Internasional

Terdampak Inflasi, Serikat Pekerja Domestik di Hong Kong Desak Kenaikan Uang Makan

Terdampak Inflasi, Serikat Pekerja Domestik di Hong Kong Desak Kenaikan Uang Makan

Ringkasan

  • Serikat pekerja domestik di Hong Kong menuntut kenaikan tunjangan makan hingga HK$2.770 karena inflasi membuat biaya hidup menjadi tidak terjangkau.

Serikat pekerja yang mewakili asisten rumah tangga (ART) asing di Hong Kong telah mendesak pemerintah setempat untuk menaikkan tunjangan makan bulanan mereka secara signifikan menjadi HK$2.770 atau sekitar US$350. Tuntutan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa tunjangan saat ini, yang hanya setara dengan HK$13,30 per makan, sudah tidak lagi memadai untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar akibat laju inflasi yang terus merangkak naik di kota tersebut.

Perwakilan dari Federation of Asian Domestic Workers Unions (FADWU) secara resmi menyampaikan aspirasi mereka kepada pejabat Departemen Tenaga Kerja setelah melakukan aksi protes di kawasan Central. Selain menuntut penyesuaian tunjangan makan, para pekerja juga mendesak pemerintah untuk menaikkan upah minimum bulanan menjadi HK$6.670. Mereka menekankan perlunya revisi kontrak kerja yang lebih spesifik guna memberikan perlindungan tambahan bagi pekerja, terutama selama periode cuaca panas ekstrem yang semakin sering terjadi.

Saat ini, standar gaji minimum bagi asisten rumah tangga di Hong Kong berada di angka HK$5.100 per bulan. Bagi pemberi kerja yang tidak menyediakan makanan secara gratis, mereka diwajibkan membayar tunjangan makan sebesar HK$1.236 per bulan, yang jika dirinci hanya berjumlah HK$40,60 per hari. FADWU, yang menaungi lebih dari 1.000 pekerja, menilai angka ini sudah sangat tidak relevan dengan harga bahan pokok dan biaya makan di luar rumah yang kian mahal.

Dalam aksi protes tersebut, anggota serikat memperagakan kotak makanan sebagai ilustrasi nyata dari nilai HK$40,60 per hari. Dengan anggaran tersebut, seorang pekerja hanya mampu membeli satu bungkus mi instan dengan satu telur, atau dua bungkus biskuit yang dipadukan dengan kopi instan. Kondisi ini dinilai memprihatinkan karena tidak mencukupi standar gizi yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas fisik berat yang dilakukan para pekerja sepanjang hari.

Phobsuk Gasing, Ketua FADWU, menegaskan bahwa para pekerja sering kali jatuh sakit karena pola makan yang tidak memadai akibat keterbatasan anggaran. Ia menyoroti bahwa harga satu porsi makanan di kedai lokal (cha chaan teng) saat ini sudah mencapai HK$40, yang berarti hampir menghabiskan seluruh jatah uang makan harian mereka. Menurutnya, penyesuaian menjadi HK$2.770 atau HK$91 per hari adalah langkah yang wajar agar pekerja dapat memiliki kualitas hidup yang lebih layak.

Tuntutan ini mencerminkan dinamika ekonomi di pusat finansial dunia yang sering kali mengabaikan kesejahteraan pekerja sektor domestik. Pemerintah Hong Kong kini berada di bawah tekanan untuk merespons tuntutan ini, mengingat pentingnya peran pekerja migran dalam menopang stabilitas rumah tangga masyarakat lokal. Dialog lebih lanjut antara serikat pekerja dan otoritas ketenagakerjaan diharapkan dapat mencapai kesepakatan yang lebih manusiawi demi menjamin kesejahteraan jangka panjang para pekerja domestik.

Mengapa Ini Penting

Isu ini relevan bagi Indonesia karena Hong Kong merupakan salah satu destinasi utama bagi pekerja migran Indonesia (PMI). Kenaikan standar hidup di negara tujuan berdampak langsung pada kesejahteraan ribuan warga negara Indonesia yang bekerja di sana serta menjadi tolok ukur perlindungan hak-hak pekerja migran secara global.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit