JAKARTA — Gelombang serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memasuki fase ketiga pada akhir pekan ini, menandakan eskalasi signifikan dalam ketegangan Teluk Persia yang sudah berbulan-bulan memanas. Menurut laporan media negara Iran dan konfirmasi dari Komando Pusat AS (CENTCOM), sejumlah ledakan besar mengguncang wilayah strategis di provinsi Hormozgan, Bushehr, dan Khuzestan pada dini hari Minggu waktu setempat, menargetkan apa yang disebut AS sebagai infrastruktur militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Serangan terbaru ini dilancarkan sebagai respons langsung terhadap insiden penembakan kapal kontainer berbendera Siprus oleh IRGC di Selat Hormuz beberapa hari lalu. CENTCOM dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa operasi bertujuan "melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal niaga" yang melintasi jalur pelayangan vital tersebut. Selat Hormuz, di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir setiap harinya, kini menjadi titik tumpu konfrontasi militer yang semakin berbahaya.
Televisi negara Iran melaporkan ledakan terjadi di Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan lebih dari sepuluh ledakan di Jask — semua merupakan kota pelabuhan dan basis militer strategis di provinsi Hormozgan. Serangan juga menghantam fasilitas di Asaluyeh dan Bandar Dayyer, serta barak militer di Bushehr, provinsi yang mengandung reaktor nuklir Bushehr yang dioperasikan dengan bantuan Rusia. Di Khuzestan, ledakan terdengar di Desa Shah Abdollah, Hendijan, Mahshahr, dan Abadan, wilayah jantung industri minyak dan gas Iran yang berbatasan dengan Irak.
Hingga berita ini ditulis, tidak ada laporan korban jiwa resmi dari kedua belah pihak. Namun, penutupan Selat Hormuz oleh Iran "hingga waktu tidak ditentukan" — sebagaimana dilaporkan media Iran sebelumnya — mengirimkan gelombang kecewa ke pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik tajam pada pembukaan perdagangan Asia, mencerminkan kekhawatiran investor akan gangguan pasokan jangka panjang jika konflik ini meluas menjadi perang terbuka.
Analis keamanan regional menilai bahwa pilihan target AS — basis udara, fasilitas radar, dan sistem pertahanan udara IRGC di wilayah pesisir selatan — menunjukkan strategi "degradasi kapasitas" daripada invasi darat. "AS berusaha menetralkan kemampuan Iran menutup Selat Hormuz tanpa memicu perang total," kata seorang pakar keamanan Teluk Persia yang meminta anonimitas. "Namun, setiap serangan menambah risiko kesalahan kalkulasi yang bisa memicu respons balik dari proksi Iran di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon."
Bagi Indonesia, sebagai negara penelap minyak mentah dan impor besar-besaran BBM serta LPG, eskalasi ini membawa implikasi ekonomi nyata. Kenaikan harga minyak global akan menambah tekanan pada anggaran subsidi energi, nilai tukar rupiah, dan inflasi domestik. Pemerintah dan Bank Indonesia sudah mengaktifkan protokol mitigasi risiko geopolitik, termasuk diversifikasi sumber impor dan peninjauan kebijakan harga BBM domestik.
Secara diplomatik, Indonesia bersama negara-negara ASEAN dan Gerakan Non-Blok (GNB) mendorong deeskalasi melalui dialog multilateral. Jakarta telah mengeluarkan pernyataan mengekspresikan kekhawatiran mendalam dan meminta semua pihak menjaga kontainment serta menghormati hukum laut internasional, termasuk kebebasan navigasi di Selat Hormuz sesuai Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.
Masa depan ketegangan ini akan bergantung pada respons Iran. Jika Teheran memilih respons terbatas — seperti serangan siber atau aktivasi proksi di luar Teluk Persia — ruang diplomasi melalui perantara Oman, Qatar, atau Irak masih terbuka. Namun, jika IRGC melakukan serangan balistik langsung ke aset AS atau mitra Teluk Persia, skenario perang regional yang melibatkan Israel dan negara-negara GCC menjadi sangat realistis — sebuah bencana geopolitik yang dampaknya akan terasa hingga ke pasar pasar tradisional di Tanah Abang dan Pasar Beringharjo.