawar organisasi tersebut justru akan semakin kuat di mata publik maupun pemerintah, tanpa harus terlibat dalam pragmatisme politik.

Sebagai penutup, Sarmuji menekankan bahwa NU tidak perlu khawatir kehilangan 'berkah politik' dengan menarik diri dari politik praktis. Sebaliknya, dengan fokus mengawal kualitas demokrasi dan menjaga arah kebijakan negara tetap berada di jalur yang benar, NU akan tetap menjadi aktor utama yang diperhitungkan dalam percaturan nasional Indonesia masa depan.

Mengapa Ini Penting

Berita ini relevan karena menyoroti posisi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia sebagai penyeimbang kekuasaan (civil society). Hal ini penting bagi stabilitas demokrasi nasional di mana peran ormas diharapkan menjadi katalisator kebijakan yang konstruktif ketimbang sekadar instrumen pemenangan pemilu.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
3 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit