Bisnis & Startup

Siti Fauziah: Kurasi Produk dan Digitalisasi Kunci UMKM Naik Kelas

Ringkasan

  • Plt Sekjen MPR RI Siti Fauziah mendorong pelaku UMKM meningkatkan daya saing melalui kurasi produk, legalitas, dan pemasaran digital di Pasar Jadoel Reborn.

UMKM telah lama diakui sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, menyumbang lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Oleh karena itu, upaya untuk terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah agar mampu naik kelas menjadi kebutuhan strategis yang tidak boleh tertunda. Dalam konteks ini, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menegaskan bahwa peningkatan kualitas produk melalui berbagai intervensi menjadi kunci utama daya saing.

Pernyataan tersebut disampaikan Siti Fauziah di Jakarta, Minggu, menanggapi pentingnya penguatan kapasitas UMKM secara berkelanjutan. Menurutnya, sektor tersebut tidak hanya berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat dari tingkat desa hingga kota. Produk UMKM harus memiliki kualitas yang baik, dilengkapi dengan legalitas yang jelas, kemasan yang menarik, branding yang kuat, serta memanfaatkan pemasaran digital agar dapat bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

Siti menyampaikan pandangannya saat menghadiri kegiatan pembinaan dan kurasi produk ekonomi kreatif menuju peluncuran Pasar Jadoel Reborn Sapta Tirta Pabelan di Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (11/7). Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata bagaimana kurasi produk dapat menjadi filter kualitas sekaligus ajang edukasi bagi pelaku usaha lokal. Dengan kurasi yang ketat, produk yang dihasilkan diharapkan mampu memenuhi standar konsumen modern yang semakin kritis terhadap aspek keaslian dan keberlanjutan.

Pasar Jadoel Reborn Sapta Tirta Pabelan dinilai Siti memiliki konsep yang sangat baik karena memadukan budaya, pariwisata, dan ekonomi rakyat dalam satu kawasan terintegrasi. Model pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat seperti ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi juga menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa. Semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh berbagai pihak menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun ekosistem usaha yang tangguh.

Lebih lanjut, Siti Fauziah mengapresiasi kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas ekonomi kreatif, dunia usaha, dan masyarakat dalam mempersiapkan peluncuran Pasar Jadoel Reborn. Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa penguatan ekonomi kerakyatan membutuhkan keterlibatan multipihak, bukan sekadar intervensi dari satu lembaga. Kolaborasi ini juga membuka peluang perluasan jaringan pemasaran serta akses permodalan bagi usaha kecil yang selama ini terkendala birokrasi.

Ketua Umum Paguyuban Pasar Jadoel Reborn Sapta Tirta Pabelan Yonatan Liliek Prihartanto menyatakan bahwa pembinaan dan kurasi produk merupakan langkah awal yang krusial untuk memperkuat kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya sekaligus pusat ekonomi kreatif. Ia mengucapkan terima kasih kepada Plt Sekjen MPR RI dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan secara moril maupun material. Harapannya, penguatan kolaborasi dapat membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Dari perspektif makro, kurasi produk yang dilakukan terhadap UMKM sejatinya merupakan respons atas tantangan globalisasi dan pasar bebas yang menuntut standar tinggi. Tanpa legalitas seperti sertifikasi halal, hak kekayaan intelektual, atau izin usaha, pelaku mikro akan kesulitan menembus rantai pasok formal dan ekspor. Oleh sebab itu, pendampingan dalam hal perizinan dan branding menjadi investasi jangka panjang yang dapat melipatgandakan nilai jual produk lokal.

Aspek pemasaran digital juga menjadi sorotan penting karena transformasi teknologi telah mengubah perilaku konsumen secara drastis. UMKM yang memanfaatkan platform e-commerce, media sosial, hingga analitik data akan memiliki jangkauan pasar yang jauh lebih luas dibandingkan metode konvensional. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha kecil yang belum tersentuh literasi digital, sehingga program kurasi dan pelatihan seperti di Karanganyar perlu diperbanyak di berbagai daerah.

Pengembangan Pasar Jadoel Reborn dapat menjadi prototipe bagi daerah lain dalam mengintegrasikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan mengangkat potensi lokal seperti kuliner tradisional, kerajinan, dan seni pertunjukan, kawasan serupa dapat menciptakan multiplier effect bagi kesejahteraan masyarakat. Pemerintah pusat dan daerah tinggal mereplikasi formulasi sinergi yang telah berjalan untuk mempercepat pemulihan ekonomi inklusif pasca tantangan global.

Menutup rangkaian pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dorongan Siti Fauziah terhadap kurasi produk UMKM bukan sekadar ajakan normatif, melainkan strategi konkret untuk membangun ketahanan ekonomi nasional. UMKM yang telah dikurasi dan dibina dengan baik akan lebih siap menghadapi persaingan regional seperti pasar ASEAN maupun rantai pasok internasional. Keberhasilan model di Karanganyar diharapkan menginspirasi kebangkitan pasar rakyat di seluruh Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Penguatan kurasi dan pemasaran digital UMKM memiliki implikasi langsung terhadap adopsi teknologi lokal, termasuk platform e-commerce dan solusi analitik bagi usaha mikro. Bagi industri teknologi Indonesia, kolaborasi semacam ini membuka peluang pengembangan tools kurasi otomatis dan sistem rekomendasi yang terjangkau untuk pelaku usaha kecil. Ekosistem digital yang inklusif akan mempercepat transformasi bisnis tradisional menjadi data-driven sehingga meningkatkan daya saing global. Model pemberdayaan berbasis komunitas seperti Pasar Jadoel Reborn juga dapat menjadi blueprint implementasi smart city yang mengutamakan ekonomi rakyat.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit