Pejabat Amerika Serikat secara diam-diam meminta pemerintah lain memperingatkan Iran soal rencana Israel membunuh dua negosiator utama Tehran, pada musim semi tahun ini. Langkah itu diambil Washington karena khawatir Israel akan membunuh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dua tokoh yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan paling sensitif di Timur Tengah dalam satu generasi.
Dua pejabat AS membenarkan peringatan tersebut kepada CNN, sementara Israel menepis laporan itu sebagai rekayasa. Fakta bahwa Washington memilih memperingatkan musuh rather than memerintahkan sekutunya berhenti menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan Tel Aviv. AS tidak bisa sekadar mendikte Israel, negara yang selama ini menjadi poros strategi regionalnya.
Ketegangan ini bukan hipotetis. Serangan Israel sebelumnya dalam perang telah menewaskan Ali Larijani, mantan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dan Kamal Kharazi, mantan menteri luar negeri sekaligus penasihat kebijakan luar negeri pemimpin tertinggi. Keduanya adalah figur pragmatis yang sempat diharapkan Washington jadikan mitra bicara. Jalur diplomasi kini bergantung pada Araghchi dan Ghalibaf justru karena tokoh-tokoh lain yang bisa memimpin telah tiada.
Ghalibaf disebut selamat dari dua upaya pembunuhan Israel, satu pada perang 12 hari Juni 2025 dan satu lagi tahun ini saat Israel menyerang bunker tempat pejabat senior berkumpul. Pola ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap proses damai datang dari pihak yang seharusnya mendukung stabilitas versi Washington.
Dalam studi resolusi konflik, aktor yang merusak proses perdamaian disebut sebagai spoiler. Ilmuwan politik Stephen Stedman mencatat bahwa spoiler di luar proses adalah yang paling berbahaya karena tak menanggung biaya saat runtuhnya perundingan. Mereka biasanya menyerang saat proses hampir mencapai hasil nyata atau saat simbol politik memicu keretakan.
Saat proses AS-Iran menghasilkan kesepakatan sementara untuk menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz, Iran sedang berkabung untuk Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di hari pertama perang. Prosesi berkabung tumpang tindih dengan perayaan Kemerdekaan AS. Israel Katz menyatakan pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei sebagai target, sementara Araghchi menuntut Washington menahan sekutunya. Mojtaba bahkan absen dari pemakaman ayahnya demi keamanan.
Teori aliansi menyebut posisi AS sebagai entrapment, yakni terjebak dalam keinginan klien. Glenn Snyder menjelaskan patron bisa terseret ke hasil yang tak diinginkan. Dalam kasus Iran, inversinya terjadi: klien menarik patron keluar dari perdamaian. Israel memiliki pengaruh domestik di AS yang membuat koersi politik mustahil.
Laporan Ynet mengungkap kantor Netanyahu menekan intelijen sendiri untuk membesar-besarkan capaian perang, padahal perwira dan ilmuwan keberatan. Kesepakatan damai dianggap sangat buruk bagi Israel karena mengalirkan dana ke Tehran dan menutup peluang pergantian rezim. Setiap bulan proses bertahan jadi audit atas kemenangan yang diklaim Israel.
Iran sendiri tidak solid. Pasca penandatanganan memorandum, serangan di Teluk berlanjut dan Korps Garda Revolusi mengancam mundur dari bicara. Wendy Pearlman menunjukkan spoiling sering lahir dari faksi yang berebut kepemimpinan internal. Proses damai terhimpit dari dua arah: sekutu perusak di luar dan faksi perusak di dalam.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan sebagai pelajaran soal ketergantungan aliansi militer. Jakarta selama ini menekankan kebijakan luar negeri bebas aktif agar tak terseret konflik sekutu. Kasus AS-Israel memperlihatkan risiko ketika ikatan pertahanan justru membatasi ruang manuver diplomatik seorang patron.
Ke depan, Washington akan terus kehilangan kendali jika tak merumuskan cara mengelola sekutu perusak. Tanpa instrumen koersi maupun induksi yang memadai, proses perdamaian Timur Tengah rawan kolaps oleh tangan pihak terdekatnya sendiri.
Proyeksi pasar energi juga terpengaruh. Selat Hormuz yang jadi jalur minyak global akan tetap rentan selama spoiler tak ditangani. Indonesia sebagai importir minyak perlu mengantisipasi volatilitas harga jika perundingan gagal.