Situasi keamanan di Mali kembali memanas setelah kelompok bersenjata melancarkan serangan terkoordinasi di lima lokasi berbeda pada Sabtu pagi. Insiden ini terjadi selang dua bulan setelah serangkaian serangan serupa mengguncang ibu kota Bamako dan beberapa wilayah lainnya, menandai tantangan besar bagi pemerintah militer yang berkuasa di negara tersebut.
Laporan dari militer dan sumber keamanan setempat mengonfirmasi bahwa serangan terjadi di Aguelhok, Anefis, Gao, Sevare, serta Kenieroba. Salah satu target utama adalah kota Anefis di wilayah Kidal, tempat pasukan pemerintah Mali dan tentara bayaran Rusia ditempatkan. Pertempuran sengit dilaporkan masih berlangsung di lokasi tersebut hingga beberapa jam setelah serangan dimulai.
Juru bicara Front Pembebasan Azawad (FLA) yang dipimpin oleh kelompok Tuareg, Mohamed Elmaouloud Ramadane, mengakui keterlibatan kelompoknya dalam penyerangan di Anefis. Menurut Ramadane, meski beberapa posisi strategis telah berhasil dikuasai oleh kelompoknya, perlawanan dari militer Mali di dalam kamp kota tersebut masih terus berlanjut.
Di wilayah lainnya, situasi tidak kalah genting. Di kota Gao, sebuah kamp militer dilaporkan menjadi sasaran tembakan senjata berat dan roket sejak sebelum fajar. Sementara itu, di kota Sevare, ledakan besar terdengar di pagi hari, diikuti dengan aktivitas pesawat militer yang melintas di atas area tersebut untuk melakukan pengawasan dan respons cepat.
Tidak hanya menyasar pangkalan militer, aksi kekerasan ini juga mencapai fasilitas sipil. Di Kenieroba, sebuah kompleks penjara besar dilaporkan diserang oleh kelompok bersenjata. Saksi mata dan narapidana di lokasi menyebutkan bahwa serangan tersebut menciptakan kepanikan massal di dalam fasilitas, menambah daftar panjang kerentanan keamanan di Mali.
Serangan terkoordinasi ini merupakan ancaman serius terbaru bagi pemerintah transisi Mali. Sejak bulan April lalu, pemberontak telah menunjukkan kemampuan untuk melancarkan serangan profil tinggi, termasuk ke bandara di Bamako dan perebutan sejumlah pangkalan militer di utara negara tersebut. Eskalasi ini menggarisbawahi ketidakstabilan yang terus berlanjut di wilayah Sahel yang terkunci daratan ini.