Otoritas Singapura secara resmi telah menyita sebuah properti mewah jenis Good Class Bungalow (GCB) yang ditaksir bernilai sekitar S$55 juta atau setara dengan US$42,4 juta. Selain properti tersebut, pihak kepolisian juga membekukan dana sebesar S$1 juta yang tersimpan di sejumlah rekening bank. Tindakan tegas ini diambil sebagai bagian dari penyelidikan intensif terhadap sebuah konspirasi penipuan skala besar yang melibatkan transaksi perangkat keras teknologi tinggi.
Kasus ini memiliki keterkaitan erat dengan peredaran chip Nvidia yang dilakukan secara ilegal, yang diduga melanggar kontrol ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Properti yang menjadi target penyitaan tersebut terletak di kawasan elit 12 Chee Hoon Avenue. Polisi telah mengeluarkan perintah larangan pemindahtanganan (prohibition of disposal order) terhadap aset properti tersebut guna memastikan aset tidak berpindah tangan selama proses hukum berlangsung.
Penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian Singapura telah menghasilkan penetapan dakwaan tambahan bagi empat orang individu yang diduga terlibat dalam jaringan ini. Tiga di antaranya adalah Aaron Woon Guo Jie, Alan Wei Zhaolun, dan seorang warga negara Tiongkok bernama Li Ming. Ketiganya secara resmi didakwa pada 27 Februari 2025 atas tuduhan penipuan melalui pernyataan palsu yang berkaitan dengan pembelian server skala besar.
Dalam dakwaan awal, Woon dan Wei dituduh melakukan konspirasi kriminal untuk menipu pemasok server ternama, yakni Dell dan Super Micro. Nilai transaksi yang terlibat dalam skema penipuan ini diperkirakan mencapai US$250 juta. Selain tuduhan penipuan, Wei juga menghadapi dua dakwaan terkait tindak pidana pencucian uang, sementara Woon dikenakan satu dakwaan serupa.
Hasil investigasi lebih lanjut mengungkap modus operandi yang dijalankan oleh Li Ming. Ia diduga memberikan pernyataan palsu mengenai perusahaannya, Luxuriate Your Life. Li mengklaim bahwa perusahaannya akan menyimpan dan menyewakan server yang dibeli dari Super Micro kepada pihak lain, padahal server tersebut ditujukan untuk tujuan yang tidak sah di bawah kendali kontrol ekspor yang ketat.
Kasus ini menyoroti bagaimana celah dalam rantai pasok teknologi global dapat dimanfaatkan untuk menghindari sanksi internasional. Pemerintah Singapura menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan wilayahnya dijadikan tempat pencucian uang atau pusat kegiatan ilegal yang melibatkan komoditas strategis seperti chip kecerdasan buatan, yang saat ini menjadi komoditas paling dicari di pasar global.