Bisnis & Startup

Yen Terpuruk ke Level Terendah 40 Tahun di Tengah Penguatan Dolar AS

Yen Terpuruk ke Level Terendah 40 Tahun di Tengah Penguatan Dolar AS

Ringkasan

  • Yen Jepang anjlok ke level terendah dalam empat dekade akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, memicu spekulasi intervensi pasar.

Mata uang yen Jepang kembali mencatatkan rekor terendah dalam 40 tahun terakhir terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu. Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang terus menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan krusial yang dapat memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve bulan ini.

Dolar AS sempat menyentuh level 162,84 yen, jauh melampaui ambang batas yang memicu intervensi otoritas Jepang beberapa pekan lalu. Meskipun sempat terkoreksi tipis, posisi yen tetap rentan di level 162,68. Para analis pasar kini menyoroti potensi intervensi lanjutan dari Kementerian Keuangan Jepang untuk menjaga kredibilitas mata uang mereka di pasar global.

Chidu Narayanan, kepala strategi makro APAC di Wells Fargo, menyatakan bahwa pasar saat ini berada pada titik krusial. Menurutnya, otoritas Jepang mungkin tidak menargetkan level kurs tertentu, namun mereka perlu segera bertindak untuk mencegah spekulasi berlebihan yang dapat merusak stabilitas ekonomi domestik Jepang dalam jangka panjang.

Sementara itu, diplomat mata uang senior Jepang, Atsushi Mimura, menegaskan bahwa intervensi yang dilakukan dua bulan lalu terbukti efektif. Laporan menyebutkan bahwa beberapa pejabat AS menunjukkan sikap mendukung langkah Tokyo tersebut. Namun, HSBC menilai Kementerian Keuangan Jepang saat ini tampak lebih toleran terhadap pelemahan yen dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga menekan mata uang utama lainnya. Euro melemah setelah data inflasi zona euro menunjukkan penurunan yang lebih besar dari perkiraan, yang mengurangi tekanan bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga. Indeks dolar secara keseluruhan tetap stabil, didukung oleh aksi jual obligasi AS yang mendorong imbal hasil tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,465 persen.

Pasar kini memusatkan perhatian pada laporan non-farm payrolls AS yang akan dirilis hari Kamis. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan September telah melonjak menjadi 67 persen. Ketidakpastian arah kebijakan moneter ini terus menjadi katalis utama volatilitas di pasar keuangan internasional selama pekan ini.

Mengapa Ini Penting

Pelemahan yen yang drastis berdampak langsung pada daya saing ekspor Jepang dan stabilitas rantai pasok global yang melibatkan perusahaan Indonesia. Selain itu, fluktuasi tajam dolar AS memengaruhi biaya impor komoditas dan beban utang luar negeri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada pergerakan mata uang global.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit