Sekitar 1.800 pekerja pengendali hama di Singapura kini akan mendapat kenaikan upah berkelanjutan setelah pemerintah memperluas Model Upah Progresif ke sektor ini, kata mitra tripartit, Kamis (15/7). Perluasan ini mencakup pekerja penuh waktu maupun paruh waktu, serta teknisi pengendalian vektor berlisensi yang merupakan warga negara atau penduduk tetap Singapura.
Model Upah Progresif adalah struktur pengupahan yang dirancang untuk memberikan kenaikan gaji secara berkelanjutan dan proporsional terhadap peningkatan keterampilan serta produktivitas pekerja. Dalam model ini, pemberi kerja wajib membayar upah minimum sesuai tingkat pekerjaan dan memenuhi persyaratan pelatihan bagi pekerja yang memenuhi syarat. Saat ini, model tersebut sudah diterapkan di sektor pembersihan, keamanan, lansekap, lift dan eskalator, ritel, jasa makanan, serta pengelolaan sampah, ditambah dua pekerjaan lain, yaitu administrator dan pengemudi. Perluasan terakhir terjadi pada Juli 2023 untuk sektor pengelolaan sampah.
Untuk sektor pengendali hama, mitra tripartit membentuk kluster khusus guna merancang cara penerapan model upah tersebut. Pembentukan kluster ini diumumkan oleh Kementerian Tenaga Kerja, Kongres Serikat Pekerja Nasional (NTUC), dan Federasi Majikan Singapura dalam sebuah pernyataan bersama. Kluster ini tidak hanya akan mengembangkan model upah, tetapi juga meningkatkan profesionalisme dan citra industri, serta memantau kepatuhan dan dampaknya.
Ketua kluster, Dr Wan Rizal (direktur Institut Ketenagakerjaan dan Keterampilan NTUC), akan memimpin, sementara co-chairman adalah Kung Teong Wah, manajer umum dua hotel Parkroyal Collection. Dalam kunjungan ke perusahaan pengendali hama EcoSpace dan Servcare, para pejabat menekankan pentingnya pekerjaan ini bagi kesehatan masyarakat. Menteri Negara untuk Tenaga Kerja, Dinesh Vasu Dash, menyatakan bahwa perluasan ini mengakui keahlian dan peran penting pekerja pengendali hama dalam mencegah penyakit yang ditularkan oleh vektor.
Kluster tersebut diperkirakan membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk merumuskan Model Upah Progresif bagi sektor ini, termasuk mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan. Dinesh juga menyoroti penggunaan teknologi seperti drone dan sensor oleh perusahaan seperti EcoSpace. "Mereka dapat memperluas bisnis karena memiliki alat produktivitas yang membantu meraih pangsa pasar yang lebih besar," ujarnya. "Kami ingin menciptakan jenjang dan jalur karier bagi pekerja untuk naik ke posisi yang lebih baik, dengan pelatihan yang diperlukan."
Total sekitar 150.000 pekerja berpenghasilan rendah diharapkan akan merasakan manfaat dari Model Upah Progresif yang diperkenalkan sejak 2014. Dr Wan Rizal, yang juga anggota Parlemen Jalan Besar GRC, menekankan bahwa pekerjaan pengendali hama memerlukan keterampilan khusus, mulai dari mendeteksi aktivitas hama, menerapkan pengendalian, hingga menangani bahan kimia dengan aman untuk mengurangi risiko kesehatan publik. "Dalam lingkungan perkotaan yang padat, termasuk perumahan dan tempat usaha, pekerjaan ini sangat kritis dan menuntut," katanya.
Melvin Yong, asisten sekretaris jenderal NTUC dan anggota parlemen Radin Mas, menyebut langkah ini sebagai "langkah bermakna untuk meningkatkan standar industri dan memberikan upah, keterampilan, serta prospek karier yang lebih baik bagi pekerja". "Saya senang pekerja pengendali hama kini masuk dalam cakupan model ini. Pekerjaan mereka mungkin tidak terlihat, tetapi sangat penting bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan yang bersih dan aman," ujarnya.
Kung Teong Wah mengingatkan bahwa kluster harus mempertimbangkan realitas bisnis, seperti tekanan biaya, keterbatasan tenaga kerja, dan tingkat produktivitas. "Ini akan memungkinkan pemberi kerja mendukung progresi upah yang bermakna sambil tetap kompetitif dan memberikan layanan berkualitas," katanya.
President Singapore Pest Management Association, Clement Tan, menyatakan bahwa model ini akan membantu menciptakan lapangan bermain yang adil dan mendukung persaingan sehat di seluruh sektor. "Upaya kolektif ini akan berkontribusi dalam menarik talenta terampil dan meningkatkan standar profesional," ujarnya.
Dari sudut pandang Indonesia, sektor pengendalian hama masih didominasi oleh perusahaan kecil dan menengah dengan standar upah yang bervariasi. Meskipun teknologi seperti drone dan sensor mulai digunakan di negara-negara tetangga, adopsi di Indonesia masih terbatas karena biaya dan kesadaran. Perluasan model upah di Singapura dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk merancang kebijakan serupa yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga mendorong modernisasi industri melalui pelatihan dan penggunaan teknologi.
Ke depan, kluster di Singapura akan fokus pada penyusunan tiers dan jalur karier yang jelas, serta memastikan bahwa pelatihan yang diberikan relevan dengan kebutuhan industri. Di Indonesia, para pemangku kepentingan di sektor ini dapat mempelajari pendekatan tripartit Singapura untuk mengembangkan skema upah progresif yang sesuai dengan kondisi lokal, sehingga meningkatkan daya saing dan profesionalisme industri secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, perluasan ini menandai langkah penting dalam pengakuan terhadap pekerja pengendali hama sebagai profesi penting yang layak mendapat imbalan layak, keterampilan yang ditingkatkan, dan prospek karier yang jelas, sejalan dengan upaya Singapura untuk membangun tenaga kerja yang adaptif terhadap teknologi dan perubahan ekonomi.