Internasional

Serangan AS ke Iran Memasuki Hari Keenam, Infrastruktur Strategis Hancur

Ringkasan

  • AS gempur bandara dan stasiun di Bandar Abbas, Iran, Kamis malam, hari keenam serangan beruntun yang menewaskan warga sipil.

Militer Amerika Serikat menghantam bandara, jembatan, dan stasiun kereta api di Bandar Abbas, Iran selatan, pada Kamis (16/7) malam, sebagai bagian dari operasi udara hari keenam berturut-turut. Serangan itu memicu ledakan di sekitar fasilitas sipil dan militer, serta menewaskan warga dan melukai beberapa orang di tengah eskalasi konflik dengan Teheran.

Media pemerintah Iran, IRIB, mencatat tiga ledakan mengguncang area Bandara Bandar Abbas yang berdekatan dengan Selat Hormuz. Proyektil AS juga mendarat di Bandara Iranshahr. Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas turut menjadi sasaran, dengan dua warga Iran terluka akibat serangan tersebut menurut laporan Mehr di Telegram.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan gelombang serangan baru diluncurkan untuk melemahkan kapasitas militer Iran. Tidak hanya di Bandar Abbas, dua jembatan di Provinsi Hormozgan dibom dari udara. Tindakan itu menewaskan dua orang dan melukai empat warga lainnya.

Ketegangan bermula dari ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Trump menegaskan seluruh infrastruktur kawasan akan hancur. Teheran membalas dengan peringatan akan menargetkan fasilitas di seluruh wilayah jika AS menindaklanjuti ancaman itu.

TV pemerintah Iran melaporkan dua ledakan di Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit nuklir sipil negara itu, sebagai kelanjutan agresi Amerika. Serangkaian ledakan tak dikenal pelakunya juga terjadi di Bandar Abbas. Situasi memburuk setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania.

Serangan IRGC merupakan balasan atas serangan AS di dekat rumah sakit kanker anak di Ahvaz. Perluasan target ke fasilitas sipil memicu kekhawatiran badan internasional terkait keselamatan warga dan stabilitas Selat Hormuz. Jalur itu menampung seperlima pengapalan minyak dunia.

Bagi Indonesia, konflik ini berdampak langsung pada harga energi. Sebagai negara pengimpor minyak dan gas, kenaikan harga crude oil akibat gangguan Selat Hormuz akan menekan neraca perdagangan. Subsidi BBM dalam negeri berisiko membengkak jika eskalasi tak dihentikan.

Pelaku industri logistik Tanah Air juga merasakan efek tidak langsung. Kenaikan premi asuransi kargo dan risiko pengalihan rute sudah mulai dibicarakan di kalangan pengusaha pelayaran. Berbeda dengan Iran yang punya infrastruktur rawan serangan, Indonesia relatif aman secara geografis, namun ketahanan sektor energi kita belum sekuat yang dibayangkan.

“Seluruh infrastruktur di kawasan itu akan hancur,” ucap Trump dalam pernyataan sebelumnya. Ancaman itu kini terwujud sebagian melalui gempuran ke jembatan dan bandara. Teheran bersikeras balasan rudal ke Yordania adalah pembelaan sah atas serangan AS di fasilitas medis.

CENTCOM tidak merinci jenis persenjataan yang dipakai, namun pola serangan menunjukkan penggunaan presisi tinggi untuk menghindari korban massal di luar target militer. Kendati demikian, luka warga sipil di stasiun dan jembatan memperlihatkan batas operasi tetap kabur di zona konflik padat.

Proyeksi ke depan mengarah pada perpanjangan operasi AS selama Teheran ogah negosiasi. Iran diprediksi terus membalas lewat proxy di Timur Tengah, memperluas risiko bagi pasukan dan aset Amerika. Diplomasi internasional diperkirakan gagal dalam waktu dekat karena kedua belah pihak saling mengunci syarat.

Dewan Keamanan PBB diperkirakan menggelar sidang darurat pekan ini. Tanpa gencatan senjata, harga energi global berpotensi melonjak dua digit dan memperlambat pemulihan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia. Warga dunia kini menyaksikan konflik yang bisa mengubah peta keamanan maritim secara permanen.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi di Selat Hormuz berpotensi mengerek harga BBM subsidi Indonesia karena pasokan minyak global terganggu. Sektor logistik nasional akan terkena lonjakan premi asuransi dan perubahan rute pengiriman. Konflik ini juga menguji ketahanan diplomatik Indonesia di forum G20 dan PBB terkait stabilitas energi dunia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit