Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memuncak menyusul serangkaian serangan udara yang mematikan di wilayah tenggara Ukraina. Serangan drone Rusia dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai lebih dari dua belas warga sipil. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi kampanye serangan jarak jauh Ukraina yang kini menyasar target strategis jauh di dalam wilayah Rusia.
Di wilayah Dnipropetrovsk, gubernur setempat Oleksandr Hanzha melaporkan bahwa serangan drone Rusia pada Rabu pagi telah menghancurkan lima stasiun pengisian bahan bakar umum dan menewaskan seorang perempuan. Sementara itu, serangan terpisah yang terjadi pada Selasa malam di Zaporizhzhia, ibu kota dari wilayah dengan nama yang sama, menelan dua korban jiwa. Serangan-serangan ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang terjadi selama konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
Sebagai tanggapan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa pihaknya telah melancarkan serangan balasan yang signifikan. Ukraina berhasil menargetkan kilang minyak di Ufa, Rusia bagian selatan, serta fasilitas strategis kompleks industri militer di wilayah Penza. Zelenskyy menyatakan dalam sebuah unggahan di platform X bahwa tindakan ini merupakan respons yang adil terhadap agresi Rusia, seraya menekankan bahwa kepemimpinan Rusia harus segera menyadari kebutuhan akan perdamaian.
Di sisi lain, otoritas Rusia mengklaim telah berhasil menembak jatuh ratusan drone Ukraina dalam upaya pertahanan udara mereka. Pemerintah Rusia melaporkan bahwa 419 drone Ukraina berhasil dicegat, termasuk di wilayah Moskow. Insiden di ibu kota Rusia tersebut dilaporkan memakan korban jiwa seorang bayi berusia enam bulan, yang semakin memperkeruh eskalasi konflik di kedua belah pihak.
Dalam upaya memperkuat pertahanan udara, Ukraina secara resmi menandatangani kontrak pengadaan 16 unit pesawat tempur Gripen E bekas dari Swedia. Produsen pesawat Saab menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut bernilai 24,6 miliar kronor atau sekitar 2,53 miliar dolar AS. Zelenskyy mengonfirmasi bahwa armada udara tersebut dijadwalkan akan mulai dioperasikan oleh angkatan udara Ukraina pada awal tahun 2027 mendatang.
Sementara itu, prospek perdamaian tampak masih jauh dari harapan. Kremlin menyatakan bahwa posisi Rusia mengenai penyelesaian konflik tetap tidak berubah sejak tahun 2024. Presiden Vladimir Putin menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kendali penuh atas empat wilayah Ukraina yang dianeksasi secara sepihak pada tahun 2022, yakni Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia, sekaligus menolak proposal perdamaian terbaru dari pihak Kyiv.