Amerika Serikat melancarkan serangan perdana menggunakan drone permukaan laut ke arah pangkalan Angkatan Laut Iran di Bandar Abbas pada Ahad (12/7). Tiga kendaraan tak berawak jenis Corsair menghantam pelabuhan tersebut dan menghancurkan fasilitas pemeliharaan kapal selam serta kapal perang.
Komando Pusat AS (CENTCOM) membenarkan operasi tersebut melalui unggahan di platform X pada Senin (13/7). Mereka menyebut bahwa serangan satu arah dengan beberapa drone permukaan laut berhasil menargetkan infrastruktur strategis milik Tehran. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah pertama kali pasukan Amerika menggunakan drone laut dalam misi tempur sungguhan.
Ketegangan di Selat Hormuz telah memuncak seiring tuduhan Washington bahwa Iran mengganggu pengiriman komersial di perairan vital tersebut. Sebagai respons, militer AS memilih jalur baru dengan memanfaatkan sistem senjata otonom berbiaya rendah daripada mengandalkan kapal perang konvensional. Langkah ini diklaim untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal sipil.
Penggunaan unmanned surface vessel (USV) bertipe serang satu arah menandai pergeseran paradigma dalam peperangan maritim. Alat ini dapat dikerahkan dalam jumlah banyak dengan risiko nyawa manusia nol. Negara-negara besar mulai melihat drone laut sebagai pelengkap sekaligus pengganti sebagian fungsi kapal patroli.
Sebelumnya, drone laut sempat dipakai oleh Ukraina untuk menyerang Armada Laut Hitam Rusia. Namun penerapan langsung oleh Amerika di Teluk Persia memberikan legitimasi global bahwa teknologi tersebut kini masuk doktrin pertahanan utama. Corsair sendiri merupakan platform yang dikembangkan untuk misi presisi dengan jangkauan menengah.
Bagi Indonesia, peristiwa di Bandar Abbas membawa perspektif penting terkait keamanan maritim. Negara kepulauan kita sangat bergantung pada kelancaran arus barang via selat-selat sempit seperti Malaka dan Sunda. Kemunculan senjata otonom murah berarti ancaman baru bagi kapal niaga maupun instalasi lepas pantai.
Institut teknologi dalam negeri seperti BRIN dan beberapa startup telah merintis prototipe USV untuk patroli pantai. Kendati demikian, pengembangan masih terfokus pada fungsi pengawasan daripada serangan. Regulasi serta doktrin penggunaan senjata otonom di Indonesia juga belum menyentuh tahap offensif seperti yang dilakukan AS.
Dampaknya terhadap industri teknologi lokal cukup signifikan. Demonstrasi keandalan Corsair memicu minat investor pada sektor navigasi otonom, sensor radar, dan kecerdasan buatan maritim. Insinyur Tanah Air kini memiliki pembanding nyata saat merancang kendaraan tak berawak untuk menjaga perairan nusantara.
“Kemarin, menggunakan beberapa drone permukaan laut serang satu arah, pasukan CENTCOM berhasil menyerang fasilitas pemeliharaan kapal selam dan kapal di Iran,” tulis CENTCOM dalam keterangan resminya. Komando tersebut menegaskan bahwa serangan bertujuan meruntuhkan kapasitas Iran mengganggu warga sipil dan pengiriman komersial di Selat Hormuz.
Pada Selasa (14/7), CENTCOM kembali merilis pernyataan bahwa serangan dilanjutkan di malam ketiga berturut-turut atas perintah Panglima Tertinggi. Mereka meluncurkan operasi tambahan pada Senin pukul 16.45 waktu setempat, menunjukkan kampanye militer yang berkelanjutan di tengah upaya diplomatik yang masih berjalan.
Eskalasi ini diproyeksikan memicu balasan asimetris dari Teheran, mungkin lewat drone laut mereka sendiri atau serangan siber terhadap sistem navigasi. Perlombaan senjata maritim otonom dipastikan makin cepat di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Indo-Pasifik.
Indonesia harus meningkatkan kerja sama intelijen maritim dan memperkuat pertahanan pantai berbasis teknologi. Kejadian di Iran menjadi pengingat bahwa konflik masa depan bisa ditentukan oleh algoritma dan kendaraan tak berawak, bukan sekadar kekuatan kapal berawak.