Serangan udara Israel yang menghantam stasiun polisi di bagian barat kamp pengungsi Jabalia, Gaza Utara, pada Selasa (15/7) menewaskan delapan orang. Korban jiwa tersebut dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City, menurut keterangan Badan Pertahanan Sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas.
Di antara korban yang tewas teridentifikasi kepala stasiun polisi setempat serta seorang perwita. Hamas yang mengontrol aparat kepolisian di Gaza mengutuk keras serangan tersebut melalui pernyataan resmi. Gerakan Islam Palestina itu menilai aksi militer Israel melanggar hukum humaniter internasional dengan menargetkan fasilitas kepolisian yang melayani kebutuhan sipil.
Tentara Israel mengonfirmasi serangan tersebut melalui pernyataan pada sore hari yang sama. Markas Besar Militer Israel (IDF) mengklaim telah membunuh empat militan Hamas yang dikumpulkan di lokasi tersebut untuk merencanakan dan melaksanakan serangan teror. Namun pernyataan militer Israel tidak menjelaskan identitas empat korban lainnya yang tewas dalam serangan yang sama.
Kebakaran yang meletus pasca serangan menghancurkan sebagian besar bangunan stasiun polisi. Saksi mata di lokasi menggambarkan ledakan yang sangat keras terdengar hingga ke area perumahan sekitar kamp pengungsi Jabalia. Warga setempat yang tidak ingin disebut namanya berkata mereka tidak mendapat peringatan awal sebelum rudal menghantam bangunan yang terletak di tengah permukiman padat.
Kejadian ini menambah deretan pelanggaran gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak Januari lalu. Kementerian Kesehatan Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas mencatat paling tidak 1.110 Palestina tewas sejak gencatan senjata efektif. Angka ini tidak termasuk korban terbaru Selasa. PBB menganggap data kementerian tersebut andal meskipun Israel sering menantang metodologi penghitungannya.
Di sisi Israel, militer mengakui kehilangan lima personel serta satu kontraktor sipil selama periode yang sama. Kebanyakan korban jatuh selama operasi militer di area perbatasan dan penembakan cecan dari sisi Gaza. Ketegangan tetap tinggi meskipun negosiasi gencatan senjata berkelanjutan di Kairo dan Doha dengan mediasi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.
Analis keamanan Timur Tengah menilai penargetan stasiun polisi menandakan pergeseran strategi Israel. Sebelumnya serangan difokuskan pada infrastruktur militer Hamas seperti terowongan dan gudang senjata. Menargetkan aparat kepolisian sipil memperluas definisi target militer dan mempersulit pemulihan tata kelola di Gaza pasca-konflik.
Bagi Indonesia yang mendukung solusi dua negara, eskalasi ini memperkuat urgensi diplomasi multilateral. Jakarta telah konsisten menuntut penghentian kekerasan dan akses humaniter penuh ke Gaza. Kementerian Luar Negeri RI pada pekan lalu mengeluarkan pernyataan mengecam serangan terhadap fasilitas sipil dan meminta Majelis Keamanan PBB bertindak tegas.
Komunitas humaniter Indonesia termasuk MER-C dan Dompet Dhuafa melaporkan kesulitan mendistribusikan bantuan medis ke Gaza Utara karena pembatasan akses Israel. Serangan pada infrastruktur kepolisian justru melemahkan kapasitas lokal menjaga ketertiban sehingga distribusi bantuan semakin terhambat.
Pakah ke depan, observator memprediksi Israel akan terus menargetkan simbol kedaulatan Hamas di Gaza termasuk aparat sipil. Hamas mungkin merespons dengan penembakan roket ke wilayah Israel atau menyerang patroli militer di perbatasan. Siklus balas dendam ini mengancam prospek gencatan senjata jangka panjang yang sedang dinegosiasikan.