Internasional

Singapura dan Jepang Jalin Kerja Sama Strategis di Bidang Antariksa

Singapura dan Jepang Jalin Kerja Sama Strategis di Bidang Antariksa

Ringkasan

  • Singapura dan Jepang resmi menandatangani perjanjian bilateral pertama di bidang antariksa untuk memperkuat teknologi, riset, dan kolaborasi industri.

Singapura dan Jepang resmi menjalin kemitraan strategis di sektor antariksa melalui penandatanganan Memorandum Kerja Sama (MoC) yang dilakukan pada Senin (6/7/2026). Kesepakatan ini menjadi tonggak sejarah sebagai perjanjian bilateral pertama antara badan antariksa kedua negara, menyusul komitmen yang sebelumnya telah disepakati oleh Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Penandatanganan dilakukan oleh Chief Executive National Space Agency of Singapore (NSAS), Ngiam Le Na, dan Presiden Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Dr. Hiroshi Yamakawa. Seremoni bersejarah ini berlangsung di sela-sela konferensi Spacetide 2026 yang diselenggarakan di Tokyo, sebuah ajang global yang mempertemukan para pemangku kepentingan utama di industri ruang angkasa.

Melalui nota kesepahaman ini, kedua lembaga sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam berbagai sektor krusial. Fokus utama kerja sama ini mencakup pengembangan teknologi dan aplikasi antariksa, sains dan eksplorasi ruang angkasa, pengembangan industri, sektor pendidikan, serta pertukaran kebijakan dan regulasi terkait tata kelola antariksa di masa depan.

Selain perjanjian antar-lembaga, kedua pihak juga melakukan pertukaran surat terkait kerja sama promosi industri melalui kerangka kerja Co-funded Business Promotion Framework (CBPF) milik JAXA. Dengan bergabungnya Singapura, negara tersebut kini menjadi mitra ketiga dalam kerangka kerja ini setelah Inggris dan Prancis, yang akan memfasilitasi kemitraan lebih dalam antara perusahaan swasta dari kedua negara.

Di sisi lain, sektor akademis juga turut terlibat dalam penguatan ekosistem ruang angkasa. Nanyang Technological University (NTU) Singapura menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan pengembang perangkat lunak asal Jepang, Fusic. Kemitraan ini ditujukan untuk mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung operasional satelit harian, penjadwalan misi, serta deteksi dini masalah teknis pada stasiun bumi.

NSAS, yang baru dibentuk pada April 2026, menegaskan bahwa kemitraan internasional merupakan kunci utama untuk membuka peluang dalam ekonomi ruang angkasa yang berkembang pesat. Ngiam Le Na menyatakan bahwa langkah ini akan menciptakan ekosistem antariksa yang kompetitif secara global, mendorong inovasi, dan mempercepat pertumbuhan industri di kawasan Asia.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi ini menunjukkan pergeseran ekonomi kawasan menuju sektor ruang angkasa yang semakin komersial dan berbasis teknologi tinggi. Bagi Indonesia, langkah ini menjadi referensi penting dalam mengembangkan kemitraan strategis serupa untuk memperkuat kedaulatan teknologi satelit dan efisiensi operasional misi antariksa di masa depan.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit