Mantan penguasa Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, wafat pada usia 74 tahun. Ia dikenal luas sebagai arsitek modernisasi Qatar, mengubah negara Teluk yang kecil menjadi salah satu negara terkaya dan paling berpengaruh di dunia. Memulai pemerintahannya pada tahun 1995, Hamad yang karismatik dan ramah menggunakan kekayaan gas alam negara itu untuk mendorong agenda reformasi politik, ekonomi, dan sosial yang ambisius.
Di bawah kepemimpinannya, ekonomi Qatar mengalami ekspansi yang luar biasa. PDB negara tersebut meningkat lebih dari dua puluh empat kali lipat, sementara pengembangan Lapangan Gas North menjadikan Qatar sebagai pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia pada tahun 2006. Dalam waktu singkat, kapasitas produksi LNG Qatar mencapai 77 juta ton per tahun, menurut data pemerintah. Kekayaan dari energi tidak hanya meningkatkan standar hidup tetapi juga memungkinkan Qatar untuk berinvestasi pada infrastruktur manusia dan institusi.
Hamad mendirikan Qatar Foundation, meluncurkan saluran berita Al Jazeera pada tahun 1996, dan memperkenalkan konstitusi permanen pertama Qatar pada tahun 2004. Pemilihan umum tingkat municipal diperkenalkan, memberikan perempuan hak untuk memilih dan mencalonkan diri sebagai kandidat—a langkah progresif di wilayah tersebut. Pencapaian diplomatik yang paling menonjol adalah keberhasilan Qatar dalam menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, pertama kalinya negara Arab menyelenggarakan turnamen tersebut.
Pengaruh Hamad melampaui batas-batas Qatar. Selama bertahun-tahun, mediasi yang difasilitasi oleh negara tersebut membantu meredakan konflik di wilayah seperti Darfur, Sudan, faksi-faksi Lebanon yang berseteru, dan perpecahan antara Hamas dan Fatah di Palestina. Sebelum Hamad turun takhta, Qatar secara resmi membuka kantor untuk Taliban Afghanistan, yang kemudian menjadi landasan bagi perundingan antara Amerika Serikat dan Taliban yang berujung pada penarikan pasukan NATO dan AS dari Afghanistan pada tahun 2021.
Selama musim semi Arab, Qatar berada di garis depan dukungan untuk pemberontakan rakyat. Al Jazeera menyiarkan gambar protes anti-pemerintah dan pro-demokrasi di Mesir meskipun ada larangan penyiaran, sementara di Suriah mantan emir berusaha meyakinkan Presiden Bashar Al-Assad untuk mundur sebelum memutuskan hubungan dengan Damaskus setelah pembunuhan pengunjuk rasa. Di Libya, Qatar mendukung misi militer NATO yang berkontribusi pada penggulingan Muammar Gaddafi.
Namun, perjuangan Palestina selalu menjadi prioritas utama bagi Hamad. Salah satu kunjungan resmi terakhirnya adalah ketika ia menjadi kepala negara pertama yang mengunjungi Gaza dalam lebih dari satu dekade, menunjukkan solidaritas yang mendalam. Sebagai penghormatan atas dukungannya, beberapa kota di Gaza dan selatan Lebanon dinamai menurut namanya.
Transisi kepemimpinan di bawah Hamad juga menjadi sorotan. Dia turun takhta secara damai dan sukarela pada 25 Juni 2013, menyerahkan kekuasaan kepada putra mahkotanya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang saat itu berusia 33 tahun. Pengalihan kekuasaan yang hati-hati dan damai ini jarang terjadi di wilayah tersebut, dengan Hamad menyampaikan pesan tentang era baru kepemimpinan muda yang akan memimpin negara.
Warisan Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani terus membentuk lintasan Qatar dan geopolitik Teluk. Pendekatan inovatifnya dalam menggunakan sumber daya energi untuk membangun kekuatan lunak, mendirikan institusi media, dan bertindak sebagai mediator diplomatik telah menjadikan Qatar sebagai pemain global yang signifikan. Meninggalnya dia meninggalkan dampak yang akan terasa di seluruh wilayah dan komunitas internasional yang lebih luas selama bertahun-tahun mendatang.
Mengapa kematian Hamad penting bagi pembaca dan industri teknologi di Indonesia? Pertama, model pengembangan yang didorong oleh sumber daya alam yang ia terapkan menunjukkan bagaimana negara kecil dapat memanfaatkan kekayaan energi untuk mencapai kemandirian ekonomi dan pengaruh budaya. Kedua, pendirian Al Jazeera sebagai jaringan berita global memberikan inspirasi bagi upaya Indonesia untuk memperluas jangkauan media dan diplomasi publik. Terakhir, perannya sebagai mediator dalam konflik regional menyoroti pentingnya netralitas teknologi dan diplomasi digital, sebuah pelajaran berharga di era di mana platform teknologi semakin membentuk hubungan internasional.