Internasional

Serangan AS Dekat RS Kanker Anak di Ahvaz Picu Kecaman Iran

Ringkasan

  • Serangan AS dekat RS kanker anak di Ahvaz Kamis evakuasi 211 pasien, Iran kecam sebagai kejahatan perang.

Serangan militer Amerika Serikat di dekat Rumah Sakit Khusus Shahid Baghaei, fasilitas kanker anak di Ahvaz, Iran barat daya, memaksa 211 pasien kemoterapi dievakuasi pada Kamis. Teheran mengecam tindakan itu sebagai kejahatan perang yang keji dan membandingkannya dengan serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan di Gaza.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan serangan tersebut dilakukan di lokasi yang sangat dekat dengan bangunan rumah sakit sehingga ledakannya terasa hebat. Ia menulis di platform X bahwa pasien yang tengah menjalani rawat inap harus dibawa keluar dalam kondisi darurat karena ancaman keamanan langsung.

Dokter yang bertugas di pusat pengobatan tersebut menggambarkan suara ledakan sangat keras dan letaknya begitu dekat sehingga staf mengira gedung rumah sakit telah terkena hantaman. Reza Bazar, Direktur Rumah Sakit, melaporkan melalui kantor berita Fars bahwa fasilitas itu berhenti beroperasi akibat serangan di wilayah Ahvaz.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung hampir lima bulan. Serangan terbaru ini memperburuk kekhawatiran bahwa perang akan meluas dan menggagalkan upaya negosiasi untuk mengakhiri permusuhan secara permanen. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

Sebaliknya, Iran memperingatkan akan membalas dengan menyasar infrastruktur sipil di negara-negara Teluk yang berdekatan. Tehran mengklaim telah menembakkan rudal ke basis militer AS di Yordania dan Kuwait, sementara pemimpin Teluk tetap siaga tinggi terhadap eskalasi yang berpotensi menghancurkan.

Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan karena menunjukkan betapa rapuhnya perlindungan fasilitas kesehatan dalam konflik modern. Sebagai negara nonblok yang rutin mengirim tim medis ke zona perang, Indonesia memiliki kepentingan agar hukum humaniter internasional ditegakkan tanpa tebang pilih. Pelanggaran terhadap rumah sakit juga berdampak pada arus bantuan kesehatan global yang sering melibatkan lembaga Indonesia.

Dampak psikologis terhadap anak-anak pasien kanker tidak boleh dianggap remeh. Majid Bou'azar, manajer rumah sakit, menuturkan 211 pasien terpaksa pindah lokasi dengan kondisi kritis. Sebagian berada di bawah alat oksigen dan ventilator, sebagian lagi digendong keluarga, ada yang masih menyeret infus, dan beberapa menggunakan kursi roda.

Baghaei menegaskan serangan itu mirip dengan kekejaman Israel atas fasilitas kesehatan di Gaza serta menimbulkan penderitaan luar biasa bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit. Ia menyebut tindakan AS sebagai kejahatan perang pengecut terhadap manusia paling tak berdosa.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menambahkan kecaman melalui Telegram. Ia menyatakan serangan infrastruktur sipil oleh Washington jelas melanggar Piagam PBB dan prinsip dasar hukum internasional. Araghchi menekankan bahwa menutup mata terhadap target rumah sakit mencabut kredibilitas moral negara-negara yang kerap mengajarkan hak asasi manusia.

Iran juga menyoroti standar ganda dalam penegakan hukum perang. Negara Global Selatan diharapkan patuh pada aturan, sementara negara Global Utara terang-terangan mengancam kejahatan perang. Senada dengan itu, Saudi Arabia menuding serangan Iran di Bahrain, Yordania, dan Kuwait sebagai tindakan khianat, kendati Teheran bersikeras hanya menyasar aset militer AS.

Jurnalis Al Jazeera di Teheran, Resul Serdar, melaporkan 17 rumah sakit rusak parah sejak perang saat ini dan konflik Juni tahun lalu. Serangan di Ahvaz membangkitkan ingatan pahit warga Iran atas bom AS dan Israel di Sekolah Dasar Minab yang menewaskan 168 anak pada hari pertama perang.

Amnesty International menyimpulkan Washington bertanggung jawab atas insiden di Minab, menyebutnya kegagalan intelijen memalukan atau serangan sembarangan yang ceroboh. Senator Demokrat menekan pemerintahan Trump untuk merilis hasil penyelidikan dalam seminggu ke depan.

Ke depan, eskalasi akan bergantung pada respons Teluk dan negosiasi yang tertunda. Jika ancaman Trump dieksekusi, Iran dipastikan membalas dan memperluas target sipil. Masyarakat internasional, termasuk Indonesia, perlu mendorong mekanisme pengawasan independen agar rumah sakit tidak kembali menjadi korban dalam pertarungan geopolitik.

Mengapa Ini Penting

Indonesia sebagai anggota Gerakan Nonblok dan pengirim bantuan medis ke zona konflik memiliki risiko reputasi jika pelanggaran hukum humaniter dibiarkan. Masyarakat Indonesia perlu menyadari bahwa destabilisasi Timur Tengah berdampak pada harga energi dan pengiriman tenaga kesehatan lokal. Pengabaian standar ganda oleh negara kuat dapat melemahkan posisi diplomasi Indonesia di forum PBB. Peristiwa ini juga mengingatkan pentingnya perlindungan fasilitas sipil dalam setiap skenario konflik yang melibatkan kepentingan nasional.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit