Serangan udara Israel menewaskan 12 warga Palestina di Gaza pada Selasa (21/7), menurut Badan Pertahanan Sipil Gaza dan saksi mata. Korban jiwa tertinggi terjadi di tengah Gaza City, di mana satu rumah milik keluarga Al-Masri dihancurkan, menewaskan enam orang termasuk empat anak-anak.
Kedua serangan lain di selatan Gaza menewaskan enam orang tambahan. Militer Israel mengklaim sasaran pertama adalah "teroris Hamas" dan yang kedua adalah "beberapa teroris bersenjata yang memindahkan senjata dalam kendaraan". Namun keterangan tersebut tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Keterangan Ahmed al-Masri, selamat dari serangan ke rumah saudaranya, menggambarkan kekejaman malam itu. "Serangan itu tiba tanpa peringatan. Aku mendengar anak-anak berteriak meminta tolong, tapi aku tak bisa menyelamatkan mereka," ujarnya kepada AFP. Seluruh keluarga saudaranya — suami, istri, dan empat anak mereka — dihapuskan dari catatan kependudukan dalam sekali ledakan.
Saksi lain, Youssef al-Masri, menyebut ledakan terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari. "Kami sedang tidur, tiba-tiba terdengar ledakan besar. Rumah kami dihancurkan dan terbakar," katanya. Jurnalis AFP di lokasi melihat bangunan bertingkat itu hangus, atapnya hampir runtuh total.
Kebakaran dan kerusakan masif itu terjadi meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas secara teknis masih berlaku sejak Oktober lalu. Kesepakatan yang rapuh itu tak pernah benar-benar menghentikan kekerasan di wilayah seluas 365 kilometer persegi ini. Upaya diplomasi untuk mencapai perdamaian permanen macet total.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa mengkonfirmasi eskalasi terbaru. Pembicara Thameen Al-Kheetan menyatakan minimal 57 Palestina tewas dalam serangan Israel antara 13 hingga 20 Juli. "Tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza," tegasnya. Data Kementerian Kesehatan Gaza — yang diakui keandalan PBB — mencatat 1.168 korban jiwa Palestina sejak gencatan senjata berlaku Oktober lalu.
Di sisi Israel, militer mengakui lima prajurit dan satu kontraktor sipil tewas dalam periode yang sama. Ketidakseimbangan angka korban ini mencerminkan asimetri kekuatan militer yang fundamental, di mana Gaza — tanpa sistem pertahanan udara, tanpa tempat pelindung berskala besar, dan diblokade sejak 2007 — menyerap dampak penuh setiap operasi militer.
Restriksi akses media yang ketat menghambat verifikasi independen. Israel melarang jurnalis asing masuk bebas ke Gaza, sementara Hamas mengontrol informasi yang keluar. AFP dan Reuters bergantung pada jurnalis lokal dan keterangan resmi kedua belah pihak, yang masing-masing punya narasi sendiri. Ketidakpastian ini memperparah krisis kepercayaan informasi.
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita jauh. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia dan pendukung lama dua negara (two-state solution), Jakarta memiliki kepentingan diplomatik dan moral. RI secara konsisten menuntut penghentian kekerasan, pembukaan akses humaniter, dan pelaksanaan resolusi PBB. Kementerian Luar Negeri baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengecam serangan terhadap sipil.
Dampak humaniter pun terasa hingga ke nusantara. Organisasi kemanusiaan Indonesia seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Dompet Dhuafa terus menggalang dana untuk bantuan medis, makanan, dan tenda bagi pengungsi Gaza. Saluran pengiriman bantuan tetap sulit karena penutupan perbatasan Rafah dan Kerem Shalom yang dikontrol Israel.
Secara geopolitik, ketidakstabilan Gaza memengaruhi harga energi global dan rantai pasokan — meski tidak sebesar perang Rusia-Ukraina. Lebih jauh, radikalisasi narasi di media sosial berpotensi memicu polarisasi di masyarakat Indonesia sendiri, di mana isu Palestina sering jadi katalis emosional dalam diskursus politik domestik.
Ke depan, mata dunia tertuju pada apakah mediator Qatar, Mesir, dan AS bisa menghidupkan kembali meja negosiasi. Tanpa tekanan internasional yang nyata — termasuk sanksi atau embargo senjata — siklus "gencatan senjata rapuh diikuti serangan balas" kemungkinan besar akan berlanjut. Korban berikutnya bisa jadi lagi keluarga utuh yang tertidur di rumahnya.