Singapura dan Indonesia secara resmi menyepakati kerja sama strategis yang mencakup pengembangan kredit karbon serta fasilitasi perdagangan lintas batas bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Kesepakatan ini dicapai dalam rangkaian pertemuan pemimpin kedua negara di Istana Merdeka, Jakarta, yang bertujuan mempererat hubungan bilateral sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, lembaga pengelola dana abadi Indonesia, Danantara, menandatangani perjanjian penting dengan konsorsium perusahaan asal Singapura yang terdiri dari Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections. Kemitraan ini dirancang untuk menyusun peta jalan negosiasi yang konkret bagi proyek transmisi listrik lintas batas, yang diharapkan dapat menjadi pilar utama konektivitas energi di Asia Tenggara.
Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menegaskan keyakinan mendalam negaranya terhadap masa depan Indonesia. Menurutnya, keberhasilan Indonesia merupakan cerminan dari keberhasilan kawasan ASEAN secara keseluruhan. Investasi konsisten yang dilakukan Singapura selama bertahun-tahun menunjukkan komitmen jangka panjang untuk menciptakan peluang ekonomi baru yang lebih kompetitif bagi kedua negara.
Terkait isu lingkungan, kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai kredit karbon di bawah Pasal 6 Perjanjian Paris. Kesepakatan yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, serta Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat, ini menekankan pertukaran keahlian teknis dan identifikasi proyek karbon berintegritas tinggi untuk mempercepat aksi iklim global.
Di sektor energi, PM Wong menyoroti pentingnya diversifikasi energi sebagai langkah strategis di tengah ketidakpastian geopolitik global. Singapura berkomitmen untuk mendukung Indonesia dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan, termasuk kolaborasi dalam pembangunan proyek tenaga surya berskala besar di Morowali. Proyek ini dipandang sebagai model kerja sama saling menguntungkan yang akan mendukung kebutuhan industri lokal sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain kerja sama energi dan karbon, kedua negara berkomitmen untuk memperkuat ketahanan rantai pasok demi memitigasi dampak guncangan eksternal. Sinergi ini tidak hanya fokus pada skala makro, tetapi juga menyasar pemberdayaan UKM melalui kemudahan akses perdagangan lintas batas. Langkah ini diharapkan mampu mendorong partisipasi pelaku usaha lokal dalam pasar regional yang lebih luas dan terintegrasi.