Teknologi

Shaw Theatres Singapura Satu-satunya Tayang The Odyssey Format 35mm Asia Tenggara

Ringkasan

  • Shaw Theatres di Singapura menayangkan The Odyssey karya Christopher Nolan via 35mm mulai 16 Juli 2026, satu-satunya di Asia Tenggara.

Shaw Theatres, jaringan bioskop berbasis di Singapura, memastikan diri sebagai satu-satunya rumah pemutaran di Asia Tenggara yang akan menayangkan epik The Odyssey besutan Christopher Nolan menggunakan rol film 35mm asli. Pemutaran perdana dilakukan pada Kamis, 16 Juli 2026, di auditorium Lumiere Grand, Shaw Lido, yang baru selesai direnovasi.

Film yang diangkat dari puisi karya Homer ini dibintangi Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, dan Lupita Nyong'o. Keistimewaan lain, The Odyssey tercatat sebagai produksi panjang pertama yang seluruhnya diabadikan melalui kamera film IMAX 70mm. Kombinasi antara sumber rekam seluloid dan pemutaran 35mm menawarkan pengalaman sinematik yang tidak dijumpai pada layar digital biasa.

Keputusan Shaw Theatres bukan sekadar strategi promosi belaka. Beberapa pekan sebelumnya, manajemen mengumumkan telah merestorasi dua proyektor film 35mm buatan tahun 1993 di outlet Lido yang baru diperbarui. Langkah itu dirancang untuk mendukung festival film serta pertunjukan khusus yang masih mengandalkan medium seluloid.

Menurut Christopher Shaw, Wakil Presiden Eksekutif Shaw Theatres, penayangan terakhir format 35mm di jaringan mereka terjadi lebih dari 13 tahun lalu, yakni drama sejarah Hyde Park On Hudson dengan bintang Bill Murray dan Laura Linney. Kehadiran kembali proyektor analog tersebut menandai babak baru bagi bisnis eksibisi yang selama satu dekade lebih bertransisi total ke proyeksi digital.

Alat yang direstorasi kini terpasang di dua ruang, yaitu Lido 1 dan Lumiere Grand. Kedua auditorium tersebut juga dilengkapi dengan proyeksi laser digital Barco 4K dan sistem suara keliling Dolby 7.1. Namun, khusus untuk The Odyssey versi 35mm, lokasinya dibatasi hanya di Lumiere Grand yang menyediakan pilihan tempat duduk recliner maupun sofa klasik.

Bagi penikmat film di Indonesia, kabar ini sekaligus menyoroti ketimpangan akses terhadap teknologi sinema analog. Mayoritas bioskop komersial di Tanah Air, baik jaringan Cinema XXI, CGV, maupun independen, telah beralih sepenuhnya ke proyeksi digital sejak awal 2010-an. Penggunaan proyektor 35mm kini hanya tersisa di lembaga konservasi seperti Sinematek Indonesia atau pemutaran sporadis yang dihelat komunitas film forum.

Padahal, sutradara kelas dunia seperti Nolan secara konsisten memperjuangkan estetika film seluloid. Komitmen tersebut mendorong sebagian rumah produksi dan eksibitor premium di luar negeri untuk merawat mesin tua. Di Indonesia, minimnya infrastruktur serta biaya perawatan proyektor analog menjadi penghalang utama, sementara distribusi film impor juga terikat sistem digital.

Revitalisasi format fisik di Singapura dapat menjadi cermin bagi pengelola bioskop lokal jika ingin menghadirkan diferensiasi pengalaman. Segmen penonton penggemar sinema arthouse dan kolektor sudah mulai tumbuh di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kendati demikian, tanpa dukungan regulasi dan investasi peralatan, momentum kebangkitan 35mm di Indonesia diprediksi tetap marginal.

Christopher Shaw menyebut kembalinya proyektor 35mm sebagai hal yang menguntungkan secara kebetulan. "Sangat beruntung bahwa pemutaran 35mm pertama kami justru menjadi blockbuster The Odyssey yang seluruhnya direkam menggunakan film. Lido adalah satu-satunya tempat di Asia Tenggara yang menayangkan karya ini di seluloid asli. Datanglah menonton, pengalaman yang hanya bisa didapat di bioskop," ujarnya.

Shaw Theatres juga memastikan keberlanjutan operasional perangkat analog tersebut. Beberapa anggota tim proyektor dan teknisi awal yang mahir menangani film 35mm masih berkarya di perusahaan. Di samping itu, staf baru tengah dilatih agar keterampilan mengoperasikan proyektor warisan itu tidak punah demi agenda pemutaran mendatang.

Untuk menyambut penayangan terbatas ini, Shaw menyiapkan program apresiasi. Setiap pembelian tiket format 35mm akan disertai cetakan poster seni A3, meski hanya tersedia 650 lembar. Sementara itu, transaksi minimal dua tiket IMAX untuk The Odyssey mendapatkan pin koleksi. Promosi serupa menunjukkan betapa eksklusifnya status medium fisik di era streaming.

Ke depan, langkah Shaw Theatres berpotensi memicu tren serupa di negara tetangga. Festival film internasional mungkin akan menjadikan Singapura sebagai destinasi wajib bagi kurator yang membawa kopi film analog. Di sisi industri, keberanian menonaktifkan dominasi digital membuka ruang dialog tentang pelestarian warisan teknologi sinema di tengah laju digitalisasi yang masif.

Mengapa Ini Penting

Kebangkitan proyektor 35mm di Singapura menunjukkan bahwa pasar Asia masih memiliki ceruk untuk pengalaman sinema premium di luar format digital. Bagi Indonesia, hal ini membuka wacana tentang perlunya konservasi alat teknologi perfilman warisan sebagai bagian dari identitas budaya pop. Tanpa investasi pada infrastruktur analog, produsen dan distributor lokal akan terus bergantung pada ekosistem digital asing. Tren ini juga dapat mendorong kolaborasi antara komunitas film independen dan institusi pendidikan untuk melestarikan keterampilan operasional proyektor seluloid.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit