Bisnis & Startup

IHSG Ditutup Menguat, Mengekor Tren Positif Bursa Asia

IHSG Ditutup Menguat, Mengekor Tren Positif Bursa Asia

Ringkasan

  • IHSG ditutup menguat 0,92 persen ke posisi 5.695,12 mengikuti tren positif bursa Asia di tengah tantangan ekonomi domestik dan global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Rabu sore. Indeks ditutup naik 51,93 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,12. Pergerakan positif ini sejalan dengan tren penguatan yang terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia. Kelompok 45 saham unggulan, indeks LQ45, turut mencatatkan kenaikan sebesar 3,64 poin atau 0,66 persen ke posisi 556,75.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyatakan bahwa sentimen positif dari bursa regional Asia menjadi penopang utama IHSG. Selain faktor eksternal tersebut, pelaku pasar saat ini tengah mencermati perkembangan geopolitik, khususnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun perundingan di Doha, Qatar, belum menghasilkan terobosan besar, pasar tetap menaruh perhatian pada dinamika dialog perdamaian yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, pasar global dibayangi oleh sentimen kenaikan suku bunga acuan The Fed. Spekulasi mengenai kebijakan moneter bank sentral AS ini semakin menguat menjelang rilis data tenaga kerja yang dijadwalkan pada Kamis (2/7). Ketidakpastian kebijakan moneter global ini menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak investor dalam menentukan posisi di pasar saham.

Dalam negeri, performa IHSG tetap resilien meski diterpa berbagai data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan. Salah satu sorotan utama adalah kontraksi pada sektor manufaktur, di mana Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Global S&P Indonesia turun drastis ke level 46,9 pada Juni 2026 dari sebelumnya 50,0 pada bulan Mei. Angka ini merupakan posisi terendah sejak Juni 2025 dan mengonfirmasi fase kontraksi sektor tersebut.

Tekanan ekonomi juga datang dari data inflasi dan neraca perdagangan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 0,44 persen secara bulanan (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen (yoy), yang dipicu oleh siklus musiman dan kenaikan harga bahan bakar minyak. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS, sebuah kondisi defisit pertama yang dialami dalam enam tahun terakhir.

Menanggapi kondisi tersebut, Maximilianus Nicodemus menilai bahwa upaya Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan belum sepenuhnya efektif dalam meredam tekanan inflasi. Ke depan, peran aktif Bank Indonesia sangat krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan laju inflasi agar tidak semakin membebani daya beli masyarakat maupun kinerja emiten di pasar modal.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting bagi investor karena menunjukkan ketahanan pasar saham Indonesia di tengah data manufaktur yang terkontraksi dan defisit neraca perdagangan. Analisis ini memberikan gambaran bagaimana kebijakan moneter global dan domestik saling berinteraksi dalam menentukan arah investasi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit