Badai tropis Narra melanda wilayah perbatasan Vietnam dan Tiongkok sejak Jumat (23/8), membawa curah hujan ekstrem yang melumpuhkan transportasi, memutus listrik, dan menenggelamkan lahan pertanian. Badai ini tidak mendarat namun menghembus di Teluk Beibu, memompa uap air ke daratan selama berhari-hari.
Di Vietnam, provinsi pegunungan Lang Son dan Cao Bang mencatat curah hujan 236 hingga 300 milimeter dalam 24 jam hingga Senin (24/8) pagi. Volume air itu setara dengan curah hujan bulanan normal, membuat sungai meluap dan lereng bukit runtuh. Satu jiwa dilaporkan tewas, sementara 4.300 lebih kepala keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kota Quang Ninh, pintu gerbang menuju Situs Warisan Dunia Ha Long Bay, juga terkena dampak serius. Banjir menggenangi jalan utama, melumpuhkan aktivitas pariwisata, perikanan, dan angkutan laut. Otoritas setempat melaporkan 55.000 keluarga kehilangan pasokan listrik dan lebih dari 10.000 hektar tanaman padi serta tanaman lain musnah total.
Di sisi Tiongkok, situasi tak kalah parah. Stasiun pemantauan mencatat 15 sungai melewati ambang peringatan. Kota Chongzuo di Guangxi tenggelam dalam air kotor setinggi lutut, menenggelamkan jalan dan rumah-rumah rendah. Tim SAR dengan perahu karet mengevakuasi warga yang terjebak di lantai atas rumah mereka.
Televisi negara CCTV melaporkan sekitar 54.000 warga dipindahkan, di antaranya 8.087 orang ditempatkan di posko pengungsian darurat. Pemerintah setempat mengaktifkan tanggap darurat tingkat tinggi dan mengerahkan personel militer serta relawan untuk operasi penyelamatan.
Meteorolog menilai Narra unik karena tidak mendarat melainkan "terjebak" di Teluk Beibu selama beberapa hari. Pola ini memungkinkan badai menyerap energi dari air hangat laut secara terus-menerus, lalu mencurahkannya sebagai hujan lebat berkelanjutan ke daratan. Badan Meteorologi Vietnam memperkirakan hujan deras akan berlanjut hingga Rabu (26/8) di Guangxi, Guangdong, Hainan, dan Fujian.
Kejadian ini mengingatkan pada kerentanan Asia Tenggara terhadap bencana hidro-meteorologis ekstrem. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki profil risiko serupa. Data BNPB menunjukkan banjir dan tanah longsor secara konsisten menduduki peringkat teratas bencana paling sering terjadi di Indonesia setiap tahun.
Ahli iklim mengaitkan intensitas badai semacam Narra dengan pemanasan global. Laut yang lebih hangat menyediakan bahan bakar lebih bagi siklon tropis, membuatnya lebih basah dan bergerak lebih lambat — persis pola yang ditunjukkan Narra. Untuk Indonesia, ini berarti sistem peringatan dini dan mitigasi banjir harus terus ditingkatkan, terutama di kota-kota pesisir padat seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Sektor pertanian Vietnam menerima pukulan keras. Kerusakan 10.000 hektar lahan padi mengancam ketahanan pangan domestik dan potensi ekspor beras Vietnam, salah satu pemasok utama dunia. Dampak rantai pasokan ini bisa terasa hingga ke pasar Indonesia yang mengimpor beras dari Vietnam saat cadangan domestis menipis.
Di sisi infrastruktur, kelumpuhan listrik 55.000 rumah tangga di Vietnam menyoroti kebutuhan jaringan kelistrikan yang tahan bencana (resilient). PLN Indonesia telah memulai program "underground cabling" di area rawan banjir, namun cakupannya masih terbatas. Pengalaman Vietnam jadi pelajaran: investasi grid resilience bukan biaya, melainkan asuransi ekonomi.
Pemerintah Vietnam telah mengumumkan bantuan darurat berupa beras, nasi instan, dan obat-obatan untuk pengungsi. Sementara Tiongkok menggerakkan dana bencana pusat dan memerintahkan inspeksi ketat pada bendungan serta tanggul sungai. Kedua negara juga mengaktifkan mekanisme kerja sama ASEAN untuk bantuan darurat jika diperlukan.
Ke depan, fokus bergeser ke rehabilitasi pascabencana dan adaptasi jangka panjang. Para pakar menyarankan restorasi hutan mangrove di pesisir Teluk Beibu sebagai bentang alami penangkal gelombang badai. Di Indonesia, program serupa di pesisir Utara Jawa dan Sulawesi sudah menunjukkan hasil positif mengurangi tinggi banjir rob hingga 40 persen.
Badai Narra tidak akan menjadi yang terakhir. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan frekuensi siklon tropis kategori 4 dan 5 akan naik seiring kenaikan suhu permukaan laut. Bagi Indonesia, pesan jelasnya: mitigasi iklim dan adaptasi bencana harus jadi prioritas nasional, bukan sekadar jargon di dokumen perencanaan.