Internasional

Serangan Udara Israel Di Gaza Tewaskan Warga Pengungsi, Korban Meningkat

Ringkasan

  • Serangan udara Israel di Deir al-Balah menyasar tenda pengungsi, tewaskan satu orang dan melukai sejumlah warga.
  • Insiden ini terjadi sehari setelah klaim penargetan teroris, dan bertambahnya korban sejak gencatan senyap Oktober 2025.

Serangan udara Israel di Gaza menyasar sebuah tenda pengungsi di pusat Gaza, menyebabkan tewasnya setidaknya satu orang dan melukai beberapa orang lainnya. Insiden ini terjadi awal Senin di dekat Rumah Sakit al-Aqsa di Deir al-Balah, menurut kantor berita Palestina Wafa. Korban ini menambah daftar korban jiwa sebagai Israel tetap mempertahankan serangan terhadap jalur pendudukan di wilayah tersebut.

Sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, sejumlah 1.288 warga Palestina telah tewas. Secara keseluruhan, sejak konflik dimulai pada Oktober 2023, total korban tewas mencapai 73.422 orang, dengan 174.401 orang luka. Data ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina.

Serangan ini bertentangan dengan gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat untuk menghentikan serangan militer Israel yang dituduh melakukan pembunuhan massal di Gaza. Upaya diplomasi sedang berlangsung untuk membubarkan Hamas dan mengevakuasi pasukan Israel dari wilayah tersebut.

Pada hari Minggu, tiga warga Palestina termasuk seorang anak berusia empat tahun tewas akibat serangan udara di Khan Younis di selatan Gaza dan kota az-Zawayda di wilayah Deir al-Balah. Seorang pria yang dilukai dalam serangan di Khan Younis juga meninggal setelah mengalami komplikasi. Selain itu, seorang warga yang dilukai dalam serangan udara pada sebuah kafe dekat Pelabuhan Gaza minggu lalu meninggal pada Senin.

Pasukan Udara Israel mengklaim dalam pernyataan di Telegram bahwa mereka menargetkan dua “teroris” di Deir al-Balah pada Minggu malam, termasuk Muhammad Abdul Nasser Jaber Abu Asad yang diduga menjadi anggota sayap militer Hamas dan terlibat serangan 7 Oktober. Mereka juga dikabarkan sedang berusaha untuk merencanakan operasi baru dan memulihkan kemampuan militer Hamas.

Namun, klaim ini tidak dapat diverifikasi secara independen. Gambaran yang berbeda muncul dari lapangan, di mana warga sipil tak bersenjuta menjadi sasaran utama serangan udara.

Serangan ini menimbulkan kecaman internasional, terutama dari negara-negara yang mendukung hak-hak Palestina. Organisasi kemanusiaan juga mengutuk keras serangan yang menyasar tempat perlindungan sivil.

Sementara itu, pemerintah Israel tetap menyatakan bahwa aksi militernya merupakan upaya untuk mencegah serangan lebih lanjut terhadap warganya. Namun, kecaman terus mengalir dari berbagai pihak termasuk PBB dan organisasi hak asasi manusia.

Dari sudut pandang Indonesia, yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, serangan ini diharapkan menjadi pemicnun jual kembali dialog damai di kancah internasional. Pemerintah Indonesia juga diharapkan meningkatkan dukungan diplomatis dan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Menurut pakar konflik, intensitas serangan semakin tinggi menunjukkan ketidakberhasilan gencatan senjata yang seharusnya memberi ruang bagi solusi politik. Ini juga memicu kemungkinan keterlibatan pihak ketiga dalam mediasi damai.

Ke depan, tekanan internasional perlu diperkuat agar Israel menghentikan sikap agresifnya. Tanpa tekanan yang konsisten, konflik ini berpotensi meluas kembali dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang lebih besar.

Para aktivis juga mengingatkan agar komunitas global tidak diam ketika warga sipil menjadi korban. Mereka menekankan pentingnya mendukung hak-hak rakyat Palestina untuk hidup dalam damai tanpa pengawalan militer.

Dampak psikologis dan ekonomi bagi masyarakat Palestina terus membesar. Banyak anak-anak tak mampu sekolah karena trauma dan ketidakaman yang terus berlanjut.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, belum merilis pernyataan resmi terbaru terkait insiden ini. Namun, posisi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina tetap konsisten di pertemuan multilateral seperti PBB dan OIC.

Sehingga, dunia menatap peluang baru untuk menyelamatkan jalur perdamaian yang sempat terpinggirkan akibat eskalasi kekerasan yang berkepanjangan di wilayah tersebut.

Mengapa Ini Penting

Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan secara emosional terikat pada keterjuangan Palestina, serangan ini bukan sekadar berita jarak jauh — ia memicu kembali perdebatan nasional soal peran Indonesia di kancah internasional. Apakah Jakarta akan lebih agresif mendesak gencatan senyap penuh, atau tetap bersuara kuat namun bertindak tipis di balik meja perundingan? Insiden ini juga menguji komitmen komunitas Muslim global terhadap prinsip keadilan, sekaligus menimbang kembali peran ekonomi dan diplomasi Indonesia sebagai pelopor perdamaian di wilayah konflik.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
24 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit