Bisnis & Startup

Singtel Potong Gaji CEO Akibat Gangguan Jaringan yang Berulang

Singtel Potong Gaji CEO Akibat Gangguan Jaringan yang Berulang

Ringkasan

  • Singtel memotong gaji CEO Yuen Kuan Moon sebesar 16,9 persen sebagai konsekuensi atas gangguan jaringan yang terjadi pada anak perusahaan Optus dan layanan lokal.

Singtel, perusahaan telekomunikasi terbesar sekaligus tertua di Singapura, mengambil langkah tegas terhadap jajaran eksekutifnya. Yuen Kuan Moon, selaku Chief Executive Officer (CEO) Singtel, dilaporkan mengalami pemotongan gaji yang signifikan untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret lalu. Langkah ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban atas serangkaian gangguan teknis yang sempat mencoreng rekam jejak operasional perusahaan.

Berdasarkan laporan tahunan yang dirilis baru-baru ini, pendapatan Yuen Kuan Moon tercatat sebesar 6,8 juta dolar Singapura atau sekitar 5,3 juta dolar AS. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 16,9 persen jika dibandingkan dengan kompensasi tahun sebelumnya yang mencapai 8,2 juta dolar Singapura. Keputusan ini mencerminkan komitmen dewan direksi perusahaan dalam menegakkan akuntabilitas di tingkat pimpinan tertinggi.

Hal menarik dari kebijakan ini adalah pemotongan gaji dilakukan di tengah performa keuangan perusahaan yang justru sedang melesat. Singtel mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 39,5 persen menjadi 5,6 miliar dolar Singapura, sementara laba bersih dasar tumbuh sebesar 12 persen menjadi 2,8 miliar dolar Singapura. Kontras antara pertumbuhan laba dan penurunan gaji CEO ini menegaskan bahwa perusahaan memprioritaskan kualitas layanan di atas pencapaian finansial semata.

Manajemen Singtel secara terbuka menyatakan bahwa pengurangan remunerasi tersebut merupakan respons langsung terhadap masalah operasional dan reputasi yang material. Isu utama yang menjadi sorotan dewan direksi adalah serangkaian gangguan jaringan yang terjadi pada anak perusahaan mereka di Australia, Optus, serta beberapa gangguan layanan di Singapura yang sempat meresahkan pelanggan.

Salah satu insiden yang memicu keputusan ini adalah kegagalan jaringan masif di Optus yang dikenal dengan insiden 'triple zero' pada September tahun lalu. Gangguan tersebut berlangsung selama 14 jam dan menyebabkan ratusan panggilan darurat di seluruh Australia tidak dapat terhubung. Dampak dari insiden ini tidak hanya merugikan pengguna secara teknis, namun juga menimbulkan krisis kepercayaan yang serius bagi publik Australia.

Dewan direksi Singtel menegaskan bahwa mereka telah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kegagalan jaringan lokal dan insiden di Australia, dalam menentukan hasil remunerasi yang tepat bagi CEO grup. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menjaga standar layanan telekomunikasi yang krusial bagi masyarakat, sekaligus memastikan bahwa pimpinan perusahaan bertanggung jawab penuh atas stabilitas infrastruktur yang dikelola.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri telekomunikasi di Indonesia mengenai pentingnya akuntabilitas pimpinan dalam menjaga keandalan infrastruktur kritis. Di tengah ketergantungan masyarakat pada konektivitas digital, langkah ini menyoroti bahwa reputasi dan stabilitas layanan harus disejajarkan dengan target profitabilitas perusahaan.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit